Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Wisata Sejarah di Istana Maimoon

May Day kemarin adalah Hari Buruh pertama yang diliburkan secara nasional. Dan bagi buruh seperti saya, tanggal merah itu adalah anugerah. Tak cuma karena tidak bekerja seharian, tapi juga bisa quality time dengan Ayyash. Nah, May Day kemarin yang bertepatan dengan hari Kamis, tak ingin saya lewatkan hanya bermain bareng Ayyash di rumah. Lagi pula saya juga udah janji dengan Wawa, ponakan saya, bahwa hari Kamis yang libur itu saya mau ngajak Wawa ke Istana Maimoon, yang belum pernah dia datangi.

Sebagai orang Medan, mengenal objek wisata sejarah di kota ini adalah wajib menurut saya. Gunanya ya, supaya waktu ada yang tanya tentang apa yang ada didalamnya, kita bisa jawab karena kita pernah kesana. Jadilah hari Kamis kemarin kami pergi. Tapi tak cuma saya, adek saya, Wawa, Ayyash dan Ayahnya dan Apit yang pergi. Tapi abang saya dan Ayah saya juga ikut. Jadilah hampir sekeluarga kami kesana 😀

IMG_2558

Salah satu bagian istana

Tak banyak berubah sejak saya kesana beberapa waktu yang lalu, ketika kami mengajak ibu mertua dari Jawa Tengah berkeliling kota Medan dan singgah ke Istana kebanggaan masyarakat kota Medan itu. Artinya, itu setahun yang lalu 😐 Hanya saja, didalam semakin bertambah kios kecil yang menjual oleh-oleh cendera mata khas Medan. Lebih sesak tentu saja. Tapi tak ada perubahan yang berarti. Foto-foto Sultan dan Ratu terdahulu sampai sekarang masih terpajang di tempat yang sama. Senjata dan alat musik juga. Singgasana Sultan juga masih sama. Tak ada yang berbeda. Hanya saja, renovasi setahun lalu sudah selesai. Dan sebagai tambahan, ada papan informasi tentang awal sekali Kesultanan Deli ini berdiri, hingga Sultan yang terakhir.

Ah iya, ketika masuk ke Istana, kita harus membeli tiket masuk seharga Rp. 5000,- /orang. Tak mahal pastinya. Lagi pula dengan harga tiket segitu, kita bisa keliling istana, take pictures many times, dari pagi sampe sore, ketika pintunya ditutup. Dan dengar-dengar memang dengan diberlakukannya tiket masuk tersebut adalah untuk perawatan istana. Memangnya pemerintah nggak mau ikut menanggulangi perawatan istana yang didirikan sejak 26 Agustus 1888 itu? Entah. Untuk yang ini saya nggak berani komentar deh 😀 Mudah-mudahan pemerintah mau ikut serta menanggulangi perawatan istana bersejarah ini, supaya spot-spot yang ada didalam istana tak cuma sekedar jadi tempat jualan, tapi benar-benar jadi objek wisata.

IMG_2647

Tiket masuk

Selain keliling dan mengabadikan istana, didalam juga tersedia penyewaan baju adat Melayu. Nggak mahal, cuma dengan Rp. 10.000,- saja kita sudah bisa pakai baju adat Melayu sepuasnya. Mau sekalian foto prewed alakadarnya juga bisa kok. Sampe puas, asal tahan panas aja. Dan disediakan juga jasa foto langsung jadi, dengan biaya Rp. 10.000,-/lembar. Hasil fotonya juga bagus kok.

 

Ketika memasuki Istana, disebelah kiri terdapat foto awal berdirinya Istana Maimoon. Masih terdapat bangsal didepan istana, sepertinya tempat tinggal penduduk. Lalu juga ada gambar silsilah kerajaan dengan tulisan Arab gundul. Susah bacanya. Memasuki ruangan utama Istana, disebelah kanan berdiri singgasana Sultan dengan warna kuning cerah, khas Melayu. Lalu ada meja-meja dan kursi antik yang diatasnya diletakkan foto-foto anggota keluarga kerajaan dengan pejabat pemerintahan Belanda maupun Indonesia. Di dinding terdapat foto-foto Sultan dari Sultan pertama hingga Sultan yang saat ini memerintah. Lalu di ruangan sebelah kiri, selain furniture dan foto-foto juga terdapat senjata-senjata khas yang dimiliki oleh Sultan, baju resmi yang pernah dipakai oleh para Sultan, perhiasan yang digunakan Ratu terdahulu, dan juga alat-alat musik khas Melayu Deli. Di sebuah ruangan di belakang singgasana Sultan, terdapat beberapa buah papan yang berisi informasi tentang sejarah berdirinya Kesultanan Melayu Deli dan juga para Sultan yang pernah memerintah. Dan foto-foto tentang kegiatan anggota keluarga istana dari masa ke masa.

 

Beberapa kamar memang dibiarkan tertutup. Mungkin pihak Istana punya alasan sehingga tak pernah membukanya untuk umum. Padahal, saya percaya, banyak yang penasaran pengen lihat kamar-kamar yang pernah ditempati para Sultan dan Ratu itu.

Puas keliling-keliling istana, kami mendatangi satu tempat yang tak boleh terlewatkan. Rumah Meriam Puntung. Untuk masuk ke dalam, melihat ujung meriam yang puntung, mendengar cerita legendanya dan menyentuh meriam, kita cukup membayar Rp. 3000,- saja. Itu untuk perawatan rumah Meriam Puntung dan juga untuk penjaganya. Disitu kita akan mendengar cerita legenda mengapa sebuah meriam bisa terbelah menjadi tiga dengan potongan yang letaknya berbeda-beda.

IMG_2608

Rumah Meriam Puntung

So far, perjalanan kemarin cukup menyenangkan. Selain bisa memperkenalkan sejarah kepada Wawa, juga bisa bikin Ayah saya nostalgia tentang Istana Maimoon ini 😀

Jadi, kalau kalian berkesempatan untuk berkunjung ke Medan, sebaiknya jangan lewatkan Istana Maimoon, istana kebanggaan masyarakat Melayu dan kota Medan. Dan temukan pengalaman yang berbeda disana.

Sayangnya memang, disana nggak ada guide yang bisa menceritakan sejarah berdirinya Kesultanan Deli ini. Pengunjung harus mencari tau sendiri tentang sejarah Istana Maimoon dari foto-foto yang terpajang dan juga papan informasi.

IMG_2589

Saya, di lantai Istana 😀

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: