Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

#WriterChallenge ~ Selingkuh

“Ini apa?!” tanya istrinya setengah membentak sambil melemparkan telepon genggamnya yang tertinggal diatas meja makan. Pelan dia memungut telepon genggam yang tergeletak pasrah di atas karpet. Lalu membaca satu pesan singkat disana.

From : Nerra
                Sayang, nanti jemput seperti biasa ya. Luv ya

Tertegun dia memandang akibat dari kecerobohannya. Lalu memandang istrinya yang meradang, penuh amarah.

“Sudah berapa lama kamu berhubungan dengan dia? Itu mantan pacarmu waktu SMA, kan?” tanya istrinya lagi. Dia hanya terdiam. Menata kembali ekspresi mukanya yang penuh keterkejutan. Shock. Ceroboh sekali dia meninggalkan ponselnya pagi tadi. Dia tak sempat kembali untuk mengambil ponselnya karena harus mengejar waktu untuk bertemu klien. Tiga jam setelah meeting, ketika dia memutuskan untuk mengambil ponselnya, inilah yang terjadi.

“Jawab aku, mas!!” teriakan istrinya bercampur isak tangis sekarang. Dia hanya bisa tertegun, memandang dengan penuh rasa penyesalan.

“Jawab aku!!” Dan sekarang tangis itu pecah. Perlahan dia mendekati istrinya, ibu dari dua anaknya yang sekarang sedang berada di sekolah. Beruntung mereka tak melihat pertengkaran ini.

“Maafkan aku, Ma,” ucapnya pelan, lalu menyentuh lengan istrinya. Dengan kasar Irma menepis lengan suaminya, yang telah menikahinya selama sembilan tahun.

“Aku tak perlu permintaan maafmu. Jawab saja pertanyaanku!” bentaknya kasar.

“Setahun sebelum kita menikah, aku bertemu lagi dengannya. Dan kami berhubungan hingga sekarang.” Tak ada pilihan lain. Semuanya telah terbongkar. Dia harus jujur. Tak ada gunanya lagi menyimpan kebohongan selama bertahun-tahun.

“Ceraikan aku!” akhirnya Irma berani memandang wajah suaminya. Laki-laki yang dicintainya sejak pertama kali mereka bertemu di sekretariat Himpunan Mahasiswa.

“Tapi, Ma,” selanya ragu.

“Ceraikan aku! Sekarang juga! Dan anak-anak akan bersamaku,” tegasnya lagi. Irma bisa memaafkan apapun, tapi tidak perselingkuhan. Dia mengira, sebelas tahun perkawinannya akan berakhir seperti kedua orang tuanya, bahagia dan menikmati masa tua bersama. Tapi ternyata, dia tak seberuntung ibunya yang memilikinya ayahnya, laki-laki setia. Suaminya tak lebih dari laki-laki penipun yang rela mengorbankan keluarganya hanya untuk masa lalu yang tak layak.

“Irma, ini masih bisa kita bicarakan. Aku minta maaf. Aku…” kalimat suaminya yang akan menjadi mantan suami terpotong oleh kata-katanya.

“Sudah kubilang, aku tak perlu permintaan maafmu. Bereskan barang-barangmu. Segera keluar dari rumah ini. Besok akan menemui pengacaraku. Kita akan bertemu lagi di pengadilan.” Tegas Irma, lalu bangkit menuju dapur, untuk kemudian menangis sepuasnya disana. Menangisi ketololannya yang mengira bahwa dia bisa mengobati patah hati Doni, suaminya, yang pernah dikhianati oleh Nerra.

Doni melangkah gontai menuju kamar tidur mereka. Mulai membereskan barang-barangnya, lalu meninggalkan rumah yang telah menjadi tujuan pulangnya selama sebelas tahun.

“Aku pergi, Ma. Maafkan aku,” pamitnya pada punggung Irma yang tak sudi menoleh.

 

***

Perlahan Doni menyalakan mesin mobilnya. Memandang sejenak pada rumah yang akan dia berikan pada mantan istri dan anak-anaknya. Dia memang bukan laki-laki setia, tapi juga bukan laki-laki tamak. Dia akan memberikan apa yang sudah menjadi hak ibu dari anak-anaknya.

Sambil menghela nafas Doni meraih ponselnya. Menekan satu tombol panggilan cepat. Nerra.

“Sayang, kita bebas. Setelah surat ceraiku keluar, kita akan segera menikah,” lalu hanya suara tawanya yang memenuhi mobilnya. Tawa bahagia.

 

Tulisan ini untuk #WriterChallenge hari ke #10 dengan tema ~ Kesengajaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: