Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Category Archives: #30HariNgeblog

#30HariNgeblog : Seribu Burung Kertas

Tsuru

Tsuru

Perlahan Nia melipat burung kertas diantara tumpukan origami burung-burung kertas yang beraneka warna. Sesekali mengusap matanya yang perih. Ini sudah pukul 3 pagi, dan kegiatan origami ini sudah dimulai sejak kemarin pagi. Artinya, belum sepicing pun Nia tidur.

Nia, teman sekamarku yang ceria, pecinta gunung, penikmat senja dan teh, mahasiswi terpintar seangkatannya di jurusan Hukum Internasional, berubah drastis menjadi pemurung dan hanya fokus pada kumpulan burung kertasnya. Tapi bukan tanpa sebab Nia berubah. Sejak kecelakaan di gunung Kerinci yang menimpa pacarnya, Tito, Nia berubah. Zikri koma. Sudah hampir sebulan hidup Tito hanya bergantung pada selang-selang yang tersambung ke tubuhnya

Tapi, sudah dua hari ini Nia tak beranjak dari kamar kos kami. Yang dilakukannya hanya melipat kertas origami membentuk burung-burung kertas. Entah untuk apa. Dan sepulang kuliah, aku masih juga mendapatinya masih tekun melipat kertas origami, dan burung-burung kertas pun bertambah banyak. Penasaran, aku mendekatinya.

“Ni, aku ngerti apa yang kamu rasain sekarang. Tapi nggak seharusnya kamu kayak gini. Tito juga pasti nggak suka kalau lihat pacarnya jadi lemah begini.” Nia menghentikan kegiatannya dan melihatku.

“Yar, kamu pernah dengar cerita tentang seorang anak kecil penderita kanker di Jepang yang melipat seribu burung kertas untuk memohon kesembuhannya ?” Aku mengangguk.

“Nah, aku mau melipat seribu burung kertas, untuk memohon Tito segera sadar dari komanya.” Pertanyaanku terjawab. Aku mengangguk. Lalu meraih selembar kertas origami. Tapi Nia menggeleng pelan.

“Aku sendiri yang harus menyelesaikan seribu burung kertas ini, Yar. Tanpa bantuan orang lain,” ujarnya lagi, lalu mengambil kertas origami dariku.

Seminggu berlalu, kondisi Tito tak berubah, malah semakin memburuk. Satu demi satu organ vitalnya mulai tak berfungsi. Keluarganya sudah pasrah dengan keadaan Tito. Tapi tidak dengan Nia. Burung-burung kertasnya semakin bertambah banyak, hampir mengisi satu kardus besar.

Akhirnya, keluarga Tito mengambil keputusan yang paling sulit. Mereka memutuskan untuk melepas alat-alat bantu membantu Tito untuk tetap bernafas, menyerahkan sepenuhnya pada tangan Sang Pemilik Takdir.

“Tunggu dulu, Om. Jangan sekarang. Burung-burung kertas saya hampir selesai. Saya mohon, jangan sekarang, Tante,” Nia mendekati orang tua Tito yang terisak pasrah. Sejenak mereka bingung mendengar kata-kata Nia. Aku mendekat, mencoba menjelaskan maksud  Nia. Ayah Tito menggeleng pelan. Memeluk Nia yang mendadak menjadi histeris dan berlari keluar ruangan.

Betapa terkejut aku, ketika melihat Nia yang kucari di rumah sakit, sekarang sudah berada di lantai 6 gedung fakultas Hukum. Menerbangkan satu demi satu burung-burung kertas yang berwarna warni dari atas. Aku berteriak dari bawah, lalu dengan panik menaiki tangga menuju lantai 6.

“Ni, semua keputusan ada di tangan keluarga Tito. Kita nggak bisa apa-apa,” bujukku. Nia hanya tersenyum, lalumenerbangkan burung-burung kertasnya.

“Yara, burung kertasku kurang satu. Seharusnya seribu, bukan sembilan ratus sembilan puluh sembilang. Aku salah hitung,” Nia menangis. Mencoba mencari-cari burung kertas di kardus yang kosong.

“Ni, aku punya kertas. Kamu buat dari kertasku aja, ya. Sini, kertas ini akan melengkapi seribu burung kertasmu,” bujukku lagi. Nia tertegun, lalu tersenyum ke arahku.

“Aku akan melengkapi seribu burung kertasku, Yar. Terima kasih. Untuk semuanya.”

Lalu Nia menerbangkan dirinya ke bawah, melengkapi seribu burung kertas berwarna warni yang terserak di tanah.

 

Iklan

#30HariNgeblog : A “Red” Rose

A Red Rose

A Red Rose

Tak ada yang lebih membahagiakan dari hari ini. Akhirnya aku memutuskan untuk melamar Sita hari ini. Tepat pada hari dimana 3 tahun yang lalu, aku memintanya menjadi kekasihku. It’s gonna be a big surprise. Sebelumnya kami memang pernah membicarakan soal pernikahan. Tapi itu 7 bulan yang lalu. Ketika itu aku baru dipromosikan menjadi kepala cabang. Aku berjanji pada perempuanku itu, kalau selesai urusan tetek bengek di kantor yang pastinya akan menyita waktu dan perhatianku, kami akan membicarakannya lebih lanjut. Tapi hari ini, aku tak ingin sekedar membicarakannya saja. Aku ingin melamarnya. Memintanya menjadi istriku, ibu dari anak-anakku.

Segala hal sudah kurancang sempurnya. Berharap, hari ini pun akan berakhir dengan sempurna pula. Aku sudah memesan tempat untuk kami disebuah restaurant Perancis. Dan, untuk melengkapi cincin berlian setengah karat yang ada dikantong celanaku, aku akan memberikannya pula setangkai mawar merah.

Setelah menyelesaikan urusan dikantor, dan menunda beberapa hal yang kurang penting untuk esok hari, aku bergegas menuju Mazda tahun 97 ku, yang sudah 7 tahun menemaniku, hadiah kelulusanku di SMA. Sebelum menuju kantor Sita, aku mampir ke kios bunga yang tak jauh dari kantor, mengambil setangkai mawar merah yang masih segar. Lalu melanjutkan perjalanan ke kantor Sita. Ini kejutan yang lain. Karena belakangan, aku hampir tak pernah lagi menjemputnya, karena kesibukanku. Tapi hari ini, aku ingin menghabiskan waktu lebih banyak bersama calon istriku. Tak ayal, senyumku mengembang lebih cerah ketika kata-kata itu singgah dikepalaku. Hmm… calon istri.

Sampai dikantor Sita, aku sengaja parkir diluar kantornya. Hei, ini surprise, bukan? Sambil bersiul lagi aku berjalan tak sabar memasuki halaman kantornya. Mawar merah itu aku sembunyikan dibelakang punggungku. Sambil merapikan baju, aku berhenti sejenak. Lalu, berbalik keluar kantor Sita. Menuju mobilku dan tak menghiraukan panggilan Sita dibelakangku. Seolah ada yang kurang dari hari ini. Seharusnya hari ini sempurna.

Masih dengan mawar merah ditangan, aku menginjak gas Mazda 97 itu lebih dalam. Lalu menggerakkan persneling. Kejadian itu seolah ada didepan mataku sekarang. Sehingga aku tak melihat sebuah truk berkecepatan tinggi yang berjalan ke arahku ketika aku memutar stir untuk berbelok. Aku sama sekali tak melihat Sita yang berdiri sambil berteriak digerbang kantornya. Aku tak melihat orang-orang yang melambaikan tangannya ke arahku. Pun tak melihat truk yang menghantam bagian kanan mobilku.

Seolah, aku hanya melihat kejadian tadi. Tentang Sita yang berbicara dengan seorang laki-laki yang membelakangiku, lalu menangis dan mengangguk. Kemudian memeluk laki-laki itu. Tepat ketika aku melewati gerbang kantornya, Sita melihatku yang kemudian mengejarku yang berbalik arah menuju mobil. Hatiku seolah tak berada ditempatnya lagi sekarang. Aku kenal lelaki itu. Salah seorang akuntan di kantorku yang juga teman kuliah Sita.

Mawar merah itu masih kugenggam. Erat. Duri-durinya menusuk jari-jariku. Hingga berdarah. Dan darahnya menggenang disekelilingku. Membasahi tangkai hijaunya dan kelopak mawar yang semakin merah.

Seharusnya hari ini sempurna.

#30HariNgeblog : Seandainya Jadi Jurnalis Perang

Hari ke #24 : “Jika saya seorang jurnalis perang, saya ingin liputan dimana?”

Tema kali ini, wah sekali 😀 Nggak tau juga siapa yang bikin tema kayak gini. Tapi, berhubung udah berhari-hari hutang posting, maka kali ini harus diselesaikan semuanya. Ganbatte *ikat kepala* *bikin tahu* #eh

Siapapun yang berpikiran lurus didunia ini, pasti nggak ada yang suka perang. Isinya cuma tentang perebutan kekuasaan dan berakhir dengan kesengsaraan rakyat yang justru ingin damai. Cerita seorang kawan yang baru pulang dari misi perdamaian di Sudan Selatan, cukup membuat saya bergidik tiap kali kami saling bercerita dalam sebuah kotak maya. Nyawa manusia tak ada harga sama sekali. Persengketaan kecil selalu berakhir dengan kematian. Keinginan penguasa hanya satu, membagi dua Sudan Selatan dan Sudan Utara. Kenapa? Karena sumber minyak yang ada di Sudan Selatan. Itu informasi yang saya terima dari kawan tersebut.

Dan kalau saya seorang jurnalis perang, disitulah saya ingin melakukan liputan. Perang saudara Sudan yang nyaris luput dari perhatian dunia. Padahal, penderitaan perang juga dirasakan anak-anak disana. Ketakutan demi ketakutan juga mereka alami. Dan saya justru tak ingin meliput tentang sumber minyak yang jadi sebab utama perang saudara itu terjadi. Saya justru ingin meliput tentang dampak perang, yang tak hanya dialami oleh rakyat Sudan, anak-anak Sudan, tapi juga mereka yang harus berada digaris depan, sebagai pasukan perdamaian.

Begitu aja deh. Ngeri kalau cerita soal perang ini

#30HariNgeblog : (Seharusnya ini) Puisi Untuk Emak

Day ke #14 : Puisi Untuk Ibu

Apa kabar disana, Mak? Semoga Emak selalu berbahagia ya. Harusnya sih Mak, ini jadi puisi. Tapi entah kenapa, belakangan aku udah nggak bisa lagi bikin puisi. Duluuuu…. Waktu sering patah hati, entah kenapa puisi itu adalah sesuatu yang paling gampang diciptakan. Bahkan tanpa ide atau inspirasi. Mengalir begitu saja. Lalu, apakah sekarang aku nggak bisa bikin puisi lagi karena aku udah berhenti patah hati dan sakit hati? Nggak juga sih, Mak 😀 Jelasnya sih, sekarang aku sudah berdamai dengan segala luka, perih dan patah hati 😉 Demi kesehatan jiwa, tentu saja.

Ada terlalu banyak hal yang terjadi selama 10 tahun kepergian Emak. Tapi tentu saja, Emak mengetahui apapun yang terjadi disini. Bahkan Emak juga pasti udah kenal dengan Ayyash, pangeran kecilku. Pasti kalau Emak disini, akan senang bertemu dengannya. Bayi yang lucu dan tukang ngamuk kalau sedikit aja telat bikin susunya. Ah, kalau Emak masih disini, pasti aku nggak akan bingung untuk menuruti kata-kata orang-orang dirumah yang merasa lebih tau tentang merawat bayi. Emak pasti akan senang hati mengajarkan apa yang harus aku lakukan untuk merawat dan membesarkan Ayyash tanpa menggurui.

Sampai hari ini, bahkan setelah 10 tahun, aku masih merasa Emak hanya ‘pergi’. Nanti kalau sudah waktunya, Emak pasti akan balik lagi ke rumah. Padahal, Emak sudah tenang disana. Ditempat terbaik. ‘Rumah’ bagi semua orang.

Mak, aku rindu. Teramat sangat. 

Ada terlalu banyak kenangan yang kita lewati bersama. Aku yang lebih suka menyembunyikan segala sesuatu, Emak pasti akan selalu tau. Hingga akhirnya aku bercerita tentang apa saja. Hanya pada Emak, aku tak bisa menyembunyikan apapun. Segala apapun, akan terbuka begitu saja. Dan hanya Emak, yang paling mengerti anak perempuannya yang lebih nyaman bergaya seperti laki-laki daripada berdandan. Emak paling mengerti bahwa rasa percaya diriku yang sedikit jika berurusan dengan style dan tampang, akan tertutupi jika aku bisa menggali hal lain yang jauh lebih bermanfaat daripada sekedar polesan. Emak, memang paling tau apa yang aku butuhkan.

Terima kasih, Mak. Untuk segala hal yang kita lewati bersama. Kelak, aku juga akan mengenal Ayyash, seperti Emak mengenalku. Terima kasih, Mak, untuk menerimaku menjadi anak perempuanmu yang paling sulit.

Mak, aku rindu. Teramat sangat. Dan sampai bertemu lagi

#30HariNgeblog : Tentang Lelaki Terhebat

Hari ke – #13 : “Surat Untuk Ayah”

Bagi setiap anak perempuan, Ayah adalah pahlawannya. Bagi setiap anak perempuan, Ayah adalah laki-laki yang paling dekat tempat bermanja sebelum suami. Bagi setiap anak perempuan, Ayah adalah satu-satunya lelaki tempat curhat tentang pacar dan segala hal. Bagi setiap anak perempuan, Ayah adalah laki-laki terhebat.

Bagi saya, yang tak terlalu dekat denganmu, Ayah adalah laki-laki paling hebat yang telah dipilihkan Tuhan untuk menitipkan saya. Ayah adalah laki-laki hebat yang dipilihkan Tuhan untuk mendidik saya menjadi manusia yang tidak menyusahkan orang lain. Bagi saya, Ayah adalah cinta  yang tak terucapkan.

Sedari kecil, saya memang lebih dekat dengan Emak. Jika anak-anak perempuan lain akan lebih dekat dengan ayahnya, tidak dengan saya. Mungkin karena Ayah bukanlah tipe Ayah yang suka memanjakan anak-anaknya. Tetapi saya tau, bahwa Ayah mencintai kami. Tanpa syarat, tanpa batas. Bahkan hingga hari ini. 

Kita tak terbiasa menyampaikan cinta secara verbal. Pun tak biasa saling memeluk. Ketika masih kecil, Ayah memang sering memeluk. Tapi, seiring kami tumbuh besar, pelukan itu pun semakin berkurang dan tak pernah terjadi lagi. Ayah memang tak terbiasa menyampaikan rasa sayang seterbuka itu. Tapi saya percaya, bahwa rasa sayang ayah mengalir lewat majalah Bobo yang Ayah beli untuk memuaskan hobi membaca saya setiap minggu. Lewat majalah berbahasa Inggris, karena Ayah tau saya menyukai bahasa Inggris ketika SMP. Lewat ijin Ayah untuk memilih sekolah yang kami inginkan. Rasa sayang Ayah mengalir, lewat kebanggaannya yang tak terucapkan kepada anak-anaknya.

Dan rasa sayang Ayah yang bisa saya rasakan, mengalir tanpa bisa dibendung, ketika tangisan kita berpadu dalam sebuah pelukan panjang, usai Ayah menyerahkan saya kepada dia. Laki-laki yang kini bertanggung jawab atas saya.

Ayah, seharusnya saya berterima kasih setiap detik, atas apa yang saya terima hingga hari ini. Penerimaan dan pemakluman atas setiap kesalahan yang saya buat. Dan tak pernah menyesal, karena Tuhan menitipkan saya pada Ayah. Seorang anak perempuan keras kepala yang sering kali menentangmu, meski dalam diam.

Ayah, terima kasih. Untuk segalanya. Untuk karakter yang membentuk saya hingga hari ini. Untuk sifat yang saya terima darimu. Untuk sebuah penerimaan akan dia, yang sebelumnya sempat ayah tentang. Untuk cinta yang meski tak pernah tersampaikan, tetapi masih bisa kami rasakan hingga hari ini.

Ayah, sehatlah terus, berbahagialah selalu. Semoga Allah senantiasa melindungi Ayah dari segala kesulitan. Semoga Allah senantiasa menganugerahkan segala kebaikan untuk Ayah. Lelaki terbaik yang Allah takdirkan menjadi tempat titipan bagi kami.

Ayah, terima kasih

Mencintaimu selalu,

Aku