Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

#WriterChallenge ~ Percaya

“Kau tau, ada 3 hal didunia ini yang mampu membuat dunia ini berputar meski banyak badai yang mengelilinginya, menurut ibuku,” Tia memandang lurus pada mata lawan bicaranya.

“Cinta, kesetiaan dan rasa percaya,” lanjutnya lagi, ketika sosok didepannya tak bergeming. Tia menyebutkan kata demi kata dengan rasa percaya diri yang besar. Lawan bicaranya sejenak terdiam, lalu tertawa dengan sekeras-kerasnya. Sepertinya dia belum pernah mendengar sesuatu yang lebih lucu dari ini.

“Hey,” seru Tia, lalu memukul Farro, lawan bicaranya dengan kekuatan yang cukup membuat tangannya sakit. Tapi berhasil menghentikan tawa Farro. Sekarang dia meringis, mengelus pundaknya, tapi masih menyimpan tawa dalam senyumnya.

“Aku nggak sedang becanda, Farro. Itu nasehat ibuku. Berani sekali kau mentertawakan ibuku!” Sentak Tia kesal, demi melihat Farro masih menyimpan tawa.

“Aku nggak sedang mentertawakan ibumu,” balas Farro, kini menyimpan senyum pada sahabatnya.

“Lalu, apa namanya, kalau setelah aku sebutkan tiga hal itu, kmu bukannya berkomentar positif, malah tertawa,” Tia masih kesal.

“Maaf, aku nggak bermaksud mentertawakan nasehat ibumu, apalagi mentertawakan Tante Siska. Beliau sudah kuanggap seperti ibuku sendiri. Jadi, kalau aku mentertawakan beliau, itu artinya aku anak durhaka,” jelasnya. Mencoba menyabarkan Tia.

“Lalu, apa maksud dari tawamu itu?” Tia mengejar Farro dengan pertanyaan.

“Never trust anyone. Itu petuah The Godfather yang selalu aku ikuti. Jadi ya, berlawanan dong, dengan apa yang kamu bilang tadi,” jelasnya.

“Heh!! Masih terus aja baca-baca fiksi gak penting kayak gitu. Gimana caranya coba, orang lain bisa percaya denganmu, kalau kau sendiri tak bisa percaya orang lain?!” Bentak Tia tak sabar.

Farro menghela nafas.

“Menurutmu, apa yang  membuatku bisa hidup sampai hari ini?” Tanya Farro. Tia terdiam. Lama. Tak bisa menjawab pertanyaan Farro. Mendadak, sekelebat kejadian demi kejadian berputar dikepalanya.

“Aku berhenti percaya pada siapapun. Termasuk kau Tia. Aku hanya percaya pada Tuhan, dan diriku sendiri,” Farro menunjuk dadanya. Sejenak mukanya mengeras. Tia masih terdiam.

“Bapakku, ibuku, orang yang dulu aku percaya bisa membantuku melewati hidup, justru menjadi orang yang menghancurkannya. Mereka sendiri tak pernah bisa menjaga kesetiaan dan cinta mereka. Berhenti mempercayai satu sama lain. Masing-masing mencari orang lain untuk kebahagiaan mereka, tapi malah menghempaskan kebahagiaan anak mereka sendiri. Masih ingat Rio? Yang mengaku sahabat, bersedia membantuku melewatkan semua kesulitan akibat perceraian orang tuaku, justru menjerumuskanku. Masih ingatkan, berapa lama aku harus menghabiskan waktu di pusat rehabilitasi penyalahgunaan obat?” Farro menghela nafas. Matanya menerawang jauh ke depan. Tia tertegun. Tentu saja dia tak akan pernah bisa melupakan apa yang terjadi pada sahabatnya, cinta pertamanya yang dicintainya dengan diam-diam, bahkan hingga hari ini.

“Aku justru hancur karena rasa percaya. Justru karena aku terlalu percaya pada orang lain. Dan aku belajar banyak dari mempercayai orang lain, Tia. Bahwa percaya, bisa menghancurkanmu. Maaf, kita tak sepakat kali ini. Cinta, kesetiaan dan rasa percaya. Justru tiga hal itu yang sempat membuat hidupku terpuruk, Ti. Dan aku nggak akan pernah mau kembali lagi pada saat-saat terburuk dalam hidupku.”

“Mau sampai kapan kau berhenti percaya orang lain? Termasuk aku?” Tia protes. Mati-matian menahan sakit pada hatinya yang mendadak muncul. Farro menggedikkan bahu.

“Entahlah. Mungkin nggak akan pernah. Aku jera. Sendiri mungkin lebih baik buatku.” Tia terdiam. Menahan sesak yang mungkin akan berujung pada sebuah tangisan. Pelan Tia bangkit. Mendekat pada Farro dan menatap tajam matanya.

“Kau pasti tau, bahwa pada akhirnya, takdirlah yang akan menentukan segalanya. Semua orang boleh berenang dan tenggelam sampai ke dasar lautan. Semua orang bertanggung jawab atas setiap perbuatannya *). Tia berbalik dan meninggalkan Farro yang hanya terdiam menatap punggung sahabatnya, satu-satunya perempuan yang dia cinta dan percaya, dan menitipkan setianya pada Tia, secara diam-diam.

*) Quote dari Don Domenico Clericuzio ~ The Last Don (Mario Puzo)

Tulisan ini untuk #WriterChallenge hari ke #8 dengan tema ~ Kepercayaan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: