Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

#31HariFF : Kucing Hitam

Kucing hitam

Kucing hitam

Dillah tak pernah menyukai kucing. Apalagi kucing hitam. Seram rasanya, tiap kali dia harus beradu pandang dengan kucing hitam legam bermata tajam yang sering dia temui ketika pulang sekolah. Kucing hitam yang selalu keluar dari kebun tebu, yang kabarnya milik seorang perempuan tua yang biasa dipanggil Nek Barih.

Seperti siang ini, ketika ibunya tak bisa menjemputnya disekolah, Dillah terpaksa harus pulang sendiri dan melewati kebun tebu yang hanya berukuran 8 meter itu. Teman-temannya sudah berpisah dengannya dari jembatan disana, dan tak ada temannya yang searah dengan rumahnya.

Dillah berdoa sepanjang jalan, semoga tak menemui kucing hitam itu hari ini. Setengah berlari Dillah melewati kebun tebu itu. Ketika ujung kebun tebu akan dilewatinya, sesosok hitam seolah terbang didepannya. Dillah menjerit, lalu berhenti ketika menyadari bahwa kucing hitam itu kini berdiri dihadapannya.

“Puusss….. hitaaaamm…. sini…,” satu sahutan terdengar dari kebun tebu. Dillah semakin takut. Memegang erat-erat rok merahnya. Lalu si pemilik suara itu keluar dari kebun tebu. Seorang nenek berambut putih dengan gigi menghitam, dan tersenyum pada Dillah.

“Hmmm… hitam. Kamu nakal lagi ya hari ini. Pasti kamu menakuti gadis kecil ini, kan. Dasar kucing nakal,” Nenek itu memukul kepala kucing hitam itu dengan sayang.

“Siapa namamu, gadis kecil?” tanya nenek itu pada Dillah yang beringsut pelan dari tempatnya berdiri.

“Jangan takut, nak. Siapa namamu?” tanyan nenek lagi.

“Dillah, nek,” jawabnya pelan. Ketakutan melihat kucing hitam yang sekarang menggosok-gosokkan bulunya ke badan si nenek, dengan mata yang tak lepas dari Dillah.

“Maafkan kucing nenek, ya. Dia tak punya teman, jadi selalu suka kalau lihat anak perempuan. Sebagai permintaan maaf, nenek mau ajak Dillah ke gubuk nenek, didalam kebun tebu ini. Nenek punya banyak sekali kue coklat. Dillah mau?” bujuk nenek itu lagi.

Mendengar kue coklat kesukaannya, Dillah mengangguk. Lalu mengikuti nenek dan kucing hitam masuk ke ladang tebu, menuju gubuk si nenek dan kucing hitam yang samar-samar terlihat dari tempatnya berdiri diantara tebu-tebu yang berdiri.

***

“Dillaaaaaaahhh… dimana kamu nakkk?” teriakan parau seorang perempuan muda terdengar. Dan panggilan demi panggilan bersahut-sahutan. Gelapnya jalan diterangi obor yang dipegang orang-orang sambil berteriak memanggil nama Dillah, yang sejak pulang sekolah tak pernah kembali ke rumahnya.

“Ini tas Dillah,” teriak perempuan muda itu, menemui tas bergambar Barbie berwarna merah muda didepan kebun tebu. Sontak seluruh pencari memasuki ladang tebu yang berukuran 8 x 8 meter itu. Mereka masuk hingga ke dalam kebun tebu. Dan tak menemukan apapun, tidak juga sebuah gubuk. Hanya tebu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: