Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

#WriterChallenge ~ Kata Maaf

Deany cuma bisa tertegun menatap kata demi kata layar ponselnya.

“Dean, pulang segera. Ibu sedang sakit. Rianti.”

Entah dari mana kakaknya tau nomer ponselnya. Padahal Deany sudah berusaha untuk tidak pernah lagi berhubungan dengan orang-orang yang berasal dari masa lalunya. Termasuk keluarganya. Dan utamanya, keluarganya, orang-orang yang tak pernah ingin dia temui lagi.

Terdengar suara bayinya menangis. Tergesa Deany meletakkan ponselnya diatas meja, lalu beranjak ke kamar. Lalu meninabobokkan lagi, bayinya yang tersentak karena teriakan tukang sayur dari luar. Perlahan kemudian membaringkan kembali bayinya yang berusia empat bulan.

Ingat kembali kejadian 8 tahun silam, ketika pertengkaran besar antara Deany dan ibunya karena Deany lebih memilih Rery yang hanya seorang pegawai swasta ketimbang laki-laki yang dijodohkan ibunya. Seorang Pegawai Negeri dengan jabatan basah di Departemen yang juga basah. Berkeras Deany mempertahankan Rery yang dianggap ibunya tak mempunyai masa depan, daripada laki-laki yang dipastikan akan mampu memenuhi apapun keinginan Deany. Apapun.

Ketika akhirnya tak ada kata sepakat, Deany memilih untuk meninggalkan rumah. Kawin lari. Hal yang benar-benar membuat ibunya murka. Karena Deany lebih memilih Rery yang bukan siapa-siapa ketimbang pilihan ibunya.

Orang bilang, cucu akan menjadi perekat bagi hubungan yang sempat retak antara orang tuan dan anak, ketika terjadi perselisihan. Maka, ketika anak pertama Deany lahir,  dua tahun setelah Deany dan Rery menikah, mereka pulang. Kembali ke rumah ibunya. Memperkenalakan Kemala, anak perempuan cantik yang saat itu baru berusia setahun. Usia dimana seorang balita sedang lucu-lucunya. Tapi, tak seperti yang dikatakan orang-orang. Kemala kecil tak berarti apa-apa bagi neneknya. Bukannya berbahagia dengan kehadiran cucu pertamanya, tapi justru membuat ibunya semakin murka.

“Jangan pernah kamu pulang lagi ke rumah ini!! Bawa pergi anakmu dari laki-laki miskin itu!! Ibu tak sudi punya cucu dari dia!!”

Masih teringat dengan jelas setiap kata-kata ibunya. Didepan pintu rumahnya. Bahkan Deany tak sempat masuk ke rumah. Mereka menjadi tontonan orang-orang, dan Deany langsung mendapat julukan anak durhaka, dari orang-orang yang justru tak pernah mengetahui apa yang terjadi.

Sekarang, 8 tahun berlalu. Kemala kecil sudah kelas 3 SD. Anak pintar, persis mamanya yang selalu berprestasi di sekolah. Dan Kemala pun sudah memiliki adik laki-laki yang lucu. Sejak diusir dari rumahnya, Deany tak pernah lagi berpikir untuk pulang. Rumahnya adalah Rery, Kemala dan Terry. Keluarga kecilnya yang akan dia jaga sampai kapanpun. Bahkan dengan nyawanya sekalipun. Tak akan dia biarkan siapapun menyakiti mereka. Termasuk ibunya.

Tapi, pesan singkat dari kakaknya tak urung membuatnya gundah. Ibunya sakit. Perempuan kuat itu sekarang pasti sedang tergolek lemas. Kecewa dan amarah yang dia simpan bertahun-tahun, apakah masih bertahan? Pertanyaan itu bergulir di benaknya. Bagaimana jika akhirnya mereka diusir lagi? Bagaimana jika Deany yang dikecewakan lagi, dengan amarah ibunya?

“Dean, lusa kita pulang.” Rery akhirnya mengetahui apa yang terjadi, setelah seminggu Deany menerima pesan singkat kakaknya.
“Tapi, mas. Kamu kan tau, bagaimana perlakuan ibu dulu. Bagaimana kalau kita diusir lagi?”
“Bagaimanapun, ibu tetap orang tua kita. Diusir berapa kali pun, kita tetap harus kembali lagi. Kita yang melakukan kesalahan. Maka, kita yang harus meminta maaf. Sms kak Rianti. Bilang, lusa kita pulang. Aku sudah pesan tiket untuk kita pulang.” Putus Rery akhirnya.

Lama Deany terdiam, memandang wajah teduh suaminya yang sangat dicintainya. Tak lama ponselnya berbunyi. Nomor tak dikenal memanggil.

“Halo…” ucapnya ragu.
“Dean, ini ibu. Pulang lah, nak. Ibu memaafkan kalian…”

 

Tulisan ini untuk #WriterChallenge hari ke #5 dengan tema ~ Maaf

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: