Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Category Archives: #31HariFF

#31HariFF : Sepasang Sepatu Untuk Runi

sepatu“Ma, lihat deh, sepatu ini bagus, ya,” ucap Runi, seorang gadis kecil didepan etalase sebuah toko sepatu di pusat perbelanjaan ternama dikota ini. Menggandeng lengan ibunya yang memeluknya dalam diam.

“Runi sudah lama deh, suka sepatu ini. Warnanya biru, bisa bikin Runi tambah cantik kalau dipakai untuk menari. Iya kan, ma?” ujarnya lagi. Mendongak menatap ibunya yang masih memeluknya dalam diam.

“Mama mau kan, membelikan Runi sepatu biru ini?” Akhirnya permintaan itu keluar dari mulut mungil gadis kecil yang cantik itu. Tak kuasa ibunya menahan tangis. Mengangguk sambil tersenyum.

Lalu mendorong kursi roda yang dari tadi menghalangi pelukannya. Tak menghiraukan tatapan aneh pramuniaga toko yang mengambilkan sepasang sepatu menari berwarna biru, untuk Runi yang hanya berkaki satu.

#31HariFF : Secangkir Kopi (sangat) Pahit

kopiRadja menyeruput kopi hitamnya perlahan-lahan sambil memperhatikan teman-temannya yang tertawa-tawa senang memandangi hasil operasi hari ini. Tak disangka, strateginya berhasil lagi. Toko emas terbesar di kota ini berhasil dijarah dengan sukses. Dan dia tak perlu capek-capek untuk ikut melakukan operasi ini. Cukup dengan berpikir, dan memantau keadaan dari luar, tanpa harus terlibat langsung.

Radja kembali menyeruput kopi hitamnya perlahan-lahan. Aahh.. nikmat sekali kopi buatan Dorman kali ini. Teman-temannya mulai membereskan emas-emas yang masih berbentuk perhiasan itu. Radja kembali menyeruput kopinya. Sambil berpikir, kali ini kopinya terasa lebih pahit dari biasanya. Lalu, entah mengapa matanya menangkap emas yang telah dibagi-bagi menjadi beberapa tumpukan. Radja kontan berang.

“Hei, mau diapakan emas-emas itu? Kumpulkan lagi!! Kita akan meleburnya sebelum menjual. Jangan bodoh!! Kalian mau ketahuan?!?” bentaknya pada teman-temannya yang tak mempedulikannya. Mereka masih saja membagi-bagi emas-emas itu.

“Hei!!” Radja bangkit, tapi kemudian terduduk kembali, merasakan pusing yang menyerang kepalanya tiba-tiba. Lalu memandang kopinya dengan nanar. Dorman menghampirinya.

“Kami sudah sepakat. Ini adalah terakhir kali kita bekerja sama. Kami akan pulang ke kampung. Membuka lembaran baru disana. Maaf. Kami terpaksa tidak mengikutsertakanmu. Karena kamu pasti tak akan setuju,” Dorman mendekati Radja yang memegang kepalanya.

“Kalian sudah merencanakan ini sebelumnya ternyata!” Radja menahan amarah sekaligus sakit kepala. Dorman mengangguk. Menepuk bahu Radja yang akhirnya tersandar. Nafas Radja mulai sesak, seiring mual yang mendorong isi perutnya keluar.

“Kopi itu…” Nafas Radja tersengal, memandang kopi hitamnya yang tadi terasa lebih pahit sebelumnya. Dorman mengangguk sedih, memandang tubuh Radja yang perlahan-lahan tak bergerak

#31HariFF : Mengejar Pelangi

20131211-122237.jpg

“Nak, apapun yang terjadi, jangan pernah menyerah. Jangan pernah berhenti berharap. Karena, selama kita masih punya harapan, kita masih ada kesempatan untuk melakukan apapun.”

Aku tak akan pernah bisa melupakan pesan ayahku sebelum aku pergi meninggalkan kampungku. Tempatku tumbuh selama 23 tahun.

Dan itu pula yang membawaku sampai pada posisi sekarang ini. Disaat yang paling mustahil pun, selalu ada harapan. Aku pernah melewati saat paling sulit, ketika sudah tak memiliki apa-apa lagi. Hanya baju yang melekat di badan. Tapi seperti pelangi yang selalu muncul setelah hujan atau badai, seperti itu juga perjalanan hidupku.

Sekarang, aku adalah salah satu penguasa kota disini. Kota yang 7 tahun lalu menolakku begitu rupa. Mencobaiku dengan segala ujian yang hampir membuatku gagal. Sekarang, aku adalah penguasa kota ini. Dan itu berkat pesan ayahku yang selalu kuingat hingga hari ini.

Begitupun aku tak akan pernah lupa wajah tuanya yang kebingungan, ketika tanpa diketahuinya mengapa setengah persawahan di kampungku tergusur paksa oleh back hoe yang datang mendadak pada suatu senja.

#31HariIFF : Dibalik Jendela

Jendela

Jendela

“Menjauh dari sana!!”, teriak Mama padaku. Aku yang baru saja hendak duduk disamping jendela besar dirumah baru ini terpaksa urung. Memandang Mama yang sedang sibuk menurunkan tirai berat berwarna merah dengan bingung. Kenapa dengan jendela itu?

Semakin dilarang, maka rasa penasaran pula yang semakin besar. Setiap ke dapur, aku akan selalu berlama-lama memandang jendela besar yang sekarang ditutup dengan tirai berat berwarna merah. Masih tak mengerti dengan larangan Mama agar tak mendekati jendela besar itu. Sedangkan jendela yang lain didapur hanya diberi selembar kain tipis sebagai gorden.

Dan malam ini, aku harus menuntaskan rasa penasaranku. Aku akan mendekati jendela itu malam ini, setelah aku selesai mengerjakan pe-er matematika dari ibu Natasya. Sore tadi, aku sudah meletakkan sebatang kayu dibalik tirai, untuk membantuku mengangkat tirai jendela besar itu.

Aku menuruni tangga dengan perlahan. Berharap langkah-langkah kaki kecilku ditangga kayu itu tak akan membangunkan Mama. Dan disinilah aku sekarang. Berdiri tegak didepan jendela besar yang masih tertutup tirai merah. Perlahan kusingkap ujung tirai dibawah, mengambil kayu yang akan menahan tirai merah ini untuk tak menutup. Tangan kecilku tak mampu untuk mengangkat tirai itu dengan cepat. Tapi, perlahan-lahan tirai itu tersibak. Kini aku berdiri didepan jendela besar itu. Memandang ke luar yang hanya berisi pemandangan gelap.

Tapi, hey. Akhirnya aku melihat itu. Apa yang dilarang Mama. Kubuka kunci jendela perlahan. Membuka daun jendela dengan kedua tangan mungilku. Lalu menyeret kursi makan ke bawah jendela untuk membantuku melewati bingkai jendela.

Akhirnya, usahaku terbayar. Disinilah aku sekarang. Disebuah rumah yang terbuat dari permen dan coklat. Itu sebabnya Mama melarangku, agar aku tak sakit gigi karena memakan dinding coklat dan tiang permen.

Aku tersenyum memandang ke arah rumahku. Ke arah jendela yang entah kenapa sekarang terlihat semakin menjauh.

“MAMA!!!!!!”

 

 

 

 

 

#31HariFF : Sebuah Kesalahan

test

 

 

Sudah seminggu ini badan Tesia terasa tak enak. Bukan karena pekerjaan di kantor yang menumpuk menjelang akhir tahun. Bukan pula karena sudah dua bulan ini dia juga menyandang status sebagai istri dari kekasihnya  yang menikahinya sejak 2 bulan ini. Setiap pagi Tesia merasakan pusing dan mual yang datang bersamaan. Apalagi sudah hampir dua minggu Tirta, suaminya bertugas ke Singapura dan kepulangannya masih seminggu lagi. Tesia tak ingin membebani suaminya dengan keadaannya yang kurang sehat, itu sebabnya dia tak berkata apa-apa setiap kali suaminya telfon.

Dan pagi ini, mual dan pusing itu semakin menjadi. Tesia menelfon kantornya, ijin tidak masuk. Lalu menelfon sahabatnya Yana, perihal keadaannya yang kurang baik belakangan ini.

“Coba deh, kamu pake test pack. Kali aja itu karena kamu sedang hamil,” saran Yana.

Dan pagi itu juga, Tesia mencari apotek yang sudah buka. Membeli 2 pak test pack sekaligus.

***

Dengan penuh harap, Tesia memandang test pack baru saja dia celupkan pada air seninya. Menunggu 1 menit, terasa 1 jam. Melihat perubahan warna pada sebatang benda yang akan menentukan takdirnya untuk segera menjadi seorang ibu atau tidak. 1 menit berlalu. Tesia tersenyum. Tepat seperti yang diharapkannya. Dua garis.

***

Tesia menyambut kedatangan Tirta dengan tersenyum penuh rahasia.

“Aku ada hadiah buat kamu” ujarnya manja sambil memeluk suaminya. Ada yang aneh pada senyum Tirta, tapi kebahagiaan Tesia tak mengindahkan keanehan itu. Dengan senyum bahagia Tesia menyerahkan test pack yang menunjukkan dua garis pada Tirta yang terdiam. Hanya menatap test pack dan Tesia berganti-ganti.

“Aku juga punya hadiah buat kamu,” timpal Tirta dingin. Menyerahkan sebuah amplop putih pada Tesia yang menerimanya dengan senyum bahagia. Perlahan membuka amplop dan membaca isinya. Ganti Tesia terdiam. Menatap surat dan Tirta berganti-ganti.

“Aku mandul, Tesia. Dan itu bukan anakku!” Tirta keluar rumah dengan menenteng koper yang baru saja dia turunkan dari pesawat, 2 jam yang lalu.

***

Tiga bulan yang lalu.

“Anggap saja ini adalah perpisahan kita. Aku akan melepaskanmu untuk orang yang kamu cintai sekarang. Setelah ini, aku akan menghilang dari kehidupanmu,” Dharma, mantan pacarnya,  tersenyum pada Tesia yang menutup tubuh telanjangnya dengan selimut tebal, disebuah hotel berbintang.

Pertemuan yang kelak akan dia sesali seumur hidupnya.