Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Terlatih Patah Hati*)

Aku sudah mulai lupa
Saat pertama rasakan lara
Oleh harapan yang pupus
Hingga hati cedera serius

Belakangan saya lagi senang-senangnya dengar lagu Terlatih Patah Hati  milik The Rain feat. Endank Soekamti *). Ini lagu tragis menurut saya. Lagu sedih dengan nada yang menghibur diri sendiri. Dan lagu ini bisa disebut ‘gue banget’😀 Seandainya lagu ini udah ada sekian tahun yang lalu, pasti lagu ini yang akan memenuhi hari-hari saya tanpa jeda.

Terima kasih kalian
Barisan para mantan
Dan semua yang pergi
Tanpa sempat aku miliki

Soal patah hati, saya kerap kali bilang ‘been there, done that’. Bahkan sambil menepuk-nepuk hati yang sepertinya goresannya sudah mulai menebal. Sembuh perlahan, tapi bekasnya tak hilang. Tak lekang meski waktu berlalu hari demi hari. Buat saya, patah hati adalah monumen untuk mengingatkan saya, bahwa saya pernah jatuh, enggan bangkit, berkubang lumpur perih dan benar-benar menikmati setiap patahan hati yang meninggalkan bekas dan bahkan menimpa bekas-bekas lama yang terkadang belum kering. Saya bahkan benar-benar pernah lupa bagaimana rasanya jatuh hati dan perihnya patah hati. Saya membalut hati saya dengan tebal, sengaja membekukan, karena saking seringnya sakit dari pada senang😀 Lebay ya. Tapi percaya atau nggak, memang itu yang saya alami. Sejak pertama kali merasa jatuh cinta. Pada dia. Cinta pertama saya ;))

Tak satupun yang aku sesali
Hanya membuatku smakin terlatih
Oh

Cinta pertama dan patah hati yang pertama kali. Saya justru belajar mengobati luka hati pada saat pertama kali jatuh hati. Ketika akhirnya dia justru memilih orang lain. Dan saya kenal dengan orang lain itu. Jangan ditanya rasanya kayak apa. Tapi sepertinya bakat saya untuk belajar mengobati patah hati memang terasah dari sana. Bahkan, saking hebatnya saya belajar, dia nggak pernah menyangka bahwa saya suka dia. Saya memang pintar menutupi perasaan sendiri. Tetap tertawa, padahal dalam hati rasanya udah ntah kayak apa😀 Saya masih sebelia itu, tapi sudah bisa belajar mengobati patah hati kronis.

Begini rasanya terlatih patah hati
Hadapi getirnya terlatih disakiti

Tapi seperti lirik diatas, patah hati membuat hati saya justru semakin kuat untuk menerima hal-hal yang lebih buruk dari itu. Terbiasa. Kebal. Terlatih. Dan saya bisa mengantisipasi tanda-tanda bahwa kalau alurnya begini, apa efeknya buat hati saya. Tapi ya, namanya juga hati, bukan logika. Tetapi aja alurnya beda. Kadang suka nggak kompakan. Suka ambil alur sendiri, padahal kondisi Yes atau No nya udah saya stel di flowchart, tetap aja bikin algoritma sendiri. Ya, akhirnya patah hati lagi. Sakit lagi. Ngerasain perih lagi. Belajar dari awal lagi. Tapi, saya lebih kuat dari patah hati sebelumnya.

Bertepuk sebelah tangan  (sudah biasa)
Ditinggal tanpa alasan (sudah biasa)
Terluka itu pasti
Tapi aku tetap bernyanyi

Setelah sembuh dari satu patah hati, saya beranikan diri untuk menghadapi lagi hati yang lain. Mencoba untuk bangkit lagi. Saya toh masih muda. Masih banyak kesempatan. Maka saya memberanikan diri untuk belajar membuka hati. Bertepuk sebelah tangan sih sering. Mungkin para cowok itu dulu agak aneh ya liat gaya saya yang hancur. Cewek, tapi nggak keliatan kayak cewek. Siapa yang mau? Tapi kemudian, sempat berdekatan, dengan seorang TTM dan ber-HTS-an. Begitu saja. Entah apa sebabnya kami tak pernah maju dari langkah itu. Saling memperhatikan. Saling berbagi cerita. Saling mengenal. Tapi tak pernah ada satu kesepakatan bahwa kami akan sampai pada satu keputusan untuk saling menyerahkan hati satu sama lain. Sampai akhirnya saya terima undangan nikahnya😀 Bisa bayangin? Ber-TTM, ber-HTS, akhirnya ditinggal kawin (silakan ngakak guling-guling). Saya memutuskan untuk berhenti jatuh hati.

Beberapa waktu kemudian, setelah insiden ditinggal kawin itu, saya bertemu seseorang. Lagi. Kali ini dia memberanikan diri untuk bersepakat saling mengenal dan melanjutkannya dalam sebuah hubungan yang statusnya jelas. Tapi itupun hanya beberapa bulan sahaja. Tanpa alasan yang jelas, tau-tau dia menghilang. Tanpa jejak, tanpa bekas. Sampai pada suatu waktu, sebuah pesan di Yahoo Messenger saya muncul namanya yang sempat saya hapus. “Kamu apa kabar?” “Selain hati saya yang patah, saya baik-baik saja”. Sarkas ya. Lalu saya harus bilang apa? Sekian waktu kemudian, dia pikir mungkin saya sudah berdamai dengan luka. Dia kembali menyapa, “Kamu apa kabar?” “Baik” “Eh, kamu jurusan komputer kan. pasti ngerti database. Ada yang mau saya tanya.” HAHAHAHAHAHAHAHAH!!!!!

Lama tak kudengar tentangnya
Yang paling dalam tancapkan luka
Satu hal yang aku tau

Terkadang dia juga rindu

Sekian waktu saya sempat mengistirahatkan hati. Benar-benar belajar berdamai dengan segala perih, luka dan patah hati. Tak peduli dengan umur yang semakin bertambah dan pertanyaan tentang kapan menikah yang kerap kali ditujukan. Sampai akhirnya sebuah perjalanan waktu mempertemukan saya dan dia dengan cara yang tak biasa. Dia yang sekarang menemani saya menjalani hidup. Menjadi imam yang harus saya patuhi. Yang mengenal sisi buruk dan baik saya. Yang bisa menerima segala kekurangan saya. Yang tau kapan harus mengalah ketika menghadapi kekeraskepalaan saya. Dia yang mengajak saya untuk menjalani proses hidup bersama-sama ketika kami sudah lelah dengan segala patah hati. Dia yang sekarang menuntun dan menggandeng tangan saya. Bertiga bersama Yash. Insya Allah orang yang tepat.

See ? Patah hati tak seburuk itu. Ingat sebuah quote yang bilang, “Kadang Tuhan memang mempertemukan kita dengan orang yang salah dulu sebelum akhirnya bertemu dengan orang yang tepat”. Been there, done that. Toh saya masih hidup sampe hari ini. Nggak pernah punya niatan bunuh diri gara-gara patah hati ditinggal kawin. Saya belajar menjalani suatu waktu dengan orang-orang yang salah. Belajar menjadi kuat dengan menghadapi patah hati. Dan saya berterima kasih kepada mereka semua. Yang menjadikan saya berani berdiri tegak mengangkat kepala, menantang hidup.

Dan lagi, ingat sebuah quote yang lebih terkenal dari itu? Bahwa dibalik sebuah kesuksesan, ada mantan yang menyesal😀

Maka, nikmatilah lagu ini. Seperti saya menikmati lagu ini dalam senyum. Mengingat segala kenang tentang mereka yang sempat singgah dalam hati dan menoreh luka yang masih membekas hingga kini. Hanya membekas, tanpa rasa sedih.

Begini rasanya… Terlatih patah hati….

 

 

 

 

 

 

 

7 responses to “Terlatih Patah Hati*)

  1. badsong! 30 Oktober 2014 pukul 11:29 am

    intro lagu ini plagiat intro laguNy Avril Lavign! bukan cuma satu tapi dua lagu sekaligus dalam satu intro!! Alone dan Dont Tell Me. Mothafckrplagiarism!!

  2. Aji Di Sini 7 November 2014 pukul 12:05 pm

    Kalo saya bukan mau komen soal lagunya, tapi bagaimana nostalgia saya bisa tersasar ke blog mbak-nya ini pas bgt saat si mbak-nya masih menulis klo-gak-salah tema2 berdamai dengan luka dan ada gambar lope retak2 gitu😀 bener gak tuh tebakan daya ingat otak saya yg juga mulai retak :)) daan sekarang sudah bisa baca artikel2 baru dengan tema2 yang lebih bahagiaa, ahaaak, numpang ikut berbahagia buat mbaknya boleh ya mbaak😀 *peluk dari jauh* <—-sok kenal bgt :))

    • weirdaft 7 November 2014 pukul 4:20 pm

      jiahahahahah… *peluk balik*

      itu berapa taun yang lalu yak, waktu ceritanya berdarah2 melulu. iya bener tuh. dulu inspirasinya berlimpah justru karena sedang patah hati dan cedera serius kali😀
      sekarang sih udah benar2 berdamai dengan segalanya. belajar nerima lah. udah tua ini, masak nggak berubah jugak😀

      eniwei, makasih ya Ji, udah ingat sama isi blog ini, udah nyasar dan akhirnya mampir2 disini. semoga betah selalu😀

      • Aji Di Sini 8 November 2014 pukul 2:06 pm

        Hehehe sama sama mbaknya, blog si mbaknya malah yang nemenin saya dulu waktu kita masih bareng berdarah2 #apasih wkwkw

  3. Rinaldi Marulitua Sihite 6 Februari 2015 pukul 2:54 am

    intro nya mirip Oasis – Wonderwall sama Foo Fighters – Wheels. Coba dengerin, mungkin plagiat?

    • weirdaft 11 Februari 2015 pukul 8:58 pm

      Saya sih nggak liat plagiatnya. Kurang peka telinga saya sama musik. Cuma, lagu ini mengingatkan saya dengan saya yang dulu😀

      Terima kasih sudah berkunjung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: