Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Category Archives: #20HariNulisDuet

Cinta Yang Berbeda

Love is bullshit, isn’t???

Mereka yang percaya cinta hanyalah orang-orang bodoh. Makanya tak sekalipun aku pernah percaya pada cinta. Pacaran boleh, suka oke, tapi cinta??? itu lain soal.

 

Hei… jangan menghakimi aku sebagai seorang perempuan murahan atau perempuan tipe playgirl. Aku perempuan baik-baik. Hanya saja aku tak percaya pada cinta. Tidak… Tidak ada satu hal atau kejadian buruk apapun yang pernah kualami berkaitan dengan cinta. Aku hanya tak percaya cinta. Itu saja.

Bukan tanpa alasan aku tak percaya cinta. Ada sebab untuk sebuah alasan, kan? Dan ketika seseorang yang kau cintai sepenuh hati, kemudian menyakitimu begitu rupa, apakah kemudian ada yang tersisa untuk bisa dipercayai lagi? Kalau kau yang ada diposisiku, kau juga pasti akan berakhir pada satu kesimpulan yang sama. Love is all about bull shit!!

 

Ah iya, dia yang telah membuatku merasakan sakit yang begitu rupa ini, hanya dia yang akhirnya mendapatkan cinta itu sepenuhnya. Laki-laki yang mengejarku dengan segala rupa, laki-laki yang membuatku belajar mencintai, dan akhirnya dia pula yang membuatku berhenti percaya pada cinta. Lengkap, bukan?

 

Orang bilang, kau tak akan pernah dewasa bila kau tak pernah patah hati. Mereka juga bilang bila kau siap untuk jatuh cinta maka kau akan siap untuk mati. Bukankah siklusnya seperti yang ada di buku yang serius kubaca di coffeeshop favoritku saat pertama kali aku melihatnya. Jatuh cinta, patah hati, dan neraka. Ah… tak perlu sampai mati, tapi berada di neraka? Ya… aku pernah berada di neraka itu..

 

Ah… lekaki itu. Bagaimana mungkin aku bisa melupakannya?? Bahkan saat kami pertama bertemu pun aku masih mengingatnya. Karena saat itulah aku bisa memahami mengapa para penyair mendeskripsikan cinta dengan berbagai istilah. Meski tak satu orang pun yang tepat mendeskripsikannya. Tak ada degup jantung yang melonjak tajam. Tak ada telapak tangan yang berkeringat gugup. Tak ada duduk yang gelisah. Hanya ada senyum.

 

Jika kemudian menikah dan melewati masa pacaran yang begitu singkat, entah apa yang ada dikepalaku ketika mengiyakan permintaannya untuk menjadi istrinya. Dan pernikahan mewah pun digelar, sebagai anak pertama dan satu-satunya perempuan. Mestinya, pernikahan itu menjadi sesuatu yang membahagiakan untukku. Menikah, berkarir, memiliki anak, berbahagia. Mestinya itu! Bukan malam-malam penuh kesedihan dengan menunggu suami dan ketika dia tiba, bau parfum perempuan murahan yang tercium.  Aku mencintainya, dan apakah seperti ini balasan untuk cinta? Cinta yang susah payah aku bangun, dan ketika semua telah mewujud, semudah itu dia menghancurkannya?

 

Entahlah… Terlalu banyak jika kusebutkan perangai buruknya. Sebelum menikah Mama pernah berpesan, jangan ingat keburukan suamimu, tapi ingatlah apa perbuatan baik yang pernah dia perbuat padamu, cinta hanya bisa bertahan bila kamu selalu mengingat kebaikannya.

 

Aku selalu berusaha mengingat perkataan Mama. Bulan madu romantis di resort terpencil milik seorang berkewarganegaraan asing yang tinggal di Indonesia ini, kesediaannya menjagaku di rumah sakit saat aku tak sengaja terjatuh dari tangga sehingga kaki kiriku patah dua bulan setelah pernikahan kami, dia yang lebih memilih untuk mengantarku kontrol pasca operasi daripada menjalani meeting menjemukan di kantor. Kurang apa lagi dia sebagai suami??? Namun ternyata itu semua hanya semu. Dia memang mencintaiku. Tapi ia juga mencintai para perempuan diluar sana. Tiba-tiba aku tak yakin apakah cintanya untukku sama besar dan istimewanya dengan cinta yang ia berikan kepada para perempuan itu.

 

Entah sial, atau sebuah keberuntungan. Dengan segala sifat buruk yang dimilikinya, dia memiliki keluarga yang luar biasa. Mertua yang menyayangiku, abang ipar yang mengerti kesusahanku dan adik ipar perempuanku yang selalu menemani ketika aku perlu ditemani kemana saja. Hati kecilku percaya bahwa mereka tulus, karena seperti itu pula yang tergambar. Lalu, hanya ingatan tentang kebaikan keluarganya yang selalu teringat, bukan kebaikan dia.

 

Demi itu semua aku bertahan. Demi rasa cinta yang tanpa kusadari akhirnya perlahan-lahan mulai memudar. Kesibukannya sejak mengambil alih kantor cabang yang diberikan papa padaku, semakin membuat kami jauh. Tugas ke luar kota selalu menjadi alasannya untuk jarang pulang.

Aku berusaha memperbaiki semuanya, tapi tetap saja dia tak bisa menerima. Seolah segala sesuatu yang aku lakukan hanyalah kesalahan. Ketika aku memberi tahu papa tentang kesibukan menantu kesayangannya, papa memintaku untuk bersabar. Karena kantor cabang yang diambil alihnya terus berkembang, dan papa pun semakin mempercayainya dari pada aku.

Demi menjadi istri yang baik akupun melepas karierku sebagai salah seorang petinggi di kantor Papa. Hanya saham yang tetap menjadi bagianku. Papa memang melarang aku menjualnya. Bahkan saham bagianku tak bisa bisa dijual kecuali perusahaan juga ikut dijual. Aku juga menyerahkan sepenuhnya pengambilan keputusan dalam rapat dewan pemegang saham kepadanya. Kuputuskan total untuk menjadi ibu rumah tangga sejati.

Dia semakin jauh dari sosok yang kukenal di coffeeshop itu. Kata cinta yang terlintas dari bibirnya hanyalah sebuah kebiasaan tanpa ada makna didalamnya, pagi-pagiku tak lagi dihadiahkan ciuman mesra darinya, malam-malamku pun sepi. Perempuan bodoh. Tak mampu mengatur rumah. Dingin di tempat tidur. Adalah kamus barunya. Selama dia tak memukulku, kata-kata itu tak ada artinya.

Aku melayang antara sadar dan tidak saat aku mendengar suara-suara itu. Itu suara Nah yang sibuk bergosip dengan suara rendah. Kalau sudah bergosip Nah paling jago merendahkan suaranya seperti orang berbisik. Namanya juga gosip Buk, kalau keras-keras bisa terdengar orang, itu katanya padaku. Semakin kudekati suara itu semakin jelas. Apa yang sedang dibicarakan Nah? Mengapa suaranya seperti itu. Kubuka pintu kamar Nah yang tidak terkunci, dua sosok manusia sedang bergulat diatas ranjang. Kulit menyentuh kulit. Desah dan seruan tertahan saling bersahut-sahutan. Tapi bukan Nah yang ada diranjang itu. Ada seorang perempuan bertubuh sintal yang dikenalkan kepadaku seminggu yang lalu sebagai asisten baru di kantor cabang sedang mendekap erat laki-laki yang berada diatasnya, suamiku.

Pengkhianatan yang tak akan pernah bisa aku terima. Sudah cukup semua itu. Tak akan ada lagi maaf. Tanpa mempedulikan nasehat papa, mama dan keluarga mertua, aku mengurus segalanya sendiri. Sebulan setelah kejadian itu, kami resmi berpisah. Segala cinta yang pernah aku coba pertahankan, hilang tak berbekas.

Tapi perpisahan itu meninggalkan sesuatu di perutku. Kehamilan yang tak kuketahui sebelumnya. Sesuatu yang sebelumnya ingin ku buang, tapi berjalannya waktu, rasa sayangku tumbuh. Dia yang mengetahuiku mengandung anaknya, mencoba mendekatiku lagi. Dengan segala rasa penyesalan yang dia tunjukkan padaku. Kami memang masih sering bertemu, karena sejak kami berpisah,  Papa memberikan seperempat saham kepadanya. Tapi segala penyesalannya tak berarti bagiku. Buatku, dia bukan siapa-siapa lagi. Anak ini adalah anakku. Tak akan pernah aku ijinkan dia untuk mengakuinya sebagai anaknya.

Selama masa kehamilanku, abang iparku, maksudku mantan abang iparku, Riza, yang menemaniku untuk kontrol ke dokter. Dia merasa harus bertanggung jawab atas kelakuan adiknya dan bertanggung jawab atas calon keponakannya. Dan waktu, memang berkuasa untuk mengubah segalanya. Termasuk segala perasaan yang kami miliki. Hubunganku dengan Riza akhirnya berubah menjadi kasih sayang antara laki-laki dan perempuan. Rasa sakit yang aku miliki, begitu saja terhapus dengan segala ketulusannya. Laki-laki mana yang mampu mencintai perempuan hamil dan berat badan berlebih dengan begitu tulus? Suara paniknya yang terdengar begitu jelas ketika perutku terasa sakit pada bulan kehamilan ke lima. Dan hatiku terketuk begitu rupa.

Tak mampu kusembunyikan rasa puasku melihat wajah mantan suamiku ketika abang kandungnya mengucapkan akad atasku didepan penghulu dirumah mertuaku, tepat setahun setelah perceraian kami. Dengan memeluk anakku, aku menerima status baruku sebagai istri Riza, dengan mertua yang sama.

Masa lalu telah kucampakkan jauh ke belakang, bersama mantan suami yang terpuruk pada penyesalan. Dia memiliki segala hal, tapi tidak dengan kebahagiaan. Dia telah menghancurkan itu semua, ketika aku berhasil mewujud cinta baginya. Tapi sekarang, aku sedang berbahagia bersama orang yang benar-benar tulus mencintaiku, dengan segala kekurangan dan kelebihan yang aku miliki. Bersama Riza, aku merasa lengkap.

 

Tulisan ini untuk project #20HariNulisDuet hari ke – 6 dengan @putripwu 

K a r ma

Jika melepaskanku akan membuatmu menjadi lebih baik, maka itulah yang harus kau  lakukan.

Taukah kau, perempuanku, apa yang akan aku lakukan ini tak semudah seperti pesan yang kau tulis pada emailmu siang tadi. Sebuah email yang ku terima setelah bertahun tak ada kabar darimu. Hanya sebuah email samaran. Bukan sebenarnya. Bahkan setelah bertahun, kau masih tak ingin aku tau keberadaanmu.

Taukah kau, perempuanku, saat ini, ada seorang perempuan yang akan aku klaim sebagai perempuanku dalam waktu beberapa bulan lagi. Seorang  perempuan yang akan mengikatku dalam sebuah ikatan suci. Tapi kau, bahkan hingga kini masih lekat dalam ingatku. Entah apa yang ada dalam otakku, sehingga hanya kau yang ada didalamnya.

Aku laki-laki. Seharusnya melepaskanmu bukanlah sesuatu yang sulit. Mestinya, semudah aku mendapatkan siapa saja, semudah itu pula aku melepasmu dalam semua jejak hidupku. Menjadikanmu masa lalu yang tak berarti. Tapi kau, begitu istimewanya kau bagiku, sehingga aku betah berlama-lama memelihara luka yang kau gores dengan senyum lembutmu itu.

Seharusnya, keberadaan dia yang jauh berbeda darimu mampu membuatku meminggirkanmu dari hatiku dan meletakkan dia ditempat itu, sebagai satu-satunya perempuan dalam hidupku. Tapi saat ini, justru kau yang merajai hatiku, tanpa pernah dia tau isi hatiku sebenarnya.

Taukah kau, perempuanku, jika ingatanku kembali pada tahun-tahun kita bersama, ketika itulah ingatanku menyiksa diriku sendiri. Itu adalah tahun-tahun terbaikku bersamamu. Tahun-tahun yang tak akan pernah bisa kembali lagi, ketika satu kesalahan yang aku lakukan tak mampu membuatmu memaafkanku.

Luka yang sekarang aku pelihara, masih tumbuh dengan begitu suburnya. Dengan harapan kau yang akan menyembuhkannya kelak, bukan dia. Seharusnya bukan dia yang ikut memikul beban yang aku buat ini. Bukan dia yang tak pernah mengetahui cerita cinta kita dulu, yang bahkan para pangeran akan iri jika mengetahuinya.

Perempuanku, jika kau ingin aku melepas segala ingatan tentangmu, aku akan mencoba untuk melepasnya. Bukan demi membuatku lebih baik lagi. Bukan pula demi dia yang akan mendampingi hidupku kelak. Tapi, demi agar kau bisa berbahagia dengan siapapun dia, yang mampu membuatmu tersenyum bahagia, bahkan ketika luka meraja.

Dan kini aku berada di ujung tebing, sosokmu ada di belakangku seolah -olah terus membayangiku, sementara perempuan yang ada kini di hadapanku telah menunggu di seberang dengan jembatan yang telah ia bangun. Memang bukan salahmu jika saat itu kamu ragu padaku, karena aku pun tidak punya nyali untuk menetapkan hati di ikatan janji selamanya denganmu. Ah, akan kusesali malam itu, malam terakhir yang seharusnya kugunakan untuk terus meyakinkanmu untuk terus maju bersama langkahku.

Kini tidak ada lagi penyesalan yang bisa membawaku kembali padamu, tak sedikitpun jejak yang bisa membuatku berbalik, janji telah kuikat bersama dengannya, sebentar lagi, di ujung pelaminan itu, aku dan dia akan menyatu, cincin yang indah telah terpatri di jemariku dan ketahuilah sayang, terlebih lagi cintamu, cinta kita telah kupelihara selama kau pergi di ruang jiwaku, diam – diam kutaburi subur dengan rindu, tiap kali kupupuk dengan memori indah tentang kita, tak terlihat, tak tersentuh oleh siapapun, namun lihatlah indah taman yang kubangun disana.

“Maafkan aku sayang, aku tidak bisa melepaskannya.” bisikku berulang kali di kedalaman hati, setiap kali dia menatap wajahku dengan matanya yang penuh cinta. Dan setiap kali kita bercinta, aku selalu menangisi diriku dan dirimu, maafkan aku perempuanku, aku pun tidak bisa melupakan cinta kita. Sesungguhnya aku tak pernah berhenti mencintaimu, selamanya, bahkan jika jiwa ini sekarat, perempuanku, tahukah kamu itu?

 

Tulisan untuk project #20HariNulisDuet dengan @dreamofmay hari ke #5

Sasha

Banyak yang bilang, betapa beruntungnya aku memiliki kekasih seorang perempuan yang hampir sempurna seperti Sasha. Cantik, pintar, baik hati dan sayang anak-anak. Tak seperti pacar-pacarku sebelumnya, mama sangat menyayangi Sasha seperti anaknya sendiri. Buat Mama, Sasha bukan sekedar calon menantu, tapi juga seperti anaknya sendiri. Mereka bisa tertawa bersama ketika sedang ngobrol. Bisa mellow bersama ketika menonton DVD drama. Kadang, tak jarang mama mengajak Sasha belanja bersama. Tak jarang, orang yang baru pertama kali bertemu kami ketika jalan bertiga, mengira bahwa Sasha yang anak Mama, bukannya aku. Mereka sangat dekat. Dan ya, aku memang sangat beruntung.

Tak terasa, dua tahun sudah terlewati. Kami sudah melewati banyak hal. Tapi memang, selama dua tahun ini tak pernah ada kesulitan yang berarti. Kami saling mengerti tentang kesibukan masing-masing. saya tak pernah berkeberatan untuk mengantar jemput Sasha kemanapun dia mau. Pergi – pulang kantor, bertemu teman-temannya, beli buku, kemanapun dia mau dan saya ada waktu, saya selalu menemaninya. Begitu juga sebaliknya. Jadi kami masing-masing mengerti dan tau apa saja kegiatan kami. Aku nyaman seperti ini, tetapi Sasha? entahlah.

Pernahkah kamu merasa, bahwa kamu adalah makhluk paling beruntung di dunia? Aku pernah. Keberuntunganku tidak biasa-biasa saja. Tiliklah, aku punya wajah di atas rata-rata, cantik, bentuk badan yang membuat setiap lelaki yang melintas akan menoleh lama padaku, terpesona. Aku bisa menyanyi, berdansa dan halhal menyenangkan lainnya. Kesialanku di dunia ini mungkin cuma satu, aku terlahir miskin

Tetapi, lagi, keberuntungan lain datang, seolah dewi fortuna tak pernah menjauh pergi dariku. Aku bertemu Hans, lelaki yang mungkin juga memiliki keberuntungan sama sepertiku, pengecualiannya hanya satu. Dia terlahir kaya.

 Awalnya, aku mempercayainya sepenuhnya. Awalnya, aku yakin bahwa cintanya padaku tulus, tanpa diembel-embeli apapun. Bahwa materi hanyalah keberuntungan yang aku miliki, sebagai anak tunggal seorang pengusaha. Jikapun aku tak memiliki ini semua, Sasha akan tetap memilihku. Awalnya aku meyakini benar hal ini.

Tapi, entah setan apa yang datang padaku suatu malam. Ketika sebuah bisikan aku terima, ketika suara telfon yang menjawab diseberang sana suara lelaki yang tak aku kenal. Sasha tidak setia! Sebagai laki-laki yang tak pernah ditolak, aku merasa Sasha sudah meremehkan aku. Menghancurkan rasa percaya yang aku berikan padanya. Menghancurkan kasih sayang mama yang tulus padanya. Bisikan itu kembali meracuniku. Sasha mengkhianatiku.

Hubunganku dengan Hans berjalan hampir dua tahun. Dua tahun yang melelahkan. Bukan, bukan karena dia adalah kekasih yang tak baik hati, sungguh, bukan karena itu. Sebaliknya, dia lelaki sempurna, bahkan tiap kali aku jalan dengannya, seolah aku selalu ditusuk oleh pandanganpandangan mata wanita lain, mereka memuja Hans, sebagian malah menggilainya. Tapi Hans memujaku. Ya, dia tergila-gila padaku, sampai telepon sialan itu berdering beberapa malam yang lalu. Hans mulai curiga kepadaku, beberapa kali dia bertanya siapa gerangan si penelpon itu. Ah Hans, ada hal yang belum perlu kamu ketahui, akan tiba waktunya, tapi belum saat ini

 Sasha memang perempuan pintar. Begitu rapat dia menyembunyikan siapa laki-laki yang membuatnya mengkhianati cintaku. Bahkan, perlakuannya padaku tak pernah berubah. Kencan kami setiap Sabtu malam tak pernah meleset semenit pun. Janjian disetiap waktu, tak pernah alpa. Maka, kisah lelaki penjawab telpon itu pun berlalu begitu saja.Tapi, bangkai busuk pun akan tercium baunya. Ketika pada suatu malam, usai mengantarnya pulang ke apartemen yang aku beli untuknya pada saat ulang tahun kedua hubungan kami. Tak seperti biasa, aku berbalik arah. Kembali ke apartemennya. Menunggu ditempat tersembunyi. Untuk membuktikan kecurigaanku. Berdoa dalam hati semoga kecurigaanku tak pernah terbukti. Tak lama menunggu. Akhirnya aku melihat apa yang aku takutkan selama ini. 10 menit yang lalu aku mengantarnya sampai ke pintu kamarnya. Tapi sekarang, aku melihat dia berdiri tepat diparkiran sambil melambaikan tangannya pada sebuah mobil yang mendekati tempatnya berdiri. Seorang lelaki keluar. Sasha menyambutnya dengan pelukan mesra, dan ciuman mesra. Di bibir.

Rabu malam, seperti biasa, Hans menjemputku dari tempat kerja, mengajakku makan malam di sebuah restoran Jepang ternama. Dan seperti biasa, tidak ada yang istimewa, makan malam kami selalu diawali dengan bertanya kabar dan bagaimana kegiatan hari ini, monoton. Ya Hans tipikal lelaki yang memegang teguh adat ketimuran, darah jawa yang mengalir di tubuhnya membuatnya selalu bertatakrama disetiap kesempatan dan, ya, bagiku itu sedikit membosankan. Lalu, tiba-tiba aku teringat dia, lelaki yang empat bulan ini diamdiam menjalin hubungan denganku. Lelaki paruh baya dengan pesona yang luar biasa. Lelaki yang mampu membuatku mengkhianati Hans, lelaki yang lebih sempurna dari Hans. Entah anugerah atukah musibah bagiku, aku tidak dapat menolak setiap pesona yang ditawarkan lelaki ini. Bahkan ketika suatu malam, setelah berkencan dengan Hans, dengan sadar aku mendatangi lelaki ini, memintanya datang menjemputku. Memintanya membawaku ke kamar hotelnya. Ahh. Dengannya, segala kebaikan Hans seolah tenggelam, tak tampak apa-apa. Aku menebus apa yang tidak bisa ku dapat dari Hans dengannya, semuanya, termasuk… Bercinta

Epilog

Pintu kamar hotel itu berdegum terbuka, Sasha dengan rakus meloncat ke pelukan lelaki setengah baya itu, melahap bibirnya sampai menciumi lehernya.  Dasi lelaki itu longgar dan jas kerjanya berantakan. Tapi tangannya dengan leluasa menopang tubuh Sasha yang menggantung menciuminya. “Wanita ini benarbenar luar biasa”. Dengan setengah sempoyongan, dia berusaha menggendong Sasha menuju ranjang beralas merah bata. Susah, ya tentu saja, berjalan dengan jarak 2 meter pun terasa susah jika dalam posisi seperti ini, kakinya berusaha melepaskan sepatu, tangannya menopang tubuh Sasha, bibirnya hilang dalam lumatan penuh nafsu wanita ini, dan otaknya, ah, jangan tanya, otaknya justru sudah berada di kasur itu sedari tadi.

Hans mengikuti mobil yang tak dikenalnya itu dengan nafas menderu. Ketakutannya terbukti. Kecurigaannya terbayar. Terbayang wajah ibunya dan Sasha yang sedang tertawa bersama. Apa yang salah padanya? Bukankah selama ini tak pernah ada masalah? Atau justru itu masalahnya? Pikirannya melayang, sampai akhirnya dia tersadar ketika melihat mobil itu berhenti di sebuah hotel mewah. Kedua pasang kekasih yang dimabuk asmara itu terlihat berpelukan. Sesekali dilihatnya Sasha mencium sekilas leher lelaki dipelukannya. Nafas Hans memburu. Tak ada lagi cemburu, yang ada hanya sakit hati.  Tergesa diparkirnya mobilnya. Diikutinya Sasha dengan hati-hati dari jarak yang jauh, tapi masih cukup untuk melihat arah Sasha berbelok. Semakin lama, rasa sakitnya semakin tampak jelas ketika dilihatnya Sasha dan lelaki itu memasuki sebuah suite room. Ditunggunya 5 menit. Sampai kemudian, dengan seluruh kekuatannya, dia mengetuk pintu. 3 kali dia mengetuk pintu, sampai terdengar sahutan suara lelaki dari dalam. Otaknya merespon dengan cepat, menggali memorinya untuk mengenali suara lelaki itu. Perlahan pintu terbuka,
“Papa…”

 

Tulisan ini untuk hari ke – 4 #20HariNulisDuet dengan @alithdqueen

Janji

Nana hanyut dalam diam. Di sebuah kedai kopi, asap mengepul dari secangkir green tea latte panas di hadapannya. Matanya nanar memandangi sepasang remaja yang sedang tertawa mesra di balik jendela kafe. Berpelukan, saling melindungi dari hawa dingin dan rintik hujan. Seulas senyum pahit mengembang, tipis. “Aku pun pernah sebahagia itu dulu,” batinnya.

Ingatannya langsung melayang ke masa 7 tahun yang lalu. Pertemuan pertamanya dengan Rimba di sebuah seminar yang dihadiri oleh mahasiswa berbagai universitas dikotanya. Matanya langsung terpaut ketika Rimba dengan lugasnya mempertanyakan apakah materi kepemimpinan yang disampaikan oleh pemateri relevan dengan keadaan yang sekarang. Disertai dengan fakta-fakta tentang suhu politik pada saat itu. Nana yang tak menyukai politik sejenak terpaku menatap wajah dengan garis tegas pada rahangnya itu. Nana yang bertugas sebagai wartawan kampus,langsung mengejar Rimba ketika seminar usai. Mewawancarainya terkait dengan materi seminar. Dan perkenalan itu berlanjut dengan bertukar nomer handphone hingga akhirnya mereka menjadi sepasang kekasih.

7 tahun telah berlalu. Seorang aktivis tampan dengan wartawan kampus yang jadi incaran banyak pria di universitasnya. Serasi, mengundang iri dan decak kagum. Kecerdasan Nana dan selera humor Rimba membuat hubungan mereka begitu berwarna. 3 tahun kemudian, setelah Rimba bekerja di sebuah perusahaan marketing komunikasi dan Nana mantap meniti karir sebagai reporter, mereka menikah. Bahagia itu sungguh nyata. Dulu. Menjalani kehidupan sebagai suami istri begitu indah bagi Nana dan Rimba. Saat-saat terbangun dengan sentuhan lembut dan dengus nafas hangat di tengkuk, pertengkaran konyol merebutkan channel apa yang ingin ditonton, telfon ringan menanyakan kabar di kantor dan sms mesra sekadar mengingatkan waktu makan. Menyenangkan. Namun menyakitkan saat dikenang.

2 tahun pertama, pernikahan mereka seperti sebuah dongeng yang menjelma nyata. Hanya tawa dan bahagia. Karir lancar, rumah tangga bahagia. Begitu sempurna. Kini, dongeng itu hanyalah sebuah dongeng. Tak pernah ada dongeng yang menjadi nyata. Perlahan-lahan semua berubah. Kesibukan mereka bertambah seiring karir yang mulai menanjak. Bertemu hanya pada saat sarapan. Makan siang dan malam, mereka lakukan entah dengan client yang mana. Rumah hanya menjadi tempat persinggahan sementara. Telfon hanya sekedar menyampaikan siapa yang akan pulang lebih awal. Ciuman selamat pagi yang dulu sering diberikan Nana untuk membangunkan Rimba, tak pernah ada lagi. Begitupun sebaliknya. Rimba semakin tenggelam dalam rutinitasnya. Pembukaan kantor cabang baru, dimana dia dipercaya untuk memimpinnya menyita seluruh perhatiannya. Tak ada lagi ciuman selamat malam sebelum tidur didahi Nana, seperti 2 tahun pertama pernikahan mereka.

“Hei sayang, lagi sibuk? Ntar malem jadi kan?”

Sebuah pesan masuk di telpon genggam Nana. Dari Rimba. Tumben semesra ini, pake sayang-sayang. Rasanya mereka tak ada janji malam ini. Yang ia tahu malam ini Rimba ada presentasi ke klien barunya. Klien besar kata Rimba, salah satu politikus yang ingin mencalonkan diri sebagai gurbernur.

“Eh, ada apa nanti malam hon?” balas Nana.

Tapi tak dibalas. Tak sempat berpikir terlalu lama, karena mas Rio, atasannya memanggil. Ada kebakaran hebat di sebuah rumah susun. Kabarnya sudah 2 korban meninggal. Nana dan Ridho, kameraman harus segera berangkat meliput. SMS misterius pun berlalu begitu saja dari ingatannya. Nana menghela nafas, bayangan masa-masa pernikahannya dengan Rimba akhir-akhir ini sering terlintas, terutama saat ia sendiri. Seperti saat ini, di sebuah kedai kopi, menikmati lantunan merdu Whitney Houston.

Lost touch with my soul
I had no where to turn
I had no where to go
Lost sight of my dream,
Thought it would be the end of me

 Malam itu, usai meliput acara pertemuan menteri, Nana dan teman-teman sekantor merayakan ulang tahun Dion, rekan sesama reporter. Disebuah resto nyaman yang jadi favorit Dion. Nana bahkan belum pernah kesitu sebelumnya. Ramai mereka bercanda di meja yang sudah dipesan sebelumnya. Dion memang reporter kesayangan boss. Reporter pintar yang selalu jadi andalan disituasi sulit. Tapi keramaian itu tak membuat Nana bisa menikmatinya. Dalam diam dan senyum sesekali Nana membuka-buka pesan di telepon genggamnya. Dan terlihat lagi pesan Rimba disitu. Rasa penasaran berubah menjadi curiga ketika nomer Rimba tak aktif malam itu. Dan kecurigaannya menjadi kenyataan, ketika akhirnya ditemaram lampu resto, Nana mengenali sepasang kekasih yang masuk ke resto tersebut. Rimba, yang memeluk pinggang perempuan lain dengan mesra. Dan segala dunianya serasa runtuh pada saat itu juga.

Rimba yang tak menyadari kehadiran Nana asik bercengkerama dengan wanitanya. Sesekali wajah keduanya saling beradu, mesra. Dari tempat duduknya Nana mengamati pasangan itu. Tatapan Rimba, senyumnya, jari-jarinya yang sigap merapikan rambut wanitanya menandakan pria itu sedang jatuh cinta. Ya, rona bahagia suaminya itu bersaing dengan indahnya api lilin di meja mereka. Nana terluka.

“Makanya tho nduk, jadi perempuan itu jangan terlalu sibuk. Ndak punya-punya anak nanti kalian ini.” ucapan mertuanya tiba-tiba terngiang kembali. Sementara Whitney Houston masih bernyanyi, seakan menyuarakan perasaan Nana.

Thought it would be the end of meI thought I’d never make it through
I had no hope to hold on to,
I thought I would break

Rimba terkejut ketika Nana menyapanya lembut di restoran. Di hadapan teman-teman kantornya yang juga mengenal Rimba. Mereka menjadi saksi perselingkuhan suaminya. Malam itu Rimba mengakui semua kesalahannya, sembari menyalahkan kesibukan mereka, ketidakhadiran anak dan sikap acuh Nana belakangan ini.

“She keep me alive, Na. Dia melayani seperti aku ini raja baginya.”

Nana tersenyum. Getir. Mengusap pelan wajah Rimba.

“Kita melakukan kesalahan yang sama, Rim. Kamu, aku. Begitu banyak malam yang kita lewati dengan orang lain.”

Rimba menggeleng pelan. Tak bisa membantah kalimat Nana.

“Lalu, kalau sekarang kamu merasa begitu nyaman dengannya, artinya kamu udah nggak butuh aku lagi. Kalau kamu nggak butuh aku lagi, lebih baik kita selesaikan urusan kita,” ujar Nana dengan tenang

Rimba terkejut mendengar kalimat yang keluar dari mulut istrinya. Dia tak pernah menyangka, hubungannya dengan Reni akan membahayakan rumah tangganya. Dan sekaranng, setelah Nana tau semuanya, dia mengajukan pilihan yang tak sanggup dia terima.

“Maksudmu, kita bercerai?” kelu lidah Rimba mengucap kalimat itu. Nana mengangguk pelan.

“Kamu udah menemukan rasa nyaman dengan orang lain, Rim. Dan aku udah nggak bisa lagi memberikan rasa nyaman yang kamu inginkan. Aku udah nggak bisa lagi melayani kamu seperti raja.” Nana mengulang kalimat Rimba dengan pedih.

“Maafkan aku Na. Sungguh aku minta maaf.” ujarnya lirih. “Tapi kita nggak akan bercerai. Akan aku akhiri hubunganku dengannya. Lalu kita mulai lagi dari awal ya, please.” mohon Rimba. Nana bergeming, “Entahlah Rim, berikan aku waktu.” jawabnya. Lalu beranjak pergi. Untuk pertama kalinya, malam itu Nana tak pulang ke rumah.

Dua hari Nana ijin tak masuk kantor. Diabaikannya telpon dan pesan dari Rimba yang tampak begitu khawatir. Ah, entahlah Nana tak tahu itu tulus atau tidak. Yang ia tahu suaminya berselingkuh, rumah tangganya diambang kehancuran. Terbayang wajah kecewa ayah ibunya jika mereka sampai bercerai. Terlintas ketakutan mertuanya akan menyalahkan Nana atas perselingkuhan Rimba. Bukankah ia perempuan yang tak bisa melayani suami dan memberikan anak.

Hari ketiga, Nana kembali bekerja. Disambut pelukan hangat Sita, news presenter sahabatnya. Senyum simpati dari rekan-rekan yang ada di restoran malam itu. Sebuah karangan bunga terpajang anggun di mejanya. Rangkaian tulip ungu dan mawar putih serta kartu permohonan maaf dari Rimba membuatnya terenyuh. “Bolehkah kuberi dia kesempatan kedua?” tanyanya ragu.

Akhirnya Nana menyerah. Dia bersedia memberikan satu hari Minggunya untuk Rimba. Hanya berdua, dirumah mereka. Membicarakan tentang banyak hal yang sudah terjadi diantara mereka. Memasak bersama, membersihkan rumah dan makan siang bersama. Usai makan siang, diiringi instrumental Dave Koz, mereka berbicara. Meski mereka berdua, berhadapan, tetap terselip rasa sakit dihati Nana. Dia tak bisa membohongi perasaannya sendiri. Nana masih mencintai Rimba, tapi rasa sakit itu begitu mendominasi. Ucapan maaf Rimba yang berulang-ulang hanya terekam dalam otaknya, tapi tak bisa masuk ke hatinya. Segala kenangan indah itu, tertutupi dengan satu kesalahan yang dilakukan Rimba. Kesalahan fatal yang membuatnya harus melewati segala perih.

“Nana, aku masih mencintai kamu. Masih sangat mencintai kamu. Tolong, berikan aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahan yang sudah aku lakukan.”

Nana diam, memainkan ujung kemejanya. Mendengar deru nafas panik Rimba yang menanti jawabannya.

“Nana, please. Kesalahanku memang sangat besar. Tapi tolong beri aku kesempatan, please.”

Nana menghela nafas panjang. setetes air mata jatuh tanpa bisa ia cegah. Teringat sebuah jawaban yang ia berikan dan menentukan perjalanan hidup mereka.

Found hope in my heart,I found the light to life
My way out of the dark
Found all that I need
Here inside of me
I thought I’d never find my way
I thought I’d never lift that weight
I thought I would break

 “Aku mungkin tak bisa lagi mencintaimu seperti dulu.”

“Tapi aku berusaha bertahan, Rim. Demi sebuah janji yang kita ucapkan di depan Tuhan, yang diamini oleh seribu malaikat. Untuk ratusan doa dan harapan yang dipanjatkan keluarga kita. To keep this marriage once in a lifetime.”

Hampir 2 tahun berlalu sejak malam itu. Perjalanan mereka tak selalu mulus. Rimba masih jatuh bangun mengakhiri hubungannya dengan perempuan itu. Nana pun masih berjuang mengobati lukanya, menumbuhkan lagi cintanya pada Rimba.

Sampai hari ini, ketika ia mendapati dua garis di alat tes kehamilannya. Tuhan, rupanya telah menjawab doa-doanya, memberinya sumber kekuatan baru untuk terus bertahan dalam badai.

I got through all the painI didn’t know my own strength
Survived my darkest hour
My faith kept me alive
I picked myself back up
Hold my head up high
I was not built to break

Tulisan ini untuk project #20HariNulisDuet hari ke-3 dengan @alfakurnia

R A S A

Suatu senja di Taman Kota, 1993

“Sahabat untuk selamanya…”

Kami saling mengaitkan dua jari kelingking ke udara sebagai janji tentang sebuah persahabatan.   Sejak saat itu aku dan Langit adalah sahabat yang tidak terpisahkan. Di mana ada Langit di situlah aku berada.

“Lang, janji ya jangan tinggalkan aku walaupun kelak nanti kita masing-masing punya pasangan,” tanyaku iseng-iseng saat kami sedang bermain ayunan di taman.

“Aku janji.” Langit bangkit dan seperti biasa mengacak-ngacak rambutku. Aku tertawa riang memamerkan deretan gigi putihku kepadanya.

 ® ®® ®® ®® ®® ®® ®

 

Januari 2003

 

(Tidak) ada persahabatan yang benar-benar murni di antara laki-laki dan perempuan

 

 

Lisa—salah satu sahabatku yang lain pernah menasehati tentang persahabatanku dengan Langit. Tapi, dengan cueknya aku menyangkal dan bahkan mencibirnya.

“Aku nggak bakalan suka Langit,” jawabku saat aku dan Lisa sedang membahas tentang hubunganku dengan Langit.

“Kamu yakin?”  Todong Lisa.

“Aku tahu semua keburukan dia. Oleh karena itu aku nggak bakalan bisa tertarik padanya,” jawabku tanpa ragu-ragu.

“Hati-hati! Kamu nggak akan pernah tahu kapan cinta itu akan datang. Dan, aku rasa dari caramu melihat Langit tadi pagi. Aku merasakan bahwa ada sesuatu yang berbeda dari matamu.”

“Jangan ngaco ah. Kamu salah. Aku nggak pernah mengagumi Langit sedikit pun. Percaya deh.” Aku menepuk pundak Lisa.

“Terserah kamu lah Lun.”

Rekaman pembicaraanku dengan Lisa tadi siang masih saja terngiang-ngiang dalam pikiranku. Aku merenung. Benarkah aku menyukainya?

Aku mencoba merevisi kembali tentang apa yang telah terjadi selama persahabatanku dengan Langit. Sepertinya tidak ada yang istimewa. Benarkah itu? Benakku kembali berbicara.

Oke, aku akui memang terkadang tanpa sadar  sering memikirkannya. Aku akui juga bahwa Langit sekarang ini terlihat lebih keren. Langit memang telah berubah, bukan lagi seperti Langit yang tubuhnya kerempeng. Langit yang sekarang tubuhnya lebih berisi, rahangnya terlihat kokoh, rambutnya pun bergaya cepak klimis, tapi satu hal tidak berubah. Langit tetaplah jahil seperti yang dulu. Mungkinkah karena perubahan ini?

Satu hal yang aku benci saat ini adalah diam-diam semua perkataan Lisa terasa benar.

Aku tidak pernah berpikir bahwa di dalam persahabatan kami ini akan terbentuk sebuah ‘rasa’ yang tidak biasa. Aku juga tidak pernah tahu pasti kapan perasaan ini tiba-tiba saja menelusup sepi dalam hubungan yang kami sebut persahabatan ini.

Tiba-tiba saja aku jatuh cinta pada Langit…

…dan dia tidak.

 

Agustus 2003

Ada yang aneh ketika aku memperkenalkan Anggita pada Luna, sahabatku. Senyumnya tak benar-benar tulus. Hey, tentu saja aku tau, bertahun-tahun aku sudah mengenalnya. Jadi aku tau benar apa yang disukainya, kejelekannya bahkan ekspresi wajahnya ketika dia menyukai atau membenci sesuatu. Dan aku juga tau, ekspresi wajahnya berubah ketika aku memperkenalkan Anggita sebagai kekasihku.

“Menurut kamu, Anggita gimana?” tanyaku pada Luna yang sedang mengaduk-aduk lemon tea-nya. Dia tersentak mendengar pertanyaanku yang tiba-tiba.

“Kok tanya aku? Kami baru bertemu sekali. Tapi, kelihatannya anaknya baik,” jawabnya, kemudian menunduk lagi.

“Menurut kamu, dia pantas jadi istriku ?” tanyaku hati-hati. Masih memperhatikan ekspresi wajahnya yang benar-benar berubah. Muram.

Luna menggeleng. Kemudian tersenyum. Sedih. Lama Luna terdiam.

“Kamu bahagia, dengan dia?” akhirnya Luna bersuara. Aku mengangguk pelan.

“Aku merasa lengkap, dan dia melengkapi hidupku.”

“Langit, buatku, kebahagiaan kamu itu yang paling penting. Sebagai teman baikmu, aku nggak akan bisa bahagia kalau kamu sedih. Jadi, kalau kamu bisa bahagia dan merasa lengkap dengan Anggita, maka itu  cukup buatku.”

——–

                Ada yang tergores disini. Perih sekali. Pertanyaan Langit kemarin cukup untuk membuatku mengerti, bahwa rasa ini memang hanya ada padaku. Bukan padanya. Tapi, melihat binar matanya ketika bercerita tentang Anggita, membuatku tak tega untuk mengakui perasaan ini. Tapi aku juga tak akan sanggup menyaksikan pernikahan mereka dalam waktu dekat.

Entah, apa yang ada dikepalaku ketika akhirnya mengiyakan ajakan Lisa untuk menemaninya ke Jepang tepat pada saat pertunangan Langit dan Anggita. Muram dimatanya tak bisa disembunyikannya ketika aku mengatakan bahwa aku tak bias menghadiri pertunangannya.

“Apa artinya pertunanganku kalau kamu nggak ada?” ujarnya dengan amarah tertahan ketika aku meletakkan tiket keberangkatan didepannya.

“Yang paling penting kan ada Anggita,” aku mencoba melucu, menahan perih yang amat sangat ketika mengucapkan nama itu.

“Tapi kamu yang paling penting, kamu sahabatku, Lun!” tegasnya. Aku tersenyum. Mengusap pelan bahunya yang membuat jantungku berdetak tak karuan.

“Untuk seterusnya, hanya Anggita yang paling penting buatmu. Aku, tetap akan jadi sahabatmu. Sampai kapanpun.”

——–

                Aku menatap perih pada landasan dibelakangku. Hari ini, pertunangan Langit dan Anggita. Mengingatnya saja sudah membuat nafasku sesak. Aku tak akan pernah sanggup menyaksikan kebahagiaan sahabatku sendiri. Maka, ketika pertama kali Langit mengatakan padaku tentang rencana pertunangannya, tanpa berpikir panjang, aku mengiyakan ajakan Lisa untuk menemaninya ke Jepang. Bukan hanya berkunjung, tapi menetap.

Jika aku harus menyimpan rapat perasaan ini dari Langit, maka menghindar adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan hatiku. Nanti, aku akan mengatakan pada Langit, bahwa aku tak akan pulang selama beberapa saat. Sampai segala rasa dihatiku menipis dan kemudian hilang. Sampai aku merelakan dia  mencintai orang lain. Meski Langit tak akan pernah tau alasannya.

 

Tulisan hari ke – 1 untuk Project #20HariNulisDuet dengan @child_smurf