Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Every Child is Special

Sebagai seorang (yang katanya) blogger, saya merasa gagal. 2015 sudah berjalan selama 42 hari, tetapi saya baru menuliskan posting pertama tahun ini tepat pada hari ke 42 dan pada bulan kedua. Seharusnya kesibukan nggak bisa dijadiin alasan kan ya. Dan saya nggak punya excuse buat bikin alasan apapun kenapa baru nulis sekarang. Intinya, saya memang malas :/

Jadi, menebus rasa bersalah, saya mau cerita sedikit soal film yang kemarin saya tonton bareng kawan-kawan di kantor. Saya penikmat segala film, yang penting filmnya bagus. Apalagi kalo ada pesan moralnya, lebih bikin saya bisa belajar dari situ.

Kapan itu, saya liat Nicholas posting tentang satu film di FB. Film India. Rekomendasinya sih bagus.Makanya saya donlot juga di torrent. Sebenernya saya males nonton film India. Bukan anti ya. Ada beberapa yang memang saya suka. Ada beberapa yang baru nonton, udah ditinggal. Atau kalau nonton hasil donlotan, pas bagian nyanyi-nyanyinya saya skip. Kelamaan. Tapi, kata adek saya yang penggemar film India, di lagu-lagu dan tarian itu lah esensi dari film India. Nah, ketika akhirnya saya baca sinopsis filmnya, saya yakin kalau film ini pasti bagus.

Taare Zameen Par judulnya, artinya seperti bintang-bintang di langit. Film yang disutradai dan diproduseri Aamir Khan, aktor top India. Film produksi tahun 2007 ternyata. Saya telat 7 tahun untuk nonton film sebagus itu!! Nggak heran kalau film ini menyabet beberapa penghargaan. Bahkan masuk ke dalam nominasi Academy Awards ke 81 untuk kategori Best Foreign Film, walaupun akhirnya karena satu dan lain hal, nominasinya dibatalkan.

taree zameen par

taree zameen par

Film ini bercerita tentang Ishaan, murid kelas 3 sekolah dasar yang bermasalah. Tak hanya 1, tapi seluruh mata pelajaran. Satu hal yang dia suka, melukis. Dan imajinasinya dalam memandang dunia ini, begitu luar biasa. Kedua orangtuanya menganggap bahwa Ishaan adalah anak nakal. Selalu membuat masalah. Karena guru-guru disekolahnya selalu mengeluh tentang Ishaan, akhirnya dia dikirim ke sekolah asrama. Ishaan menganggap keluarganya membuangnya, ibunya sudah tidak menyayanginya lagi. Ishaan depresi. Sayangnya, tak ada yang menyadari apa yang dideritanya. Semua menganggap bahwa Ishaan hanya murid bodoh yang pemalas. Sampai akhirnya, muncul seorang guru melukis pengganti. Mr. Nikhumb. Yang menemukan Ishaan yang hanya terdiam tanpa ketertarikan apapun di kelas melukis. Tak seperti teman-temannya yang antusias bermain warna dan berimajinasi dalam kertas gambar mereka. Ram Nikhumb mulai menganalisis, hingga akhirnya menyadari bahwa dyslexia-lah yang menyebabkan Ishaan ada di sekolah asrama itu.

Setiap anak adalah istimewa. Dengan segala tingkah lakunya. Anak adalah peniru terbaik. Apa yang dilihatnya, itulah yang akan dilakukannya. Anak merekam apa yang dilihatnya dalam otaknya, kemudian mempraktekkannya. Anak mempunyai imajinasi yang sangat tinggi. Sebagai seorang kanak-kanak, saya pernah berimajinasi sebagai anggota dari 5 sekawan, yang berpetualang tanpa kenal takut. Saya pernah berimajinasi sebagai salah satu anggota kerajaan negeri dongeng, yang memiliki banyak permintaan dan selalu dikabulkan Nirmala dengan tongkat ajaibnya. Saya pernah berimajinasi memiliki buntelan ajaib seperti Pak Janggut, yang bisa mengeluarkan benda-benda apa saja, tepat pada saat dibutuhkan. Bahkan, saya pernah meniru gaya Ikang Fawzi dengan syal berbentuk segitiga yang menutupi lehernya, dan saya sering disangka sakit batuk, karena mengikat sapu tangan dengan gaya yang sama dengan Ikang Fawzi. Yeah, that’s me.

Kita, pernah menjadi anak-anak. Dengan segala imajinasi tanpa batas. Kita pernah seperti Ishaan, yang memandang dunia hanya dari sudut pandang kanak-kanak kita. Tanpa beban. Melihat Ishaan, seperti melihat diri saya sendiri. Saya bukan penyandang dyslexia. Bahkan menurut almarhumah ibu saya, saya bisa membaca sejak usia 5 tahun, sebelum saya masuk SD. Tapi, saya pernah melakukan kenakalan-kenakalan seperti Ishaan. Kenakalan kanak-kanak yang seharusnya lucu, membuat gemas, tanpa menimbulkan kemarahan.

Film ini adalah pelajaran berarti untuk saya. Mengingatkan saya, bahwa Yash adalah spesial, sama seperti anak-anak lainnya. Yash pasti juga punya keunikan tersendiri, yang saya dan ayahnya harus siap menghadapinya, dengan penuh kesabaran. Karena seperti Ishaan, Β Yash juga pasti kelak akan menemukan kenakalan-kenakalan lucu khas kanak-kanak.

Iklan

11 responses to “Every Child is Special

  1. warm 12 Februari 2015 pukul 4:56 pm

    aku jd penasaran,
    dan aku sedih inget anak2 😦
    #malahcurcol

  2. Nich 12 Februari 2015 pukul 9:25 pm

    Sepertinya Aamir Khan ‘menyentil’ sistem pendidikan India, baik di film ini, maupun di 3 idiots ya, kak? Di saat dunia menekan seorang anak, kemana lagi anak berlindung kalau bukan kepada keluarganya. (Sangat disayangkan jika keluarga pun tidak berperan baik)

    • weirdaft 18 Februari 2015 pukul 9:24 pm

      Aku sepakat, Nich. seharusnya keluarga adalah yang paling pertama mengajarkan pendidikan. Tetapi agak susah, karena stigma orang-orang tentang orang pintar dan berhasil adalah ketika rangking 1. Semoga kita jadi orang tua bijak yang nggak melulu menganggap bahwa pintar adalah nomer satu dalam bidang eksakta

  3. Windi Siregar 13 Februari 2015 pukul 10:25 am

    Iya, sebenarnya semua diawali dari rumah yaaaa

  4. irda 16 Februari 2015 pukul 5:45 pm

    Lama nian rasanya awak tak mampir di blog ini πŸ˜€ *emang lama kan yak
    Setuju sama bg nich, film 3 idiot benar2 memiliki pesan moral yang baik ttg pendidikan, sayangnya, nilai moral yang bisa diambil hanya menempel sekejap saja terus membuyar entah kemana, tidak permanen, jadilah itu hanya sebuah film tanpa esensi yang ikut merubah keadaan pendidikan, miris…
    Sepertinya awak jadi penasaran pengen donlot juga πŸ˜€

    • weirdaft 18 Februari 2015 pukul 9:26 pm

      Mungkin karena mentri kita masih takut menjadikan kreatifitas sebagai perbandingan dalam bidang eksakta ya Ir. maka, nilai UN yang bagus masih menjadi tolak ukurnya. IMO

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: