Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

#WriterChallenge ~ Surat Untuk Ayah

Mengenalmu, hampir seumur hidupku. Engkau adalah salah satu pria sempurna, menurutku. Selain Baginda Rasul dan para khalifahnya. Jika mereka menganggapku berlebihan, tak mengapa. Aku yang mengerti bagaimana perjuanganmu, untuk membentuk seorang aku.

Jika kelak seseorang berani mengambil hak atasku dari engkau, Ayah, dia haruslah seseorang yang paling tidak memiliki sedikit saja sifatmu. Kita memang tak terlalu dekat, seperti seharusnya seorang Ayah dan putrinya. Tapi aku mengerti, bahwa engkau mencintaiku.

Jika pengorbanan adalah cinta, maka tak terhingga cinta yang engkau punya untukku. Memiliki aku sebagai anakmu, pasti tak mudah. Sifat pemberontak yang aku punya, entah aku dapat dari mana. Tapi akhirnya, seiring dewasanya aku, semakin menyadari bahwa kita ternyata memiliki sifat yang mirip. Ketidaksabaran, keras tetapi bisa melembut jika ada sesuatu yang menyentuh hati. Dan satu yang paling aku suka, menjadi anakmu, bahwa engkau tak melulu memberi nasehat, tapi selalu menunjukkan dengan melakukan apa yang seharusnya dilakukan untuk menjadi manusia yang baik dan berguna.

Engkau tak pernah ribut menyuruhku untuk beribadah, tapi senantiasa engkau tak pernah melupakan tugasmu sebagai seorang hamba Tuhan. Engkau tak pernah memaksa kami untuk belajar, tapi senantiasa engkau penuhi apa yang kami butuhkan untuk meraih apa yang kami inginkan. Tak pernah sekalipun engkau memaksa kami untuk memilih yang hanya sesuai dengan kehendakmu, karena engkau pernah bilang bahwa apapun yang kami pilih, itulah yang akan menentukan masa depan kami. Tapi satu yang kami tau, Ayah, bahwa engkau lebih memilih untuk menyekolahkan kami setinggi mungkin, sesuai kemampuanmu, daripada mengumpulkan harta yang pasti akan habis. Engkau bilang, bahwa meninggalkan ilmu, jauh lebih bermanfaat dari pada meninggalkan harta.

Sebagai laki-laki, engkau memang tak pernah menunjukkan perasaanmu yang sebenarnya. Ingatkah Ayah, ketika hari disaat abang akan ijab kabul ? Engkau menghilang  beberapa menit. Dan ketika akhirnya engkau muncul, keluar dari kamar, matamu merah. Engkau menangis Ayah, karena tak ada Emak yang mendampingi abang pada saat terpentingnya. Dan tak ada perempuan tercinta yang mendampingimu, ketika salah satu anakmu melepaskan diri untuk menjadi laki-laki seutuhnya.

Apalagi yang harus aku katakan tentang engkau, Ayah ? Engkau laki-laki terbaik yang Tuhan ciptakan. Dan jutaan kali pun tak akan cukup untukku bersyukur bahwa aku dititipkan padamu.

Tapi Ayah, kelak jika seseorang itu berani menghadapmu dengan seluruh kekuatan yang dia punya, aku mohon, sedikit berbaikhatilah. Mungkin dia tak sesempurna engkau, tapi aku yakin bahwa dia akan berusaha untuk membahagiakanku, seperti apa yang telah engkau lakukan disepanjang hidupku. Jika kelak seseorang itu akhirnya mengambil hak atasku darimu, Ayah, percayalah, bahwa engkau tetap akan menjadi lelaki terbaik dalam hidupku.

Mencintaimu selalu,

Aku

Tulisan hari ke #2 di #WriterChallenge dengan tema Ayah

Iklan

7 responses to “#WriterChallenge ~ Surat Untuk Ayah

  1. Teguh Puja 16 Agustus 2012 pukul 11:33 pm

    Surat yang sangat indah dan menyentuh, :’)

  2. Bellanissa Brilia Zoditama 17 Agustus 2012 pukul 2:49 am

    ah, setelah membaca surat ini aku jadi membayangkan pernikahanku nanti. siapa yang menjadi walinya? suratnya bagus kak wirda… :’)

    • weirdaft 17 Agustus 2012 pukul 11:03 pm

      :”)
      Makasih, Bel.semoga saat nanti waktunya tiba, ayahku yg menyerahkannya. mungkin pamanmu, Bel yang akan menjadi wali nanti :’)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: