Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Category Archives: film

PINK ~ A Girl Safety Manual

Being a woman, is a complicated thing

Honestly, saya bukan penggemar film India. Rasanya capek, ketika sedang seru-serunya jalan cerita malah terpotong dengan segala tarian dan nyanyian. Meski, bagi sebagian orang, tarian dan nyanyian itu justru esensi dalam film India. Jadi, ketika nonton film India yang katanya bagus, saya sering skip bagian tari dan nyanyi.

Tapi, film India yang kali ini saya tonton atas rekomendasi seorang kawan, PINK(2016), yang dibintangi oleh aktor besar India, Amitabh Bachchan, minus tarian. Bahkan lagunya cuma 3. 2 lagu di awal film dan 1 di credit title. So, I continue on to watched this great movie.

pink

Poster PINK

PINK adalah film tentang 3 orang perempuan yang diintimidasi karena telah melukai satu dari 3 orang laki-laki yang baru mereka kenal di sebuah konser Rock. Dan laki-laki yang terluka itu kebetulan adalah keponakan seorang yang berpengaruh di India. Terpikir untuk membalas dendam atas luka yang diderita temannya, mereka memutuskan untuk membalas dendam. Dengan berbagai intimidasi yang gagal, akhirnya 3 orang laki-laki itu melaporkan Minal Arora, perempuan yang melukai Rajveer Singh ke polisi dengan tuduhan penganiayaan dan percobaan pembunuhan. Luka yang diterima Rajveer bukan tanpa sebab. Menurut pengakuan Minal, Falak dan Andrea itu karena Rajveer melakukan pelecehan terhadap Minal. Kemudian, tetangga mereka yang pernah melihat Minal diculik ketika pulang dari lari sore tergerak untuk menolong. Deepak Shegal, seorang pengacara yang punya nama di India, yang sebelumnya memutuskan untuk pensiun, akhirnya memutuskan untuk menjadi pengacara Minal. Dan selanjutnya adegan dan percakapan di pengadilan, bikin saya terdiam sambil berkaca-kaca.

Untuk review lengkap dan sinopsisnya, silakan googling aja ya 😀 Saya hanya ingin berbagi sedikit mengenai opini saya mengenai film ini.

Film tentang perempuan memang sangat menarik untuk dibahas. Terlebih ketika masalah yang diangkat adalah pelecehan perempuan. Dimana pelecehan itu terjadi pada perempuan mandiri, yang sering pulang malam dan memakai pakaian yang sedikit terbuka. Stigma mengenai perempuan “seperti itu” yang bisa dilecehkan, ternyata tak hanya terjadi disini. Bahkan di India hal ini juga menjadi issu yang tak hanya berkembang disana, tapi juga mendunia. Betapa banyak kasus pemerkosaan perempuan yang ending-nya tak sesuai dengan yang diharapkan. Tak heran, bahwa film ini juga di-screening di markas besar PBB Di New York dan di kepolisian Rajhastan untuk melatih kepolisian ketika menghadapi kasus serupa.

Jadi perempuan disini, di Indonesia, bukan hal yang mudah. Kita akan sering mendengar “kata orang” daripada kata hati sendiri. Kita akan lebih sering mempertimbangkan “omongan orang” daripada kebahagian sendiri. Dan ketika kita mengabaikan “kata orang” dan “omongan orang”, maka cap jelek akan langsung melekat. Segala hal yang dilakukan harus selalu memikirkan “apa omongan orang kalau pulang kerja selalu diatas jam 9 malam?” Sesuatu yang akan dipakai, harus melalu pertimbangan “apa kata orang kalau pakai baju begini?” Rumit.

Mr. Deepak secara sarkas memberikan beberapa aturan yang seharusnya dipatuhi oleh perempuan kalau mau hidupnya aman. Sarkas sekali. Betapa segala kesalahan itu ditimpakan kepada perempuan. Kasus pelecehan yang berujung pada perkosaan, salah perempuan karena pakaiannya. Padahal bisa saja itu karena memang otak si pemerkosa memang sudah rusak. Salah perempuan karena terlalu percaya pada laki-laki dan mau saja diajak pergi. Padahal, dengan mengenal si laki-laki dan bersedia diajak pergi, bukan berarti para perempuan berhak untuk dilecehkan dan meminta untuk dilecehkan. Salah perempuan juga, karena pulang kerja terlalu malam, salah perempuan karena bersekolah terlalu tinggi, salah perempuan karena mengabaikan keselamatan dirinya dengan terlalu percaya pada laki-laki.

Meski, tak semua laki-laki sebrengsek itu. Tak semua laki-laki otaknya serusak itu. Justru itu, jangan menilai dari pakaian dan kebersediaan perempuan untuk berteman dengan laki-laki. Kami hanya ingin dihargai, tak perlu juga perlindungan secara berlebihan. Hanya perlu dihargai.

Karena TIDAK berarti TIDAK!!! Karena jika seorang perempuan berkata TIDAK, tak akan ada lanjutannya.

Betapa peer saya banyak sekali. Dengan 2 orang anak laki-laki, saya harus mengajari mereka tentang bagaimana seharusnya seorang laki-laki wajib menghormati perempuan, ibunya.

 

Iklan

Film PeeKay dan simbol agama

Isu agama adalah isu yang paling sensitif untuk dilontarkan, terutama di negara-negara majemuk yang memang gampang terpancing isu-isu seperti ini. Indonesia adalah salah satunya. Tak jarang pergesekan terjadi gara-gara salah paham. Forum-forum terbuka juga tak sedikit yang menjadikan agama sebagai salah satu perdebatan. Bersyukur tinggal di kota Medan yang aman dan damai dari kisruh antar agama.

Pee Kay

Pee Kay

Mungkin itu juga yang ingin disampaikan film P.K. Film Bollywood yang dibintangi Aamir Khan, yang saya tonton bareng kawan-kawan kantor Sabtu sore yang lalu. P.K atau Pee Kay ya, bukan Penjahat Kelamin 😀 Film ini direkomendasikan bagus oleh kawan-kawan yang pernah menontonnya. Film yang mengundang kontroversial di India sana juga mengundang protes keras dari tokoh-tokoh agama. Bahkan, Aamir Khan Persis seperti film-filmnya Hanung Bramantyo 😀 Kalau Hanung (katanya) cenderung menunjukkan sisi jelek dari agama Islam, nah P.K yang disutradarai oleh Rajkumar Hirani ini, cenderung ke tokoh-tokoh agama Hindu yang tak jarang dikultuskan, seperti Tapaswi Maharaj, yang jadi tokoh agama di film ini. Sinopsis lengkap (spoiler malah) bisa langsung ke sini.

Secara tak langsung, PK memang menyindir keagamaan saya. Bahwa saya masih memandang simbol-simbol itu jauh lebih penting dari pada hubungan saya sendiri dengan Tuhan. Saya memang bukan orang yang religius, tetapi saya percaya bahwa segala apapun yang saya lakukan semata-mata karena takdir yang Dia gariskan untuk saya. Jadi teringat, jaman masih mahasiswa dulu, ketika saya masih aktif berkegiatan di Himpunan Mahasiswa, pernah berkenalan dengan sekelompok pecinta Linux yang waktu itu masih asing. Sekitar tahun 2002 atau 2003-an. Saya yang masih bergaya preman tobat berkenalan dengan orang-orang yang ketika saya ulurkan tangan untuk berkenalan, malah menangkupkan tangan didada, menolak bersalaman. Dan ketika berdiskusi tentang acara seminar yang akan kami buat, nggak pernah melihat wajah saya ketika saya berbicara. Saya merasa seperti PeeKay pada saat itu. Sebagai perempuan dengan ilmu agama yang sedikit, saya jadi bingung, kenapa perempuan seperti saya menjadi sesuatu yang sepertinya haram untuk disentuh, bahkan sekedar berjabatan tangan. Tapi memang mungkin pemahaman saya tentang pergaulan muslim-muslimah memang tak seperti mereka yang saya kenal dulu.

Tak jarang kita memang menganggap simbol-simbol agama itu menjadi jauh lebih penting agama itu sendiri. Sehingga terkadang lupa, bahwa ada banyak orang-orang seperti saya yang memang pemahaman terhadap agama itu sedikit, menjadi berpatokan pada simbol dan ritual-ritual tertentu. Dan PeeKay menggambarkannya dengan sangat jelas sekali. Dan tokoh-tokoh yang dianggap sebagai yang paling dekat dengan Tuhan, tak jarang akan kita anggap sebagai Tuhan. Bukan dengan menyembahnya, tapi justru kita lebih takut terhadap amarah tokoh-tokoh agama tersebut dibanding Tuhan sendiri. Lebih mengikuti kata-kata tokoh agama tersebut, dibandingkan firman-firman yang telah Tuhan sabdakan di kitab suci.

Maka, Pee Kay mengajak saya untuk introspeksi jauh ke dalam diri saya. Sudah baikkah saya memahami agama saya. Sudah paham kah saya dengan ayat-ayat suci yang Allah kirimkan melalui Al Qur’an ? Dan Pee Kay seharusnya bukanlah sebuah film yang menghina agama, tapi mari kita lihat, Pee Kay sebagai sindiran bagi kita, yang mungkin memahami agama dengan sudut pandang yang mungkin sedikit keliru.

 

PS : tulisan diatas cuma sekedar sok tau saya tentang pesan dibalik sebuah film. Peace.

 

The Edge Of Tomorrow

Ini adalah late post yang seharusnya tak diijinkan terjadi di blog ini. Tapi berhubung minggu-minggu ini agak sok sibuk dengan kerjaan di kantor, kuliah pengganti karena hari Kamis bulan Mei lalu banyak libur, bikin soal UAS dan rekap absen, maka baru sekarang ini saya bisa nulis lagi disini. Kamis lalu, saya diijinkan abang suamih untuk mendapatkan me time. Dan dengan semangat ’45 saya mengiyakan ajakan Kiki dan Vera untuk menikmati The Edge Of Tomorrow, film terbaru Tom Cruise, idola saya sepanjang masa 😀

Jadilah, sepulang kantor kami langsung ke 21 Thamrin Plaza. Karena jam main filmnya jam 5, sedang keluar kantor adalah setengah 5, maka agak buru-buru juga berangkatnya. Tapi jarak kantor-21 ini dekat, sekitar 5 sampai 10 menit dengan angkot, jadinya nggak telat.

Sesuai dengan tagline-nya, film ini tentang live and die repeat. Tentang hari yang terus menerus berulang, ketika tokoh utamanya mati dan hidup kembali di hari yang sama, yang hanya dirasakan oleh tokoh utamanya. Adalah William Cage, seorang perwira berpangkat Mayor yang tak pernah terjun perang dan terlalu pengecut untuk ikut perang. Perang tak biasa yang terjadi, yang lawannya adalah alien yang menguasai bumi. Setiap kali mati, Cage akan kembali hidup dan mengulangi hari yang sama, berperang dengan pasukan alien, bertemu dengan pahlawan bernama Rita Vitraski (Emily Blunt) yang juga pernah mengalami hal yang sama. Mati dan hidup lagi membuat Cage belajar bagaimana menaklukkan Alfa dan Omega, alien utama yang mengendalikan ribuan alien yang menyerang manusia.

Tentang Alfa dan Omega ini, sangat menarik untuk dibahas sekemampuan saya, mengingat bahwa Tom Cruise adalah penganut agama Scientology yang kontroversi tapi diikuti juga oleh beberapa artis hollywood lainnya. Alfa – Omega adalah sebutan lain untuk Tuhan. Pada Edge Of Tomorrow, Alfa – Omega mengacu pada 2 alien utama dimana Alfa adalah alien penjaga Omega yang bernaung dibawah museum Louvre, Perancis. Omega-lah yang mengatur bagaimana pasukan alien menyerang bumi. Omega juga yang memberikan kekuatan untuk bisa hidup kembali dan mengulangi hari yang sama pada Cage. Dan diakhir cerita, ketika akhirnya Cage dan Vitraski berhasil menemukan sarang Omega dan meledakkan Omega, Cage yang sudah kehilangan kekuatannya karena transfusi darah, akhirnya mati. Tapi sebelum mati, darah Omega mengalir ke tubuh Cage. Dan ketika akhirnya Cage terbangun lagi, segala sesuatu sudah selesai. Alien musnah dan hari kembali berulang.

Tapi, apakah memang The Edge Of Tomorrow ini merupakan bagian dari ajaran dari Saintologi? Banyak sumber yang saya baca melalui hasil googling tentang keterikatan penganut Saintologi dengan luar angkasa, terutama alien. Tetapi, para penganut Saintologi selalu menyangkal jika mereka ditanya tentang alien Xenu yang katanya dipercayai oleh penganut agama baru tersebut. Hanya, ketika akhirnya saya mengerti konsep Alfa – Omega pada film ini, akhirnya saya berani menyimpulkan tentang hal ini. Benar atau nggak, silakan kawan-kawan tonton film yang menurut saya punya animasi yang luar biasa.

Perahu Kertas

Akhirnya, setelah launching 16 Agustus kemarin, saya baru hari ini menonton film yang diadaptasi dari novel Dewi Lestari yang berjudul perahu kertas. Tak usahlah kita bandingkan antara keduanya. Jelas, medianya juga sudah berbeda. Dari beberapa film adaptasi novel yang pernah saya tonton, sudah jelas tak bisa disamakan dengan filmya. Jika dibukunya kita bisa berimajinasi dengan sebebasnya menggambarkan kedua tokoh sentral Kugy dan Keenan, maka di filmnya kita disuguhkan pemandangan visual yang bisa jadi berbeda dengan apa yang ada didalam imajinasi kita. Maka, kita nikmati sajalah film yang skenarionya ditulis sendiri oleh Dee.

Saya suka dengan pembuka dan penutup film. Laut dan sebuah perahu. Satu lagi, ketika Remy (bos-nya Kugy) nembak dia di pinggir pantai pas malam tahun baru. Siluet Kugy dan Remy, bulan yang besar dan siluet perahu. Itu angle yang luar biasa. Hanung memang jago untuk urusan yang begini.

Saya bukan kritikus film yang baik, tapi saya sangat menikmati film ini. Jika kalian menikmati buku ini, mungkin kalian juga bisa menikmati filmnya.

Ah iya, selesai film ini dan saya keluar bioskop. Kepala saya pusing. Bukan karena AC-nya yang dingin, tetapi karena setiap kali adegan Kugy dan Keenan, mata saya basah. Entah, yang saya rasa chemistry mereka kuat sekali. Saya seperti bisa merasakan apa yang dirasakan Kugy dan Keenan. Saya seperti bisa merasakan, bagaimana sulitnya mereka menyimpan perasaan yang sepertinya tak mungkin diungkapkan.

Maka dengan mengesampingkan novel Perahu Kertas yang keren itu, saya bisa bilang bahwa film ini yang diisi dengan beberapa cameo orang-orang yang cukup di kenal di negeri ini, juga keren. Sebagai penulis dan penulis skenario, Dee Lestari berhasil menyampaikan adaptasi novelnya di layar lebar. Dan saya tak sabar menunggu film selanjutnya yang katanya juga diadaptasi dari novel Dewi Lestari, Madre dan Rectoverso.

PS : Tak perlu anggap serius, ini bukan review film resmi. Hanya saya ingin menyampaikan bahwa saya suka film ini 😉

About Bernard Bear

Belakangan, setelah pulang kerja hiburan saya sebelum dan sesudah Upin dan Ipin adalah Bernard Bear. Beruang lucu yang punya tampang tolol banget. Pemarah, usil, periang dan kadang punya segudang ide yang jarang berhasil. Setiap kali melihat animasi pendek ini, selalu bisa membuat saya tertawa. Tampang tololnya yang jail dan ide-idenya yang selalu mengejutkan yang kadang nggak akan terpikir oleh siapapun selalu bisa membuat saya tertawa. Dan tuan muda juga. It’s one of our favourites.

Tapi, biarpun Bernard pemarah, gampang marah banget (kayak saya, persis 😛 ), dia tetap saja beruang lucu yang terkadang bisa seenaknya mengusili banteng yang jauh lebih pemarah dari dia. Atau, dengan pintarnya menjebak si Zack the lizard yang mencoba mencuri lukisan monalisa dari museum tempatnya bekerja sebagai petugas keamanan, atau dengan begitu baiknya menyelamatkan seekor anak burung yang baru belajar terbang.

Bernard Bear diciptakan oleh perusahaan animasi dari RG Animation Studios dan EBS Productions dari Korea, BRB Internacional S. A dari Spanyol dan M6 Metropole Television dari Prancis.

Bernard sudah memasuki season ke 3 dengan 156 episode. Dan seperti animasi pendek lainnya, Bernard hanya bisa dilihat setiap 3 menit. Tapi itu sudah cukup buat saya untuk menenangkan otak yang jenuh akibat pekerjaan dari pagi hingga sore.

Dan itu membuat saya berpikir, kapan ya animator di Indonesia punya ide secemerlang seperti animator Upin-Ipin dan Bernard Show. Membuat tontonan yang lebih membumi, mendidik dan jauh dari kesan berfantasi dan bermimpi.

Kami merindukan tayangan yang bermutu di televisi Indonesia. Bukan sekedar sinetron sampah dan pemberitaan video porno yang di blow up sehingga semakin mengundang penasaran abg dan anak-anak dibawah umur untuk mencari tahu dan akhirnya melihatnya.