Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

#WriterChallenge ~ Pernikahan Abadi

“Kau masih yakin, akan menikah denganku, apapun yang akan terjadi?” Paris bertanya pada Helen sambil menatap dua mata indah perempuan yang mampu membuatnya melakukan apapun didunia ini. Helen mengangguk tanpa ragu. Hatinya telah mantap untuk melabuhkan seluruh hidupnya pada sebuah dermaga bernama Paris.

“Apapun yang akan terjadi kelak, Helen?” tanyanya lagi. Sekali lagi meyakinkan Helen yang kini menggengam erat tangannya.

“Apapun, Paris. Apapun. Jika aku sanggup menghadapi kedua orang tuaku, maka aku akan sanggup menghadapi apapun didunia ini,” tegasnya mantap. Semantap tekadnya untuk mempertahankan kebahagiaan yang akan dia raih nanti, ketika dia menjadi istri Paris.

“Hanya kita berdua, Helen. Menikah disini. Dihadapan pohon-pohon, dibawah langit yang menggelegarkan petir. Mereka yang akan menjadi saksi pernikahan kita. Hanya mereka. Karena manusia tak pernah ini melihat kita bersatu,” Paris menggenggam sebuah cincin berlian berwarna merah.

“Jikapun saksi kita hanya angin, aku tak pernah peduli. Bagiku yang paling penting adalah kau, Paris, dan hidup bersamamu seumur hidupku,” sambil berkata, Helen membuka genggaman tangannya. Membiarkan Paris memasangkan cincin berlian berwarna merah yang berkilauan ditimpa cahaya redup matahari. Jari manis di tangan kanan Helen berpendar cahaya merah dari cincin berlian itu.

“Cincin ini, Helen, adalah bukti bahwa cinta kita abadi. Meski banyak yang ingin memisahkan kita, aku akan membuktikan, bahwa meski begitu banyak kisah cinta tak direstui yang berakhir dengan patah hati, kisah kita berbeda. Kita menikah, dan berbahagi. Tak peduli apakah mereka menolak kita. Aku hanya ingin hidup denganmu, Helen,” Paris menatap mata Helen yang basah berurai air mata.

Betapa sulit mewujudkan cinta yang mereka punya. Betapa keras penolakan kedua orang tua Helen atas Paris, hanya karena lelaki itu bukan keluarga kaya. Mengapa cinta selalu disandingkan dengan harta?  Bukankah cinta adalah keagungan yang dianugerahkan Tuhan untuk kita hargai setinggi mungkin? Sementara harta hanyalah fakta duniawi yang fana? Cinta adalah abadi, dan kedua orang tua Helen, justru menolak keabadian hanya untuk kefanaan harta benda? Helen menangis, lalu memeluk Paris erat.

“Aku hanya ingin menjadi istrimu, Paris. Atau tidak sama sekali.” Helen terisak pedih.

Paris tak pernah menyesali ketiadaan yang dia miliki. Paris tak pernah menyesali tumbuh tanpa pernah mengenal siapa orang tuanya. Dia hanya memiliki cinta yang luar biasa besar untuk Helen. Paris akan sanggup berkorban apapun untuk kebahagiaan Helen. Jika Helen menangis karena cinta mereka yang dipertentangkan, sama artinya seperti mencabik-cabik hatinya dengan pisau tumpul.

Paris memeluk Helen. Menenangkannya.

“Kita akan menikah Helen, hanya jika kau yakin bahwa kau menginginkannya, dan yakin bahwa kau hanya akan berbahagia bersamaku,” Paris memandang mata Helen, meminta ketegasan dan keyakinan perempuan yang dicintainya sejak pertama kali mereka bertemu di toko tempat Paris bekerja.

Helen mengangguk, “Aku hanya ingin menjadi istrimu, Paris.”

Kemudian Paris menggenggam tangan Helen. Berdiri menantang laut. Angin mulai berhembus kencang, membawa aroma hujan. Petir dan kilat sahut-sahutan seolah mengerti niat mereka.

“Aku, Paris, bersumpah menikahi Helen dihadapan laut, langit, hujan dan kilat. Bersumpah akan membahagiakannya dan hanya akan membawanya dalam perjalanan menuju kebahagiaan yang abadi!” teriaknya. Lalu menoleh pada Helen yang tersenyum.

“Aku, Helen, bersedia menjadi istri Paris yang setia, dan mengikutinya dalam perjalanan menuju kebahagiaan yang abadi!” teriak Helen.

Helen dan Paris saling menatap. Tersenyum bahagia karena mereka telah menikah. Lalu, mengangkat tangan mereka, dan menarik picu sebuah pistol yang telah menempel pada dahi mereka. DOR!!

 

Tulisan ini untuk #WriterChallenge hari ke #13 dengan tema ~ Wedding

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: