Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

RIP : Idealisme

Dear Idealisme,
Maaf. Jika pada akhirnya aku harus membunuhmu secara perlahan-lahan.

Bukan sebab atas ketidakberdayaanku. Namun, menghidupimu ditempat seperti ini sungguh menyulitkanku. Aku belum mampu selayak Hatta yang berjuang dari dalam sel. Pun, aku tak sanggup melawan bak Pramudya yang melawan justru ketika fisiknya dipasung.

Aku tak berdaya melawan apa yang seharusnya bertentangan dengan prinsip yang telah kau gariskan dulu, ketika aku dengan mantap menyandang angkuh sebuah label kebebasan di pundakku.

Seharusnya, usai aku mengucap sumpah wisuda 8 tahun yang lalu, aku tetap membawamu kemanapun aku melangkah. Dimanapun aku berpijak. Tapi, aku tak sanggup melawan apa yang kini tengah berada dihadapku.

Aku tak akan pernah mengucap , “andai kau ada diposisiku”. Itu sama saja dengan menuduhmu selemah aku. Padahal aku yang tak sanggup menolak intimidasi kenyamanan dan kebutuhan yang semakin membelengguku.

Dear idealisme,
Maafkan aku, jika akhirnya aku mengkhianatimu. Kelak, bila aku sudah mampu berpijak atas dasar keyakinan dan kebenaran, ijinkan aku untuk kembali padamu. Ijinkan aku untuk menghidupkanmu lagi didalam jiwaku.

17.26
Di almamater tercinta

3 responses to “RIP : Idealisme

  1. naussea 14 Januari 2013 pukul 10:16 pm

    idealisme terpenjara oleh kuatnya tirani, harga diri sudah bukan persoalan yang penting lagi, ada yg jauh lebih penting.

    Materi

    everybody changing, begitupun dengan saya😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: