Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Category Archives: catatan pinggir

Tentang Jembatan

Years ago,
Seminggu sekali kampus selalu membentangkan spanduk yang berisi quotes yang menyemangati. Spanduk itu membentang disebelah kanan pintu masuk. Setiap kali, siapapun yang masuk kampus, terlebih dahulu akan melihat spanduk tersebut.
Suatu waktu, sekitar 2004 atau 2005 atau 2006, sebuah spanduk quote menampar jidat saya dengan keras. Isinya, “Manusia kesepian karena membangun dinding, ketimbang jembatan“.  Bertahun berikutnya, saya baru tau, bahwa quote tersebut berasal dari Joseph Fort Newton. Saat itu saya, manusia individualis, introvert yang aneh, hanya mempunyai beberapa teman dekat. Itupun, tak seluruh cerita hidup saya tumpahkan ke mereka. Hanya sebagian kecil. Sebagian besar lainnya, saya simpan dihati, hingga membatu. Dan, saya pengikut setia Don Clericuzio pada waktu itu. Semakin membangun tembok di sekeliling saya. Begitu tinggi, sampai saya sendiri pun susah untuk sekedar melongok keluar.
Waktu itu, saya pun bukan kurang pergaulan. Saya termasuk giat beraktifitas di kampus. Jadi panitia acara ini itu. Jadi pengurus organisasi ini itu. Dan pernah demo juga. Jadi, bukan menutup diri sama sekali. Hanya, susah menempatkan cerita hidup saya pada orang lain. Itu saja.
Tapi mereka, memahami bahwa saya memang bukan jenis orang yang gampang membuka diri begitu saja. Selalu ada beberapa tahapan yang membuat saya akhirnya berhasil menumpahkan isi  hati (meski tak seluruhnya) kepada mereka. Hingga saat ini. Proses tersebut pun masih tetap berlaku. Ada yang menghilang sama sekali, ada yang tetap tinggal. Mereka yang tinggal berjauhan dari saya, tetap bisa saya titipkan cerita-cerita hidup saya ketika kami bertemu kemudian. Mereka yang sedang bersisian waktu saat ini, meski memiliki begitu banyak alasan untuk beranjak, tetap memilih untuk tinggal.
Perihal membangun jembatan ini memang tak mudah. Melewati beberapa proses meruntuhkan dinding, membangun dinding, meruntuhkan jembatan, membangun jembatan. Saya harus belajar lebih keras lagi untuk meneguhkan hati, bahwa apapun yang terjadi, saya tak akan meruntuhkan jembatan yang terakhir saya bangun. Bahwa proses untuk belajar percaya memang tak mudah, tapi juga tak terlalu sulit. Yang dibutuhkan hanya, mempersiapkan hati, untuk menerima kekecewaan dengan ikhlas.
Terima kasih, kalian.
Yang masih tinggal disini.
Dalam lingkar waktuku. Bersisian.
Mengingatkan ketika aku salah. Mendukung, apapun pilihan itu.
Bertahan menghadapi segala keanehanku.
Berjalan bolak balik melintasi jembatan rapuh yang kubangun dengan sekuat hati.
Terima kasih,
Kawan.

(Menuntaskan) Mimpi

Impian itu masih ada. Masih disana. Menunggu untuk diraih dan diwujudkan. Hingga entah. Saat ini, sedang menjalani hidup, menuntaskan takdir yang tertulis. Hingga entah. Semoga, saat itu akan datang. Saat ketika segala mimpi terwujud, dengan ikhlas. Kusebut ikhlas, karena tugasku sebagai ibu adalah harus mendampingi anak-anakku meraih kebahagiaan mereka, menyampingkan inginku yang memang tercipta jauh sebelum mereka terlahir, sebagai cinta.

Menjalani takdir sebagai ibu, bukanlah beban. Dan tak akan pernah jadi beban. Jikapun, segala mimpi hanya akan menjadi mimpi dan tergantung disana, aku tetap harus ikhlas.

 

*menulis ini diantara rengekan Attar yang minta diangkat, pertanyaan Yash yang berulang-ulang dan petikan gitar lagu Dia dari ayahnya*

Medan, 8 Februari 2017
23:58 WIB

Welcome To The World, Allegretto!

Malam ketika hujan turun dengan derasnya di hari Jumat, 9 September yang lalu, sekitar pukul 22.32 saya melahirkan bayi kedua kami. Seorang laki-laki. Alhamdulillah. Betapa penantian sembilan bulan ini terbayar lunas. Melalui proses Sectio Caesaria yang menurut saya proses post op-nya lebih berat daripada ketika saya SC pertama kali.

Wahyu Zayeed Attar Allegretto. Itu nama adiknya Yash. Ayahnya yang musisi meminta agar tiap nama belakang anaknya ada unsur musiknya. Dan saya sudah sepakat ketika awal mengandung Yash dulu.

Usai proses SC yang menurut saya kali ini lebih santai, karena ini adalah kali kedua, tetapi post op SC kedua ini benar-benar drama. Sekitar jam 23, saya didorong kembali ke kamar. Dengan kondisi yang lelah dan bius yang masih terasa setengah badan. Sejam kemudian, drama benar-benar dimulai. Bius berangsur-angsur menghilang, meninggalkan rasa perih pada perut yang baru selesai disayat. Punggung yang kaku, hasil anestesi sebelum SC. Dan segala macam rasa sakit yang membuat saya tak bisa tidur. Kondisi ini mengingatkan saya pada SC pertama, yang menempatkan saya pada sebuah kondisi bernama baby blues. Saya berusaha keras, agar kondisi tersebut tak kembali lagi kali ini. Memaksa mata untuk terpejam, sementara jahitan di perut merajam dengan rasa sakit yang berkali-kali lipat.

Alhamdulillah, meski proses pemulihan berlangsung lebih lama pada SC kedua kali ini, saya tidak mengalami baby blues. I love both of my baby boys. Saya bisa mengasuh Yash dan Attar sekaligus. Meski pada 1 minggu pertama saya absen memandikan Yash, tapi pada minggu kedua, perlahan saya bisa lagi sesekali memandikannya. Saya berhutang 1 minggu pada Yash, ketika usai melahirkannya saya justru merasa tak suka dengan aroma tubuhnya, tak suka dengan keberadaannya. Baby blues, kondisi itu dinamakan. Maka, ketika Attar lahir, saya berusaha untuk menjauhkan segala kondisi yang bisa membuat saya kembali pada kondisi 3 tahun yang lalu. Alhamdulillah, I did it.

Dan kali ini juga, saya ingin memberikan ASI pada Attar, sesuatu yang hanya mampu saya berikan selama 4 bulan saja pada Yash. Itu juga dengan bantuan susu formula dengan persentase 3 : 1. Lebih banyak asupan susu formula daripada ASI. Walaupun dengan pengetahuan yang minim, dengan kondisi payudara yang lecet saya berusaha tetap memberikan ASI pada Attar, meski tetap dengan bantuan susu formula, karena Attar yang kuat sekali menyusui dan ASI saya yang masih sedikit.

Bagaimanapun, saya juga menikmati lagi menjadi ibu bagi 1 balita yang sedang aktif-aktifnya dan 1 baby newborn yang membuat saya tidur larut malam dan sering terbangun menjelang pagi untuk mengganti popok dan menyusui.

Test, Ujian, atau apapun itu

Seharusnya, test, ujian, kuis atau apapun itu dalam dunia pendidikan atau pekerjaan, tak menjadikanmu manusia curang.

Karena sesungguhnya, kelak kita tak bisa mencurangi hidup ketika ujian pada kehidupan akhirnya mendatangi dan menghempas hidup kita tanpa ampun.

Berlaku jujur memang tak mudah, tetapi seharusnya tak sesulit itu pula.

Akhirnya sebuah kejujuran memiliki arti penting, ketika akhirnya kita mampu menghadapi kehidupan ini dengan kepala tegak dan sebenar-benarnya hidup.

Jika untuk sesuatu yang seharusnya mudah saja kita tak mampu berlaku jujur, maka kita akan dengan mudah untuk membuat jalan keluar dengan segala cara. Apapun itu. Bahkan ketika kita harus menyikut dan menikung orang lain.

Saya tak sedang ingin berceramah. Tak sedang ingin menilai.

Hanya sekedar mengingatkan. Kepada diri sendiri.

Bahwa ujian adalah lebih dari sekedar mendapatkan nilai bagus.

Itu saja.

 

Tentang perubahan jadwal

Hari pertama semester ini, dan saya kebagian masuk kelas malam, yang selesai sekitar jam 21.45. Praktis saya meninggalkan rumah sedari jam 8 pagi sampai jam 10 malam.

Emak-emak macam apa saya ini yang menghabiskan lebih dari 12 jam diluar rumah.

Tapi, saya memilih untuk melakukan ini, dengan ijin suami tentunya. Beliau memahami keinginan saya untuk kegiatan yang membutuhkan waktu diluar rumah.

Lalu, Yash? Kesayangan saya yang dengan terpaksa harus saya tinggalkan dengan tantenya. Setelah libur semester sebulan lebih ini, Yash terbiasa dengan jadwal pulang saya dari kantor jam 5 sore. Paling telat jam 6 sore Yash sudah ketemu saya. Setiap pagi sebelum berangkat saya terbiasa menyuap sarapan untuk Yash. Gitu juga waktu makan malam.

Tapi hari ini mendadak jadwalnya berubah. Sampai jam makan malam, saya masih di kampus.

Pulang tadi  adik saya bilang, Yash ngamuk. Nggak mau disuapin. Manggil-manggil saya. “Mau Amah”, katanya.

Duh, nak. Maaf. Jadwal kita berubah drastis ya nak, semester ini. Semoga Yash nanti terbiasa dengan perubahan ini.

Maafin Mah, masih belum bisa jadi ibu yang baik buat Abang.