Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

#30HariNgeblog : Permainan Anak Zaman

Hari ke – #9 : “Permainan masa kecil apa yang ingin dimainkan lagi?”

Masa kecil saya, adalah masa yang sangat ingin saya ulangi. Tumbuh di tahun 90-an benar-benar saya syukuri (ketauan umur berapa😀 ) Banyak sekali hal-hal yang dulu, waktu tahun 90-an bisa kita temukan, ditahun 2000-an malah seperti barang langka. Saya yakin, angkatan 90-an pasti setuju dengan  hal ini. Dan kalau anak-anak yang tumbuh di tahun 2000-an bisa melihat seperti apa serunya tumbuh dan besar di tahun 90-an, pasti ingin menikmatinya juga.

Tahun 90-an itu saya masih SD, masih benar-benar menikmati masa kecil. Memainkan permainan apa saja yang tren saat itu. Kami lebih sering berkumpul di lapangan dan pulang bau matahari daripada hanya diam dirumah dan nonton tv. Tontonan pada saat itu masih TVRI. Itu juga siaran untuk anak-anak terbatas. Untuk hari kerja kita cuma bisa nonton kartun sore, ada Unyil dan Silver Hawk. Kalau Unyil sih, di tr**s7 masih ada. Tapi kalau Silver Hawk, saya rasa sedikit yang tau kartun yang ini. Silver Hawk itu kartun yang bersetting luar angkasa, dengan sekelompok pahlawan yang punya satu ekor burung elang dan bertugas membasmi monster. Bisa lihat di Youtube untuk menyegarkan ingatan. Sedikit sekali tontonan pada saat itu. Dan kami memang tak punya waktu untuk nonton tv terlalu sering, karena kami sibuk bermain dengan segala macam permainan seru yang bisa kami mainkan berkelompok.

Di belakang rumah saya dulu ada lapangan luas tempat kami bermain. Main apa saja. Setiap pulang sekolah, setelah makan dan tidur siang, sekitar jam 3 biasanya kami udah berkumpul di lapangan itu. Biasanya kami bermain bola kasti, seperti baseball kalau sekarang. Dengan sebuah pemukul dan bola tenis. Lalu ada 3 base tempat kami berhenti. Kalau seluruh anggota tim kembali ke base awal, maka tim itu pemenangnya.

Kalau bosan bermain kasti, kami simpan pemukulnya. Kami pakai bola tenisnya. Timnya dibubarkan, jadi permainan perorangan. Main bola bengek. Namanya memang aneh. Sebelum bermain, diundi dulu siapa yang jadi pelempar bola dengan hom pim pa. Siapa yang kalah, dia yang jadi pelempar bola dan yang lain boleh lari menghindar. Kalau ada yang terkena lemparan bola, maka ganti dia yang jadi.

Lalu ada permainan kreatifitas. Kalau di pulau Jawa ada yang membuat mobil-mobilan dan kulit jeruk bali, maka kami juga membuat mobil-mobilan dari kaleng dan kayu sebagai badan mobil, sandal karet bekas yang dipotong lingkaran sebagai roda dan kayu panjang untuk mendorong mobil. Ada juga layangan. Cara mainnya sama seperti permainan layangan. Tapi yang unik adalah membuat benang layangannya supaya nggak gampang putus kalau diadu. Benangnya pakai benang jahit, tapi ada ramuannya untuk membuatnya menjadi benang gelasan. Kami biasanya berkeliling untuk mencari bola lampu bekas. Lebih bagus lagi kalau neon yang didapat. Bola lampu itu dipecah, lalu digiling halus. Setelah halus semua, gilingan bola lampu itu dimasak dengan tepung kanji dan air yang banyak, supaya kalau sudah masak, tepung kanjinya nggak mengeras. Kalau sudah jadi, benang jahit tadi dilumuri dengan ramuan gelasan tadi. Biasanya benang kami lilitkan dari satu pohon ke pohon lain supaya seluruh benang yang panjang itu bisa dilumuri semuanya😀

Masih banyak lagi permainan lain yang biasa kami mainkan. Tapi yang paling sering kami mainkan adalah patok lele, permainan yang paling saya suka. Dan permainan yang ingin saya mainkan lagi😀 Patok lele bisa dimainkan dengan tim, bisa juga perorangan. Alatnya dua buah kayu dengan ukuran berbeda. Satu buah kayu yang agak panjang sebagai pemukul dan satu lagi yang lebih kecil sebagai anaknya. Lalu dibuat lubang di tanah untuk meletakkan anaknya. Sebenarnya ini permainan anak laki-laki. Tapi saya suka permainan ini. Serunya adalah saya harus menangkap anak kayu yang terlempar dengan tepat. Karena kalau meleset sedikit aja, bisa kena badan saya. Dan sakitnya ampun lah. Kadang ada bekasnya😀 Dan memang, setiap habis main patok lele, selalu aja ada yang luka di saya. Dan itu yang bikin emak suka marah. Belum lagi debu dan bau matahari😀 Tapi seru.

Tapi, permainan yang saya sebut diatas udah jarang dijumpai. Paling banter bola kasti. Karena masih dimainkan di SD. Selebihnya, malah udah nggak pernah lagi. Tak usahlah permainan patok lele, lapangan aja udah disulap jadi kantor dan gedung. Seperti lapangan yang dulu ada di belakang rumah saya, sebenarnya adalah tanah kosong yang memang ada pemiliknya. Setelah yang punya menjual tanahnya, sekarang dibelakang rumah saya berdiri ruko-ruko yang malah kosong, karena nggak laku.

Mungkin memang setiap zaman, pasti berbeda. Karena sekarang anak-anak lebih kenal game-game di komputer, hape atau tablet daripada bermain permainan yang butuh kemampuan fisik dan kreatifitas.

2 responses to “#30HariNgeblog : Permainan Anak Zaman

  1. Tika 10 November 2013 pukul 11:31 am

    Anak sekarang mainnya tokoh virtual.

    Aku paling suka nangkap capung di tanah lapangan pakai getah daun pisang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: