Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Baby Blues (?)

Sudah 2 minggu pasca persalinan, dan Alhamdulillah semua sudah kembali normal. Sudah bisa cerita dengan santai ke teman-teman kalau ada yang bertanya soal proses persalinan 2 minggu yang lalu. Bahkan kadang merasa lucu, karena persalinan yang berlangsung cepat dan sangat tiba-tiba. Meleset 2-3 minggu dari perkiraan dokter. Alhamdulillah, Ayyash juga baik-baik saja, sudah bisa beradaptasi dengan ibunya yang masih belajar jadi ibu yang baik dan benar😀 Menjadi orang tua baru di umur yang nggak bisa dibilang muda, memang nggak gampang. Apalagi pengalaman mengurus bayi juga saya minim. Tapi, mudah-mudahan proses yang sekarang ini bisa membuat kami jadi belajar menjadi orang tua yang baik dan benar😉

Awal-awal pasca persalinan memang nggak mudah buat saya. Ini adalah pertama kalinya saya masuk rumah sakit. Pertama kalinya diinfus. Saya memang orang yang jarang sakit. Paling-paling kalau sakit ya flu. Pernah 2 kali kecelakaan juga cuma rawat jalan aja. Jadi, membayangkan bahwa saya akan dilakukan tindakan Sectio Caesaria, yang akan membedah perut saya untuk mengeluarkan bayi dalam tempo kurang dari sejam, rasanya campur aduk. Tapi keputusan memang harus diambil dengan cepat, karena air ketuban yang mendadak keluar tanpa ada bukaan sama sekali. Suami saya yang nggak tega kalau melihat saya diberi rangsangan supaya tetap bisa melahirkan normal, akhirnya menandatangani berkas persetujuan operasi. Dan sekitar jam 2.50 pagi, hari Minggu saya langsung masuk ruang operasi. Cito. Jam 3.10, bayi saya lahir. Dengan berat 3,4 kg dan panjang 50 cm. Alhamdulillah.

Sehari pasca persalinan, dimulailah drama itu. Dengan badan yang kebas dan mulai terasa sakit akibat obat bius yang perlahan menghilang, perawat yang keluar masuk untuk mengingatkan agar saya makan dan minum obat, tubuh yang lelah dan segala rasa yang bercampur aduk membuat saya merasa bahwa ini kok jadi begitu menyusahkan? Jangankan sekedar memiringkan badan, menarik nafas pun rasanya sakit. Dan tangis yang ditahan akhirnya perlahan keluar tanpa bisa tertahan lagi. Selera makan yang berkurang, tetapi tetap harus dipaksakan. Waktu malam, ketika jam 11 saya mulai bisa tertidur, tanpa tau sebabnya tiba-tiba jam 1 pagi terbangun dan tak bisa tidur lagi sampai jam 5 pagi. Benar-benar melelahkan.

Setelah 3 hari di rumah sakit, melihat kondisi saya yang sudah bisa berjalan walaupun masih perlahan, dokter mengijinkan saya pulang. Mengingat sejak masuk rumah sakit sampai malam sebelum pulang saya tak bisa tidur dengan nyenyak, saya memang memutuskan untuk pulang kalau kondisi sudah membaik. Sesampainya di rumah, keadaan saya tak berubah. Malah semakin parah. Semakin sering menangis tanpa sebab, nafsu makan berkurang drastis, kelelahan padahal istirahat sudah cukup, emosi yang naik turun, marah tanpa sebab, gampang tersinggung, parno dan yang lebih parah, ketika mencium kepala bayi saya, saya merasa mual. Itu berlangsung setelah 5 hari pasca persalinan. Hari ke 6 saya mulai pusing setiap Ayyash nangis. Menggendongnya setengah hati. Ada bagian dari diri saya yang menolak Ayyash waktu itu. Hari ke 7, saya mulai mencari tau, kenapa kondisi saya bisa separah ini? Suami juga heran, saya yang biasanya galak sama orang, kok dengar omongan yang sedikit becanda malah nangis.

Akhirnya, saat kondisi mulai agak normal, saya mulai googling. Mencari tau, kenapa kondisi saya separah itu. Baru kali ini saya nggak bisa mengontrol diri saya sendiri. Dan akhirnya bertemu dengan situs ini, yang menjelaskan beberapa kondisi ibu pasca persalinan. Dan dari situ saya baru tau kalau saya sedang mengalami baby blues syndrome😦

Dan apa yang saya alami ternyata memang normal dialami oleh ibu pasca melahirkan. Tapi tetap saja kalau berlebihan bisa membahayakan. Apalagi kalau sampai depresi. Alhamdulillah, setelah ngobrol (tetep sambil nangis-nangis) sama suami, sekarang kondisi saya berangsur-angsur normal. Yang dibutuhkan ibu yang mengalami gejala baby blues memang lingkungan yang kondusif, suasana positif dan dukungan suami yang nggak cuma sekedar kata-kata, tapi juga mau bekerja sama mengasuh si kecil.

 

4 responses to “Baby Blues (?)

  1. Nich 30 September 2013 pukul 1:15 am

    Aku pun aware dengan sindrom ini, dan memang butuh dukungan positif dari semua pihak. Yang penting, kakak juga harus terus semangat!

    • weirdaft 1 Oktober 2013 pukul 12:43 am

      Harus Nich. Yang paling penting adalah suasana positif yang diterima si ibu. Alhamdulillah, udah normal lagi skrg. Dan semangat ngurusin si kecil. Thanks ya Nich. Semoga Yuni nggak ngalami apa yg ku alami kemarin itu🙂

  2. Rini Astuti Handayani 5 Oktober 2013 pukul 11:07 am

    Kalo sekarang aku baca tulisan Mbak Wirda jadi ketawa. =)) Eh maaf Mbak bukan maksud apa, tapi ketawanya seneng ngelihat proses persalinan.

    Padahal, kata rekan kantorku itu ndak akan sakit, tetapi ternyata sakit juga yah, Mbak?

    Proses Baby Blues kayaknya ndak lama kalau kitanya bisa menjaga lingkungan dan orang-orang disekitar kita. Mbak Nama Babynya siapa?

    • weirdaft 5 Oktober 2013 pukul 11:55 pm

      Hahaha… aku jg kalo inget2 lucu jadinya. Kata suamiku dia sendiri heran liat aku bisa pasang tampang tenang didepan perawat.
      Ih, siapa bilang nggak sakit. Pas dibelah sih nggak sakit, kan dibius, abis biusnya, baru deeehhh…….. pengen lempar2in orang2 yg sok tau.Pdhl nggak usah ngomel, nafas aja pun berasa beraaaatt banget. Kalo ntar kamu lahiran, mending normal aja deh.

      Alhamdulillah skrg udah baikan Ndue. nama baby nya Ayyash😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: