Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Dear Mr. President

Bertahun-tahun ikut pemilu, baru pada Pemilihan Presiden kemarin saya akhirnya mensahkan suara saya. Berhenti golput (sementara). Karena menurut saya, rugi rasanya kalau saya nggak ikut euforia pemilihan kali ini yang melibat dua orang negarawan yang mampu membuat semua laman sosial media berdebat untuk mengunggulkan calonnya masing-masing.

Seperti kita ketahui, akhirnya Joko Widodo, (mantan) Gubernur Jakarta yang akhirnya berhasil terpilih sebagai Presiden ke – 7 di negara ini. Dan kemarin, kita punya presiden baru. Saya sendiri bukanlah ‘anggota’ yang ikut memasang profil picture salam dua jari di media sosial saya. Sebagai swing voter, (mantan) golput (yang sepertinya masih akan terjadi lagi kalau saya nggak mood buat milih), saya memilih untuk menampilkan profile picture yang netral. Karena saya masih melihat keunggulan masing-masing calon. Tetapi bisa menerima bahwa akhirnya Joko Widodo adalah presiden yang fotonya harus dipajang di setiap instansi dan kantor-kantor di seluruh Indonesia selama 5 tahun ke depan.

Saya sendiri adalah pemilih Prabowo Subianto dengan alasan-alasan tertentu. Jangan protes. Saya sendiri tak pernah menghakimi pilihan orang lain. Toh namanya juga pemilihan umum, saya kan berhak untuk memilih siapapun yang sesuai dengan hati nurani saya. Walaupun pilihan itu tak populer di jagad sosmed. Dan saya sedang tak ingin berdebat tentang apa yang saya pilih. Lagipula, sama seperti Calon Presiden yang tidak terpilih pilihan saya, saya bisa menerima Joko Widodo sebagai Presiden Indonesia ke 7.  Tanpa protes, tanpa misuh-misuh seperti pendukung fanatik Prabowo yang lain. Saya mencoba fair, bahwa menerima adalah yang paling baik saat ini. Dan mengawasi setiap janji yang pernah terucap ketika kampanye dahulu. Tanpa perdebatan lagi, yang akhirnya cuma akan memperbesar jurang perbedaan.

Maka, secara resmi, saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Susilo Bambang Yudhoyono yang telah memimpin negara ini selama satu dasawarsa, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Memang tak mudah memuaskan setiap orang. Apalagi 200 juta lebih rakyat Indonesia. Terima kasih kepada Bapak Boediono yang bekerja dalam diam, tanpa minta publikasi berlebih, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Terima kasih telah bersedia memimpin negara ini beserta seluruh rakyatnya yang banyak maunya, dengan segala protes dan dukungan, dan tetap tersenyum apapun pendapat masing-masing rakyat.

Bagaimanapun, segala euforia, segala pesta, memang harus berakhir. Dan kini saatnya, segala janji yang pernah terucap harus ditunaikan. Lunas. Maka, selamat bekerja, Bapak Presiden. Semoga tabah, tetap amanah dan selalu istiqomah.

2 responses to “Dear Mr. President

  1. siregarwindi2014 22 Oktober 2014 pukul 9:54 am

    ahh.. kemarin aku terlalu euphoria, sehingga memasang presiden di dp bbmku. Kemudian tersadar, beliau juga harus dikawal dan dipantau oleh rakyatnya. Hasil kerja nyata masih belum tampak. Ada pada Jakarta, tapi belum pada Indonesia. Tulisanmu menyadarkan akuuhh. Hihihih makasiii wirda :*

    • weirdaft 22 Oktober 2014 pukul 10:41 am

      Hehehe…. Sama-sama kak. Aku juga harus fair kan, biarpun yang menang bukan pilihanku, tetap harus bisa terima kan. Caranya ya sama2 kita kawal dan ingatkan kan kak

      *kibas jilbab*
      *salaman*😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: