Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

#31HariFF : Sebuah Kesalahan

test

 

 

Sudah seminggu ini badan Tesia terasa tak enak. Bukan karena pekerjaan di kantor yang menumpuk menjelang akhir tahun. Bukan pula karena sudah dua bulan ini dia juga menyandang status sebagai istri dari kekasihnya  yang menikahinya sejak 2 bulan ini. Setiap pagi Tesia merasakan pusing dan mual yang datang bersamaan. Apalagi sudah hampir dua minggu Tirta, suaminya bertugas ke Singapura dan kepulangannya masih seminggu lagi. Tesia tak ingin membebani suaminya dengan keadaannya yang kurang sehat, itu sebabnya dia tak berkata apa-apa setiap kali suaminya telfon.

Dan pagi ini, mual dan pusing itu semakin menjadi. Tesia menelfon kantornya, ijin tidak masuk. Lalu menelfon sahabatnya Yana, perihal keadaannya yang kurang baik belakangan ini.

“Coba deh, kamu pake test pack. Kali aja itu karena kamu sedang hamil,” saran Yana.

Dan pagi itu juga, Tesia mencari apotek yang sudah buka. Membeli 2 pak test pack sekaligus.

***

Dengan penuh harap, Tesia memandang test pack baru saja dia celupkan pada air seninya. Menunggu 1 menit, terasa 1 jam. Melihat perubahan warna pada sebatang benda yang akan menentukan takdirnya untuk segera menjadi seorang ibu atau tidak. 1 menit berlalu. Tesia tersenyum. Tepat seperti yang diharapkannya. Dua garis.

***

Tesia menyambut kedatangan Tirta dengan tersenyum penuh rahasia.

“Aku ada hadiah buat kamu” ujarnya manja sambil memeluk suaminya. Ada yang aneh pada senyum Tirta, tapi kebahagiaan Tesia tak mengindahkan keanehan itu. Dengan senyum bahagia Tesia menyerahkan test pack yang menunjukkan dua garis pada Tirta yang terdiam. Hanya menatap test pack dan Tesia berganti-ganti.

“Aku juga punya hadiah buat kamu,” timpal Tirta dingin. Menyerahkan sebuah amplop putih pada Tesia yang menerimanya dengan senyum bahagia. Perlahan membuka amplop dan membaca isinya. Ganti Tesia terdiam. Menatap surat dan Tirta berganti-ganti.

“Aku mandul, Tesia. Dan itu bukan anakku!” Tirta keluar rumah dengan menenteng koper yang baru saja dia turunkan dari pesawat, 2 jam yang lalu.

***

Tiga bulan yang lalu.

“Anggap saja ini adalah perpisahan kita. Aku akan melepaskanmu untuk orang yang kamu cintai sekarang. Setelah ini, aku akan menghilang dari kehidupanmu,” Dharma, mantan pacarnya,  tersenyum pada Tesia yang menutup tubuh telanjangnya dengan selimut tebal, disebuah hotel berbintang.

Pertemuan yang kelak akan dia sesali seumur hidupnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: