Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

#WriterChallenge ~ Perjodohan

“Pia, kenalkan, ini Ichsan. Calon suami kamu,” Bapak menatapku ketika mengucapkan kata “calon suami” dengan tegas. Aku mengangguk. Tersenyum. Terpaksa. Lalu mengulurkan tangan, menyambut sebuah tangan yang sedang menggantung.

“Pia,” ujarku pelan

“Ichsan”, balasnya.

Lalu, kemudian pembicaraan hanya didominasi oleh Bapak. Dan ketika Bapak meninggalkan kami berdua di ruang tamu untuk menerima panggilan telepon, aku hanya bisa diam. Menyusuri pinggiran kemejaku. Dan dia, yang sedang duduk didepanku hanya mengamatiku, seolah-olah menimbang apakah aku ini pantas menjadi istrinya nanti.

Bapak memiliki sebuah bengkel yang cukup besar, dan Ichsan adalah pemilik showroom mobil baru dan bekas yang sering berhubungan dengan bengkel Bapak. Dan bukan tanpa sebab Bapak menjodohkan aku dengan salah satu pelanggannya.

Semuanya berawal dari sebulan yang lalu. Ketika aku memperkenalkan Bapak dengan Pram, pacarku selama setahun yang berprofesi sebagai seorang dosen. Pram yang memaksaku untuk mengakhiri hubungan backstreet ini dengan memberanikan diri menemui Bapak. Pram merasa, setahun waktu yang cukup untuk kami saling mengenal, dan dia bermaksud untuk menyampaikan keinginannya untuk meminangku.

Perbincangan dua jam dengan Bapak, untuk mencari tau siapa Pram dan bagaimana keluarganya, akhirnya membuat Bapak mengambil keputusan untuk menolak lamarannya. Bapak merasa, pekerjaannya sebagai Dosen tak akan bisa memenuhi kehidupanku nanti. Padahal, aku sudah menjelaskan, bahwa Pram juga memiliki usaha lain, tak hanya bergatung pada gajinya sebagai dosen. Tapi, keputusan Bapaklah yang harus dituruti. Seperti raja. Dengan berat hati aku harus berpisah dengan Pram. Meski sebenarnya dia tak pernah menyetujuinya.

Dan akhirnya, aku memang harus bertemu dengan Ichsan. Menurut Bapak, Ichsan lah yang paling tepat menjadi suamiku. Kaya, mapan, tampan. Baik? Entah. Aku baru kali ini bertemu dengannya. Panjang lebar Bapak berucap tentang perjodohan. Bahwa cinta bisa tumbuh karena kebersamaan. Seperti itu pula yang terjadi pada Bapak dan almarhumah Ibu. Mereka menikah karena dijodohkan, dan mampu bertahan hingga 24 tahun pernikahan, ketika Ibu meninggal dunia. Tapi Bapak mengabaikan perjodohan yang dilakukannya pada Mbak Reiny. Pernikahan yang dijodohkan itu hanya bertahan dua bulan. Berakhir dengan perceraian, dan kemudian Mbak Reiny memutuskan untuk kembali lagi pada mantan pacarnya, seorang bule Austria, dan sekarang hidup bahagia disana.

Mbak Reiny akhirnya melawan, walaupun sebelumnya menuruti keinginan Bapak. Ironisnya, bukan hanya mantan suaminya tak pernah mencintai Mbak Reiny, tapi juga tak pernah bisa mencintai perempuan. Itu sebabnya, dengan kemarahan yang tersisa, Mbak Reiny memaksa Bapak untuk menikahkannya dengan Terrance Amadeus, suaminya yang sekarang.

Tapi aku, tak memiliki keberanian seperti Mbak Reiny. Yang memang sejak awal menentang keinginan Bapak. Hanya karena Ibu yang mendadak anfal, akhirnya Mbak Reiny berhenti bertengkar dengan Bapak dan menuruti keinginannya untuk menikah dengan pilihan Bapak. Aku masih berhubungan dengan Pram, tapi tak berani lagi menyebut namanya didepan Bapak. Terlebih lagi setelah aku diperkenalkan dengan Ichsan.

“Kamu ini bego atau tolol sih, Pia? Calon Master kok nggak bisa mengambil pelajaran dari aku. Kakakmu sendiri,”omel Mbak Reiny ketika akhirnya dia tau rencana Bapak. Setelah kemarahannya yang habis-habisan tak ditanggapi oleh Bapak, akhirnya Mbak Reiny mengintervensiku untuk menolak keinginan Bapak.

“Mbak, aku Cuma ingin menuruti kata-kata orang tua. Bukan mau bertindak bodoh. Apa aku salah?” tanyaku, mencoba meredakan amarahnya.

“Trus, kalau nanti nasibmu seperti aku dulu, apa bukan bodoh itu namanya?”

“Mbak, aku ikhlas. Apapun yang terjadi. Cuma tinggal Bapak orang tua kita. Satu-satunya. Biarlah aku menuruti keinginannya.”

“Itu bukan ikhlas, itu tolol, Pia. Lalu, Pram mau aja gitu, kamu putusin?”

Aku menggeleng, meski tau Mbak Reiny tak akan melihatnya. Lalu menghela nafas.

“Terima atau nggak, rencana pernikahanku udah diatur Bapak, Mbak. Aku harap Mbak dan Terrance bisa menghadirinya,” ucapku akhirnya. Lama Mbak Reiny terdiam, hingga akhirnya sambungan terputus.

Tahun 2012, calon master, Project Manager di sebuah konsultan Sistem Informasi, tapi masih dijodohkan. Entahlah. Sebut saja aku pengecut, tak mampu memperjuangkan cinta. Sebut saja aku bodoh, tak mampu berargumen dengan Bapakku, orang jaman dulu yang masih berpikiran kolot. Aku terima, apapun sebutan itu semua. Aku hanya ingin berbakti pada orang tua tunggal yang membesarkanku dengan perasaan yang tak mampu dia ungkapkan, hanya karena dia laki-laki. Aku hanya ingin mengabdi padanya, di sisa umurnya. Jika pun itu salah dimata sebagian orang, aku hanya ingin benar dihadapan Tuhan.

Jika akhirnya nanti perjodohan ini akan berakhir seperti pernikahan pertama kakakku, atau bahkan lebih buruk lagi, aku ikhlas. Aku akan menerima ini sebagai takdirku. Aku akan belajar memupuk cinta, menerima apapun yang ditakdirkan Tuhan dan diinginkan Bapak. Aku tak ingin melawan keinginan orang yang aku cintai. Jika akhirnya pernikahan itu tak pernah berisi cinta, maka aku bisa mencurahkan cintaku pada, mungkin anak yang kelak aku lahirkan, meski tanpa cinta.

Dengan menyebut nama Tuhan, aku menerima permintaan Bapak untuk menikah dengan laki-laki pilihannya. Apapun yang kelak terjadi, terjadilah. Dan cerita ini pun, baru dimulai.

 

Tulisan ini untuk mengikuti #WriterChallenge dengan tema #1 ~ Ketulusan

Iklan

8 responses to “#WriterChallenge ~ Perjodohan

  1. desty 15 Agustus 2012 pukul 9:29 pm

    keren!
    sudut pandang yang “tidak biasa” mengenai perjodohan.

  2. Teguh Puja 15 Agustus 2012 pukul 9:38 pm

    Menarik! Kekayaan bacaan kamu dan eksekusinya di tulisan bagus banget. 😀

    • weirdaft 15 Agustus 2012 pukul 9:42 pm

      terima kasih. writer challenge ini mau nggak mau bikin aku belajar lebih banyak lagi, atau terjebak pada tema yg itu2 aja 🙂

      • Teguh Puja 15 Agustus 2012 pukul 9:44 pm

        Tema mungkin bisa sama, tapi eksekusi dan pengemasan tema-nya selalu bisa lebih dari satu bentuk. 😀

        Seneng kalo lihat temen2 terdekat menulis sangat produktif. Belajar banyak jadinya. 😀

      • weirdaft 15 Agustus 2012 pukul 9:45 pm

        woogghh.. aku yg terima kasih.kalian mau meluangkan waktu bikin writer challenge, cuma supaya yang lain bisa belajar nulis lebih baik lagi. thumbs up buat kalian bertiga 😀

  3. Nich 15 Agustus 2012 pukul 11:19 pm

    Niat buat selalu nyiapin update untuk blog, bagus!
    Ceritanya juga, emang udah pas buat diasah terus untuk menelurkan buku sendiri, kak 😀

    • weirdaft 15 Agustus 2012 pukul 11:50 pm

      amiinn… untuk sementara biarlah untuk niat update blog dulu.biar gak banyak kali sarang laba2.kalo nanti bisa nerbitin buku, anggap bonus aja, Nich 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: