Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

#30HariNgeblog : Meski Bukan Superhero

Hari ke #10: “Pahlawan dalam hidup selain orang tua”

Kali ini temanya serius. Eh tapi bukan berarti tema yang lain nggak serius ya. Cuma, hari ini saya dipaksa untuk mengingat kembali orang-orang yang telah hadir dalam hidup saya. Yang telah mengisi buku kehidupan saya dengan warna yang berbeda. Orang tua adalah pahlawan terbesar dalam hidup saya. Dalam hidup kita pasti. Tetapi, orang-orang yang pernah hadir dalam hidup saya juga  membentuk saya hingga saya bisa seperti sekarang ini. Saya percaya garis nasib yang berbelok-belok yang sedang saya jalani ini, tak lepas dari pertemuan demi pertemuan saya dengan orang-orang yang sadar atau tidak kerap memberi hal-hal baru pada saya.

Kalau cerita tentang orang tua sebagai pahlawan, pasti akan menghabiskan banyak ruang didalam blog ini. Karena bagaimanapun, orang tua kita adalah manusia paling sempurna.

Tapi kali ini, sesuai dengan tema, saya ingin bercerita tentang 2 orang dari sekian banyak pahlawan yang telah mengubah jalannya garis nasib saya. Tentang Hakeem dan Alfin. 2 orang murid istimewa saya ketika saya masih mengajar di salah satu SD swasta di yayasan almamater saya. Saya sebut istimewa karena mereka adalah 2 orang murid penyandang autis. Dan tentang siapa mereka, saya pernah menuliskannya disini.

Kenapa saya bisa menyebut mereka pahlawan bagi saya? Ada beberapa hal. Pada saat saya memutuskan untuk keluar dari sekolah tempat saya bertemu dan jatuh cinta pada dunia mengajar, saya belum menerima pekerjaan lain untuk menyambung hidup (halaah…). Artinya, ketika saya resign pada saat memasuki tahun ajaran baru, saya adalah pengangguran tanpa pemasukan. Pengangguran intelektual dengan gelar sarjana. Tetapi, kalau sebelumnya ada keraguan bagi saya untuk keluar dari sekolah tersebut karena ada ketidakcocokan pada pemimpin dan manajemennya, ketika akhirnya diputuskan bahwa sebagai penyandang Autisme, Hakeem dan Alfin tidak diperbolehkan lagi meneruskan pendidikan mereka disitu, saya berkeyakinan kuat, bahwa apapun yang terjadi, tahun ajaran itu adalah yang terakhir saya  berada di SD tersebut. Karena mereka yang akhirnya memberanikan saya untuk mengundurkan diri. Dan kedua, mereka berdualah yang akhirnya meyakinkan diri saya, bahwa passion saya adalah mengajar. Karena mereka berdualah akhirnya saya juga menerima tawaran dari almamater untuk mengajar kembali. Dan mereka berdua, tempat saya belajar kembali tentang hidup selama 3 tahun mengenal mereka. Tentang bagaimana kesabaran menghadapi mereka ketika mereka tantrum. Tentang mereka yang selalu tulus memaafkan, meski mungkin ada penerimaan yang tak tulus bagi mereka. Dan mereka, mengajarkan kepada saya, bahwa Tuhan selalu sempurna menciptakan mahluknya, dengan segala keistimewaannya.

Dan memiliki murid seistimewa Hakeem dan Alfin, adalah anugerah yang tak akan bisa saya lupa. Mereka berdualah yang akhirnya membuat saya mampu keluar dari zona nyaman dan berani mengeksplorasi kemampuan saya.

Nak, dimanapun kalian berada, terima kasih telah mengisi hidup saya dengan segala warna, mesti bagi kalian hanya ada satu warna dalam hidup. Nak, berbahagialah selalu :’)

4 responses to “#30HariNgeblog : Meski Bukan Superhero

  1. Rumambay 11 November 2013 pukul 10:27 am

    setiap orang punya pahlawannya masing-masing ya mbak😀

  2. Luphyta 11 November 2013 pukul 4:35 pm

    Setiap murid memang memiliki keistimewaan🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: