Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

#30HariNgeblog; Cinta (si) Monyet

Prolog

Siang tadi saya membaca status Tika di Facebook tentang tantangan #30HariNgeblog dengan tema beragam yang memang sudah ditentukan. Saya yang baru tau hari ini ada tantangan menulis, langsung tertarik. Tapi sudah sangat terlambat, karena ternyata hari ini adalah hari kelima tantangan diadakan. Tapi nekatlah, soalnya blog ini sepertinya sudah mengalami titik jenuh, karena ketidakteraturan update-nya. Dan dengan nekat juga saya menyatakan diri untuk meminta agar diijinkan ikut dalam tantangan ini (halah). Dan diperbolehkan untuk ikut langsung pada hari kelima. Nanti, kalau memang semangat menulis saya sedang tinggi-tingginya, pengen juga melunasi 4 tema yang terlewat. Eh iya, tema yang langsung saya tulis ini agak berat, tentang cinta monyet. Jadi, semoga saya bisa konsisten untuk terus menyelesaikan tantangan ini sampai hari ke-30.

***

Cinta (si) Monyet

Kalau ditanya soal cinta monyet, saya bingung. Karena, saya sendiri masih nggak ngerti soal arti dari cinta monyet. Apakah sepasang monyet sedang pacaran, atau orang yang pacaran itu disebut mo… (*sinyal ilang*).  Karena, jujur sejujur jujurnya kacang ijo (itu bubuuuuuuuurrr… garing amat!! *jitak 3 kali*), saya nggak ngerasain pacaran selama masa SMP dan SMA. Sumpah!!

Nah, akhirnya demi benar-benar mengerti arti dari cinta monyet, saya bela-belain googling dan akhirnya mampir ke wikipedia karena menemukan pengertian istilah cinta monyet disitu. Salut sama penyunting yang menambahkan istilah ini di wikipedia.

Cinta monyet adalah istilah informal yang berarti perasaan cinta yang terjadi antara sepasang anak muda yang masih dalam masa remaja. Istilah ini juga dapat digunakan sebagai kata sindiran, yang digunakan kepada seseorang yang kurang mencintai pasangannya.

Cinta monyet, yang juga dikenal dengan “crush“, bisa juga dideskripsikan sebagai cinta seorang anak atau remaja kepada orang yang lebih tua. Sebagai contoh, seorang murid yang “suka” kepada gurunya. Dalam hal ini, istilah “cinta monyet” menggambarkan sebuah cinta yang tidak akan mendapat balasan.

Menurut rujukan diatas, saya menyimpulkan bahwa saya sama sekali nggak berkompeten untuk meneruskan tulisan ini karena saya belum pernah pacaran waktu remaja dulu. Dan saya nggak pernah naksir dengan guru sendiri. Tapi kalau naksir dengan orang yang lebih tua, itu pernah. Waktu jamannya masih kelas 3 SMP, saya naksir tetangga depan rumah yang kelas 3 SMA. Jadi, tiap hari setelah pulang sekolah saya suka nongkrong di warung ibu saya sambil gitaran. Kadang saya suruh ibu saya masuk aja, untuk istirahat, biar saya yang gantian jaga warung. Itu untuk alasan aja sih, karena abang itu kalau liat saya gitaran, pasti langsung nyebrang dan pinjam gitar saya, trus gitaran didepan warung saya. Nah, sambil dia gitaran, saya biasanya nggak tau dia lagi nyanyi lagu apa, soalnya saya lebih sibuk untuk menenangkan jantung saya yang berisik, takut kedengaran abang itu 😀

Nah, kalau menurut definisi yang lain, cinta monyet adalah rasa suka sama lawan (sesama) jenis untuk pertama kali, itu ada lagi ceritanya. Itu waktu saya di akhir semester kelas 2 SMP. Naksir teman sekelas. Cinta pertama. Dia juga tau kok kalau saya suka sama dia. Mungkin sampai hari ini 😀 Namanya, mending nggak usah aja ya. Dia tau kok siapa yang saya maksud *ihiiiyyy*

Kapan-kapan deh, kalau ada tema yang mendukung saya ceritain soal “dia” yang kenangannya saya simpan di lubuk hati terdalam *tsaaaahh*

Jadi, cuma sebegini inilah yang bisa saya tulis soal cinta monyet ini. Bingung? Sama saya juga.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: