Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Pemilihan Presiden dan Golput yang Tobat (sementara)

Tahun 1999 saya adalah pemilih pemula. Tahun itu pula pemilu legislatif yang pertama sekali dilaksanakan secara demokrasi, dengan jumlah partai yang membengkak menjadi 48 partai dari hanya 3 partai pada pemilu terakhir Orde Baru yang dilaksanakan pada tahun 1997. Sebagai pemilih pemula, disuguhi dengan 48 partai yang harus dipilih, dengan puluhan caleg yang harus dipilih, jelas membingungkan saya. Pada saat itu, sebelum masuk ke TPS, saya sempatkan untuk berdiri di luar TPS. Membaca tata cara pemilihan bagi para pemula seperti saya. Dan mengamati calon-calon anggota legislatif yang katanya akan membawa perubahan bagi negara ini yang jumlahnya puluhan. Dengan segenap kebingungan yang memenuhi kepala anak yang baru selesai SMA, akhirnya saya memutuskan, untuk mencoblos lebih dari satu caleg. Dan suara saya batal. Pemilu saya yang pertama dan golput saya yang pertama.

Tapi itu tidak menjadi satu-satunya. Pilihan saya untuk golput dengan membatalkan suara pada  setiap pemilu akhirnya terus berlanjut. Pemilihan Presiden, Gubernur dan Walikota, saya terus membatalkan suara. Hingga Pemilu Legislatif 9 April kemarin, saya kembali membatalkan suara saya. Bukan tanpa alasan. Karena saya telanjur tak percaya dengan janji-janji yang diucapkan para calon pemimpin negeri ini. Yang membuai saya dengan kata-kata “Kalau saya terpilih…” dan akhirnya kalimat itu menjadi terlupakan ketika benar-benar terpilih. Tak bisa dipungkiri, Walikota Medan dan Gubernur Sumatera Utara adalah tersangka kasus korupsi. Lalu, mana amanahnya ketika akhirnya mereka menjadi penghuni penjara ekslusif karena membohongi pemilihnya?

Dan ketidakpercayaan saya terus berlanjut.

Tapi hari ini, dihari terakhir masa tenang, karena besok adalah 9 Juli, hari Pemilihan Presiden untuk masa bakti 2014 – 2019, saya memutuskan untuk berhenti golput untuk sementara. Saya akhirnya memutuskan untuk ikut serta dalam pesta demokrasi kali ini dengan menjatuhkan pilihan pada salah satu dari dua Capres dan Cawapres yang ada. Saya ingin, suara saya masuk dalam proses penghitungan sebagai suara yang sah, bukan lagi sebagai suara yang batal seperti pemilu yang biasanya.

Apa yang membuat saya memutuskan untuk memilih kali ini? Saya ingin merasakan rasa kecewa ataupun bangga dan bahagia ketika Capres pilihan saya terpilih ataupun gagal. Saya ingin menjadi bagian dari suatu euforia yang dirasakan hampir seluruh anak bangsa menyambut Pilpres 2014 yang luar biasa meriah kali ini. Dan saya ingin, menjadi warga negara yang seharusnya. Bersuara dan mengambil haknya.

Siapa Presiden pilihan saya? Ah, itu akan menjadi rahasia saya dan Tuhan sajalah. Saya masih memegang azas Pemilu yang sakral itu sebagai Langsung Umum BEbas dan Rahasia itu. Kenapa saya tak ikut-ikutan beberapa kawan yang dengan berani, bangga transparan menampilkan avatar yang mendukung Capres pilihan mereka. Saya salut dengan kawan yang dengan berani dan bangga menampilkan pilihannya, tapi bagi saya, pilihan itu tetap menjadi pilihan yang hanya saya dan Tuhan yang tau.

Maka, selamat berpesta esok hari, kawan. Kali ini, saya akan menjadi salah satu peserta pesta demokrasi yang damai ini. Kita akan menikmati proses demokrasi yang seharusnya tak memecah belah persatuan dan pertemanan kita, meski kita berbeda pilihan.

Selamat memilih!!

😉

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: