Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

#WriterChallenge ~ Pada Akhir Sebuah Kisah

Ayah, Ibu,

Terima kasih untuk segala hal yang telah aku terima selama bertahun-tahun. Seharusnya aku mampu membalas segala kebaikan yang telah kalian berikan padaku. Membalasnya dengan segala kebaikan. Bukan dengan keburukan seperti hari ini. Aku minta maaf, untuk satu keinginan yang tak bisa ku penuhi. Aku tau, seharusnya aku membahagiakan kalian dengan menuruti keinginan yang menurut kalian baik untukku. Tapi aku merasa, bahwa kebahagiaanku itulah yang terpenting. Bukan, bukan berarti aku tak memperhatikan kebahagiaan kalian. Tapi aku tak pernah yakin akan bahagia, jika aku menuruti kehendak kalian.

Ayah, Ibu,

Seharusnya, hidupku adalah tanggung jawabku. Hidupku adalah aku yang menentukan. Bukan kalian atau orang lain. Selama ini, aku selalu berusaha untuk menuruti apapun yang menurut kalian baik untukku. Aku melakukan apapun yang kalian inginkan. Aku hanya ingin membahagiakan kalian, sehingga aku tak pernah menolak permintaan kalian. Ketika kalian memintaku untuk mendaftar di Fakultas Kedokteran, padahal aku ingin sekali menjadi penari profesional, aku menurutinya. Ketika kalian mendaftarkan aku di kursus balet, padahal aku ingin sekali berlatih tae kwon do, aku tak protes. Ketika kalian menyuruhku untuk bermain piano, padahal aku ingin sekali belajar drum, aku mengikuti kalian. Aku berusaha menjadi anak yang baik. Menyingkirkan keinginan-keinginanku demi menuruti segala yang kalian pikir baik untukku. Aku mengikuti apapun yang kalian mau.

Maafkan aku, Ayah, Ibu, jika kali ini, ketika hatiku yang berbicara, aku melawan kehendak kalian. Maafkan aku, karena aku tak bisa memaksakan hatiku untuk mencintai orang yang kalian pilihkan untukku. Aku sudah berusaha, tapi tak punya cinta untuk laki-laki yang merupakan anak dari sahabat Ayah. Aku mencintai orang lain, Yah, dan kalian tau itu. Aku berusaha menjelaskan bahwa aku tak bisa memaksakan diri untuk mencintai orang lain, karena aku sudah menyerahkan cintaku pada laki-laki yang kalian anggap tak sederajat itu.

Maafkan aku. Kalau akhirnya aku memilih untuk melarikan diri dari segala paksaan kalian atas hidupku. Cukup sudah aku menuruti segala kehendak kalian, kali ini aku mohon, tolong biarkan aku memilih jalan hidupku sendiri. Biarkan aku yang menentukan bahagiaku sendiri. Restui atas apapun yang akan aku lakukan nanti. Tolong, doakan saja yang terbaik untuk hidupku.

Anakmu,
Inda

Tergugu Fania membaca surat dari anaknya. Suaminya hanya mampu memeluknya erat. Mereka hanya berpikir bahwa apapun yang mereka lakukan adalah yang terbaik untuk Inda, padahal seharusnya mereka bertanya apa keinginan Inda, dan membiarkan Inda menentukan pilihannya sendiri. Sekarang, segalanya sudah terlambat. Tak ada lagi yang bisa diperbaiki. Fania menengadah, disana dia lihat lagi, tubuh Inda tergantung dengan pandangan kosong yang seolah menatap pada orang tua angkatnya yang menjerit histeris penuh penyesalan.

 

PS : Tulisan terakhir untuk #WriterChallenge hari ke #15 dengan tema Akhir. Terima kasih untuk teman-teman @teguhpuja, @onlyndue dan @idrchi yang bersedia meluangkan waktunya untuk memilih tema-tema menarik yang melecut semangat saya untuk menulis. Semoga kita bisa bertemu lagi pada challenge yang lain😉

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: