Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Mengenang Luka

Aku sebenarnya tak sedang ingin merapal mantera untuk menghilangkan luka, menyembuhkan segala perih yang saat ini sepertinya enggan pergi jauh.

Tapi, entah mengapa akhirnya aku seperti bersahabat erat dengan patah hati. Lucu ya. Di saat semua orang mulai merancang masa depan, justru aku masih berkutat dengan pikiran yang tak habis-habisnya mengenai bagaimana seharusnya aku menyembuhkan hati.

Tapi, bertahun bergandeng tangan dengannya, berjalan di jalan yang sama, rasanya sepertinya aku sudah kehilangan arah. Sekarang aku sedang berdiri di persimpangan jalan, yang aku sendiri tak yakin harus mengambil arah yang mana

Terkadang, bila kusengajakan lagi melihat ke belakang, rasanya semua terasa begitu konyol bahkan bodoh, apa yang dulu pernah aku percaya, ternyata tak pernah benar-benar nyata. Yakin begitu besar, tak terpikirkan sebelumnya semua akan berakhir di titik seperti ini. Berjalan tanpa tahu arah. Dan bermimpi tanpa tahu harus ditujukan untuk siapa lagi. Semua terasa sia-sia. Yang ada hanya kehampaan karena semua mimpi menjadi begitu kabur dan tak lagi punya makna apa-apa. Aku tersesat di jalan yang sudah kupilih dulu.

Hey, kamu masih ingat kan. Kata-kata terakhir sebelum akhirnya kita benar-benar melepaskan pegangan tangan kita? “Jangan pernah menyesali keputusan yang kita sepakati ini. Apa pun yang terjadi, kita harus bahagia nanti. Kita sudah sepakat, maka tak akan ada penyesalan yang nanti justru membawa kita pada kesedihan yang tak putus.” Dan aku hanya bisa mengerjapkan mata, mengusir genangan air yang menggantung di kedua mataku. Dan kini, aku tak pernah bisa menepati kata-kata yang kita sepakati dulu. Aku tak menyesal, hanya terlalu sulit bagiku untuk melanjutkan hidupku dengan segala kenangan yang masih begitu kuat melekat.

Dulu, kupikir ingatanku akan kemudian hilang, sedikit demi sedikit menjadi kabur dan juga tak membekas begitu saja ketika waktu dan jarak sudah memisahkan kita sekian lama. Tapi ternyata begitu kuat kenangan itu melekat dalam hati dan pikiranku. Semakin kuat aku berusaha menghapusmu, semakin jelas teringat setiap kata-kata yang terucapkan dari mulutmu. Semakin tegas aku melukai hatiku dengan membuang semua hal yang berkenaan denganmu, semakin terasa lagi setiap peluk hangat yang pernah begitu nyaman mengikatku dalam lingkar perlindunganmu.

Nah kan, sekarang aku sudah menangis lagi. Mengingat segala jengkal tentang kamu hanya akan menambah kepedihanku. Ya, aku tau itu. Tapi apalagi yang bisa aku lakukan? Aku tak pernah ingin menjadi kenangan bagimu, tapi apa yang sudah terjadi dahulu, apa yang sudah kita sepakati bersama sepertinya memang bukan penyelesai masalah. Dan itu yang aku bawa-bawa hingga kini. Bagaimana aku bisa meneruskan langkah, jika bayang-bayangmu masih begitu kuat menahan langkahku?

Bila pun ada kesempatan yang Tuhan berikan padaku untuk memperbaiki apa yang sudah kulakukan di masa lalu. Sepertinya itu pun tak akan juga menyelesaikan apa-apa. Aku tahu apa yang sudah terucap tidak akan pernah bisa kutarik kembali. Aku tahu apa yang sudah kulakukan pun tak akan bisa dihapus lagi. Terekam begitu kuat aku di benakmu. Bukan sebagai yang teristimewa untukmu, tapi sebagai seorang yang begitu mudah berkali-kali menghancurkan hatimu.

Masih begitu jelas di ingatanku, usai mengucapkan kalimat itu kau pergi. Di bawah hujan. Berlindung pada jaket tebal. Dan aku hanya mampu mengantar kepergianmu dengan tatapku. Satu yang tak pernah engkau tahu, bahwa saat itu, ketika kakimu selangkah demi selangkah menjauhiku, saat itu pula aku duduk bersimpuh. Menangisi ketololan yang tak semestinya aku perbuat. Kau, dengan hati yang berkali-kali kulukai itu pun sepertinya tak akan mampu memaafkan apa yang menjadi penyebab semuanya. Dan sekarang, aku hanya punya kenangan tentangmu. Hanya kenangan, karena masa depanmu hanya untuk dia.

Entah sampai kapan aku berhenti meracau tentangmu. Aku tak tahu. Seperti ketidak-tahuanku juga tentang waktu untuk berhenti memikirkanmu. Aku sudah kehilangan nyawa hidupku.

Kelak, jika akhirnya engkau menemukan tulisan ini entah dimana, kupastikan engkau akan tahu, bahwa disini, aku yang terluka. Aku yang melakukan kesalahan, dan aku sendiri yang terluka. Kelak, jika engkau mengingatku pada suatu ketika, yakinlah bahwa pada saat yang sama aku juga sedang mengingat setiap detik kebersamaan kita yang telah aku tanam dalam keping ingatanku. Yakinlah, bahwa tak ada yang bisa membuatku berhenti mengingatmu. Meski itu artinya aku tak beranjak kemana pun.

Kehilanganmu adalah kehilangan hidupku. Lalu, tak akan ada gunanya lagi bagiku melanjutkan segala cerita tentang hidupku.

PS : Tulisan kolaborasi dengan Teguh Puja suatu malam menjelang tidur disela upload materi  

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: