Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Pemadaman Bergilir

Sudah hampir sebulan ini pemadaman bergilir diberlakukan lagi oleh PLN. Dan bisa dipastikan, hampir setiap hari makian demi makian memenuhi tab mention akun @pln_123 di twitter. Membacanya mendatangkan marah sekaligus miris. Betapa lembaga vital di negara ini mampu menggelapkan sebagian kota. Dan janji-janji PLN yang katanya pemadaman bergilir tidak akan terjadi lagi setelah 2013, hanya tinggal janji. Palsu.

Pemadaman bergilir tak cuma terjadi Sumatera Utara. Tapi juga didaerah lain di Indonesia. Dan kerugian demi kerugian pun dialami oleh pengusaha -pengusaha kelas menengah ke bawah yang usahanya bergantung pada listrik sebagai kebutuhan utama.

Dan giliran mati listrik juga melanda daerah rumah kami. Anehnya memang jarak antara giliran dalam 1 wilayah hanya berjarak 5 sampai 6 jam. Yang kalau dihitung, setiap rumah di wilayah Medan dan sekitarnya akan mendapat giliran pemadaman listrik selama kurang lebih 6 jam. Dalam sehari, setiap rumah akan mendapat giliran 2 sampai 3 kali dengan total pemadaman juga 5 sampai 6 jam. Dan giliran itu bisa terjadi pada pagi, siang, sore atau malam. Tergantung kehendak hati operator yang bertugas memadamkan listrik.

Setiap kali pemadaman bergilir terjadi, pasti akan menimbulkan marah. Bukan cuma karena cuaca yang panas, banyak nyamuk dan bayi saya yang rewel. Tapi juga trauma akibat pemadaman bergilir ini.

5 bulan yang lalu, 4 hari setelah saya melakukan SC dan sehari setelah saya berada di rumah ayah saya. Dengan kondisi luka akibat SC yang masih terasa setiap kali saya bergerak, emosi yang tak terkontrol akibat pasca persalinan, wilayah daerah kami mendapat pemadaman bergilir. Yang jadi kekuatiran saya pada saat itu adalah bayi berumur 4 hari yang mulai rewel karena kepanasan.

Jadi, menunggu listrik kembali menyala, kami berkumpul di ruang tamu. Si bayi saya letakkan di sofa sambil dikipas untuk mengurangi rasa panas. Dan karena kondisi saya juga sedang tak sehat, suami saya mengijinkan saya tidur duluan dan dia yang menjaga bayi kami. Sekitar jam 23.30 lebih, waktu saya bersiap-siap naik ke tempat tidur, pintu rumah kami digedor. Saya yang baru saja naik tempat tidur dengan susah payah, kaget. Ada masalah apa diluar sana? Dan satu teriakan membuat saya melupakan perut yang masih luka dan saya melompat dari tempat tidur.

“Kebakaran, kebakaran!!”

Tanpa berpikir apa-apa lagi, saya keluar kamar, menggendong bayi saya dan membangunkan adik, kakak ipar dan 3 ponakan yang sudah tidur nyenyak. Tengah malam kami keluar dan melihat kobaran api sedang melalap satu rumah yang hanya berjarak 1 rumah dari rumah ayah saya. Dan dari situlah kebakaran berasal. Dan yang menjadi drama adalah, tepat disebelah kiri sumber kebakaran adalah sebuah toko gas yang baru saja menerima stok pada pagi harinya.

Dan tengah malam yang gelap itu, kamu kami menyaksikan dengan kekhawatiran. Api yang menjalar dengan cepat, sudah melalap seperempat rumah disebelah rumah ayah saya. Segala puji syukur kepada Allah dan terima kasih kepada pemadam kebakaran yang datang tepat waktu. Sehingga kebakaran bisa dipadamkan. Satu rumah tempat usaha jualan mie balap habis terbakar, seperempat bagian rumah disebelahnya juga dimakan api. Dan Alhamdulillah rumah kami kebagian asap pekat akibat kebakaran.

Setelah polisi datang menyelidiki, ternyata kebakaran terjadi karena lilin yang menyala ditinggalkan dalam kondisi rumah yang kosong. Dan ketika batang lilin habis, maka dengan cepat api membakar alas yang mudah terbakar.

Dan malam menjelang pagi itu juga saya dan bayi saya yang berusia 4 hari ikut mengungsi ke rumah mertua abang saya. Karena kondisi rumah kami yang penuh asap.

Itulah yang membuat saya juga ikut marah dan memaki-maki pln setiap kali pemadaman bergilir terjadi. Trauma itu masih saya rasakan. Apalagi kalau pemadaman bergilir terjadi pada tengah malam. Seolah kejadian 5 bulan lalu tergambar jelas dimata saya.

Mungkin, kalian akan mengusulkan ke saya, “kalau mati lampu ya jangan pake lilin lah. Pake emergency lamp. Beli genset. Jadi jangan nyalahin PLN”.
We did, buddies. Kami sudah belu beli genset, beberapa emergency lamp, dan berhenti menggunakan lilin.

Kebakaran itu terjadi memang karena lilin yang ditinggal penghuni rumah dalam keadaan menyala. Kebakaran terjadi karena keteledoran pemilik rumah. Tapi, mereka menyalakan lilin karena listrik mati kan? Jadi, mengerti maksud saya, kan?

Dan bebetapa hari setelah kejadian itu, di tivi lokal muncul berita yang mirip. Di daerah Tanjung Balai, satu keluarga tewas karena menghirup asap genset yang dinyalakan akibat padam listrik.

Jika mencari-cari kesalahan, kematian itu terjadi juga karena keteledoran pemilik rumah yang seharusnya meletakkan mesin genset di tempat terbuka, bukan didalam ruang tertutup. Tapi,genset itu juga dinyalakan karena terjadi pemadaman listrik kan? Jadi, sampai disini semakin mengerti maksud saya kan?

Jadi, itu sebabnya setiap kali pemadaman listrik terjadi saya menyalahkan PLN sebagai satu-satunya penyedia listrik di negara ini. Dan alasan pemadaman bergilir kali ini, bukan cuma karena adanya perbaikan gardu dan bla bla bla, tetapi admin @pln_123 juga sudah mulai memberikan alasan baru, yaitu “defisit daya”. Lalu, sikusi solusi dari PLN apa? Tak ada. Kita cuma disuruh bersabar, sampai batas waktu yang tak bisa ditentukan.

Jadi, sepertinya kita memang harus tetap bersabar dengan defisit daya yang melanda Medan, Sumatera Utara dan Indonesia. Sampai kapan? Hanya Tuhan, Dahlan Iskan dan petinggi PLN yang tau.

Iklan

3 responses to “Pemadaman Bergilir

  1. Pingback: Adakah Kompensasi atas Kinerja Buruk PLN? | Nich bukan nik atau nih

  2. Nich 21 Februari 2014 pukul 3:01 pm

    Aku sudah saksikan sisa-sisa warung mie balap langganan ku itu, kak.

    Ya, memang yang menjadi permasalahan, jadwal pemadaman gak pernah disampaikan dengan jelas (apalagi akurat).

    • weirdaft 21 Februari 2014 pukul 11:16 pm

      Itu dia, Nich. waktu aku ngomel2 dan mengeluhkan pelayanan pln, nggak sdkt yg mgkn berpikir aku nynyir tanpa pernah tau sebabnya apa.

      tapi, sebagai pelanggan yg nggak punya pilihan, kita nggak bisa apa2 selain sabar.
      anyway, thank link-nya dicantumin. jd kena imbas terkenal aku 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: