Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Tentang Pertamax dan Move On yang Gagal

Sekiranya, tulisan ini bisa sampai ke tangan Bapak Menteri ESDM.

Kalau dihitung-hitung, kayaknya saya udah lama pakai pertamax untuk mio 2005 saya dulu. Dari sekitar 2007 sampai akhirnya harus say goodbye dengan motor yang udah jadi teman setia saya selama 8 tahun terakhir. Walaupun waktu itu hampir setiap tahunnya Pertamax mengalami kenaikan. Memang nggak terlalu signifikan, jadi masih terjangkaulah dengan kantong pegawai rendahan kayak saya ini.

Bukan tanpa alasan saya setia dengan pertamax. Selama 8 tahun saya pakai Mio itu, saya sering terima tatapan aneh, karena Mio busuk saya nangkring di bagian Pertamax, bukan di Premium. Jujur, dengan Pertamax, mesin motor yang tadinya sering panas dan berbau seperti terbakar, jadi lebih baik dengan Pertamax. Tarikan gas juga nggak berat lagi. Intinya, saya berhutang budi dengan Pertamax. Dan berlanjut dengan pengganti Mio, Jupiter MX.

Tapi itu dulu. Ketika pengeluaran mendadak jadi lebih banyak, daya saya konfirmasi ke suami. Sebagai akuntan pengatur keuangan amatir, saya kaget dengan pengeluaran yang jadi lebih banyak bulan-bulan lalu. Dan pengakuan suami yang bikin saya gondok setengah mati adalah karena pengeluaran per hari khusus buat Pertamax adalah 30 ribu perhari. Gila!! Kalau dihitung selama sebulan adalah 26 hari * 30 ribu = 780 ribu😐

Saya tanya lagi, kenapa bisa sampai 30 ribu per hari untuk BBM ? Jawabnya adalah karena sekarang harga Pertamax per liter adalah 12.000. Bahkan pernah mencapai 12.600. Ini lebih gila lagi.

Kita disuruh menggunakan BBM non subsidi, tapi harga Pertamax malah makin mahal. Monyet kali kan upss

Jadi, sekarang maunya Menteri dan Departemen ESDM ini apa? Saya sudah sangat mengerti kebaikan Pertamax bagi kendaraan. Tapi, kalau harga pertamax nggak diturunin, ya terpaksa kami balik lagi ke Premium. Dengan segala resikonya. Tapi terlalu berat menggunakan Pertamax karena mobilitas suami dengan motor sangat tinggi. Apalagi dengan gaji saya dan honor suami yang ngepas buat kebutuhan sehari-hari dengan seorang bayi.

Jadi, saya harap menteri ESDM dan departemennya yang pasti pintar, maylah maulah berbaik hati sedikit untuk menurunkan harga pertamax.

4 responses to “Tentang Pertamax dan Move On yang Gagal

  1. Nich 19 Februari 2014 pukul 8:53 am

    Sama seperti prihal gas elpiji 12kg nih, kak.
    Kedua produk ini gak dapat subsidi, jadi (CMIIW) seluruh biaya produksi ditanggung oleh pelanggan. Jadi gak dibantu dalam kontrol harga oleh pemerintah.

    TAPI, bukan berarti pemerintah gak bisa bikin manuver untuk menciptakan proses produksi dengan angka akhir biaya produksi yang lebih murah sih, menurutku.

    • weirdaft 19 Februari 2014 pukul 4:32 pm

      Nah, disini kan nggak cuma diperlukan usaha pelanggan aja, Nich. Tapi juga gimana usaha pemerintah untuk mensukseskan program bbm non subsidi ini. kalau aku bilang, disinilah liciknya pemerintah ini. ketika kita dihadapkan pada pilihan tentang produk bagus yang memang mahal, atau bbm berbahan timbal dengan harga murah. Pelanggan yg berpikiran jangka panjang dan dana yang cukup, pasti akan memilih pertamax. nah, yg kayak aku ini, kan cukup membebani.

      Dan aku setuju, kalau pemerintah memang fair, cobalah untuk menciptakan produk yang berbiaya produksi murah tetapi bagus dan nggak mahal. sebelum akhirnya nanti benar2 ada energi alternatif yang bisa bikin bangkrut bumn itu.

  2. handz106 19 Februari 2014 pukul 12:04 pm

    Pertamax hanyalah premium yang diberi aditif oleh Pertamina. Kalau hanya ingin menaikkan angka oktan, beli saja premium dan tambahkan aditif lokal merk Norival.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: