Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

A New Beginning

Saya menikah. Ya, akhirnya. Sama seperti tanggapan orang-orang, ketika saya menyampaikan berita itu. “Akhirnya….” dengan hembusan nafas lega. Seolah-olah berita ini adalah sesuatu yang telah mereka tunggu, berabad setelah Ratu Mumtaz meninggalkan kekasih tercintanya.

Tapi ya, akhirnya saya menikah jua. Dengan dia. Kekasih yang selama 4 tahun ini berhasil meyakinkan saya untuk menghabiskan hari-hari bersamanya, kelak. Menguntai hari, menciptakan kenangan kami sendiri. Kekasih yang akhirnya berhasil meyakinkan dirinya sendiri untuk kemudian memilih saya, sebagai pendamping diri dan hidup. Untuk melewati segala aral dan bahagia bersama, hingga kelak. Mengimami saya, mengambil hak atas saya, dari ayah yang telah tiga puluh dua tahun ini menjadi imam kami.

Menikah, adalah sesuatu yang akhirnya berhenti saya pikirkan, ketika melewati angka 28 tahun. Ketika akhirnya saya melewati angka tersebut dengan kesendirian, saya memutuskan untuk tak memikirkan lagi, apakah kelak saya akan menikah, menjadi istri dari seseorang, dan menjadi ibu dari beberapa anak. Saya mulai membangun tembok dari segala apapun yang akan mengingatkan saya, bahwa dalam agama saya, menikah adalah mengikuti Sunnah Sang Baginda Tercinta. Dan kembali memutar memori saya, ketika pada awal kuliah saya pernah bertanya pada Emak, “Mak, kalau nanti aku tak mau menikah, bagaimana?” Pertanyaan yang mengejutkan Emak, dulu.

Akhirnya, ketika saya bertemu kekasih, melewati hari-hari berbilang ribu, saling mengenal, saling memaklumi. Hingga akhirnya kami memutuskan, ya, kami akan menikah. Keputusan yang tak tergesa, tapi juga tak terpaksa. Berusaha menjalani segala yang ada didepan dengan kepala dingin dan rasa syukur. Bahwa apa yang kami pertahankan bertahun ini, bermuara pada sebuah awal baru. Pernikahan. Sesuatu yang pernah saya lupakan, sesuatu yang malah tak pernah terbayangkan saya, akan saya lewati pada hari-hari ini dan kelak.

Hingga akhirnya, pada suatu malam 8 Desember, kami menyaksikan dengan lega. Kekasih saya dengan segenap ketegasan dan kelembutan, mengambil alih hak atas saya dari Ayah, lelaki tercinta, yang menerimanya dengan segala haru. Bahwa saya, anak perempuannya yang paling dirisaukannya, yang telah melewati angka tiga puluh dalam hidup, akhirnya menjadi tanggung jawab seorang lelaki yang berani menghadapnya dengan kesungguhan.

Tentang Sebuah Akad

Tentang Sebuah Akad

Dan kini, dengan segala kekurangan yang saya miliki, dengan sebuah awal baru yang kami lewati berdua, dengan segala restu yang kami terima dari berbagai sisi, tak putus berharap. Bahwa awal dari sebuah perjalanan panjang ini akan berhasil kami lewati hingga bila. Semoga Tuhan, dengan segala Maha, tak akan pernah meninggalkan kami. Semoga kami, akan terus bergandeng tangan melewati apapun yang menghalang didepan sana.

Bismillahirrahmanirrahiim…

Iklan

8 responses to “A New Beginning

  1. Teguh Puja 19 Desember 2012 pukul 6:36 am

    Selamat menempuh kehidupan yang baru ya. Semoga Allah menjadikan keluarganya sakinnah mawadah wa rahmah, penuh dalam keberkahan.

  2. awilftanjung 19 Desember 2012 pukul 7:12 pm

    selamat ya kakakkk….!!!!!

  3. Rini Astuti Handayani 11 Januari 2013 pukul 1:05 pm

    Mbak wirda.. aku baru baca postingan ini. maaf kalau terlambat yah mbak.

    selamat menempuh hidup baru ya mbak. barakallah atas setiap detik yang bergulir bersamanya yah mbak. πŸ˜‰

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: