Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Category Archives: film

Film PeeKay dan simbol agama

Isu agama adalah isu yang paling sensitif untuk dilontarkan, terutama di negara-negara majemuk yang memang gampang terpancing isu-isu seperti ini. Indonesia adalah salah satunya. Tak jarang pergesekan terjadi gara-gara salah paham. Forum-forum terbuka juga tak sedikit yang menjadikan agama sebagai salah satu perdebatan. Bersyukur tinggal di kota Medan yang aman dan damai dari kisruh antar agama.

Pee Kay

Pee Kay

Mungkin itu juga yang ingin disampaikan film P.K. Film Bollywood yang dibintangi Aamir Khan, yang saya tonton bareng kawan-kawan kantor Sabtu sore yang lalu. P.K atau Pee Kay ya, bukan Penjahat Kelamin πŸ˜€ Film ini direkomendasikan bagus oleh kawan-kawan yang pernah menontonnya. Film yang mengundang kontroversial di India sana juga mengundang protes keras dari tokoh-tokoh agama. Bahkan, Aamir Khan Persis seperti film-filmnya Hanung Bramantyo πŸ˜€ Kalau Hanung (katanya) cenderung menunjukkan sisi jelek dari agama Islam, nah P.K yang disutradarai oleh Rajkumar Hirani ini, cenderung ke tokoh-tokoh agama Hindu yang tak jarang dikultuskan, seperti Tapaswi Maharaj, yang jadi tokoh agama di film ini. Sinopsis lengkap (spoiler malah) bisa langsung ke sini.

Secara tak langsung, PK memang menyindir keagamaan saya. Bahwa saya masih memandang simbol-simbol itu jauh lebih penting dari pada hubungan saya sendiri dengan Tuhan. Saya memang bukan orang yang religius, tetapi saya percaya bahwa segala apapun yang saya lakukan semata-mata karena takdir yang Dia gariskan untuk saya. Jadi teringat, jaman masih mahasiswa dulu, ketika saya masih aktif berkegiatan di Himpunan Mahasiswa, pernah berkenalan dengan sekelompok pecinta Linux yang waktu itu masih asing. Sekitar tahun 2002 atau 2003-an. Saya yang masih bergaya preman tobat berkenalan dengan orang-orang yang ketika saya ulurkan tangan untuk berkenalan, malah menangkupkan tangan didada, menolak bersalaman. Dan ketika berdiskusi tentang acara seminar yang akan kami buat, nggak pernah melihat wajah saya ketika saya berbicara. Saya merasa seperti PeeKay pada saat itu. Sebagai perempuan dengan ilmu agama yang sedikit, saya jadi bingung, kenapa perempuan seperti saya menjadi sesuatu yang sepertinya haram untuk disentuh, bahkan sekedar berjabatan tangan. Tapi memang mungkin pemahaman saya tentang pergaulan muslim-muslimah memang tak seperti mereka yang saya kenal dulu.

Tak jarang kita memang menganggap simbol-simbol agama itu menjadi jauh lebih penting agama itu sendiri. Sehingga terkadang lupa, bahwa ada banyak orang-orang seperti saya yang memang pemahaman terhadap agama itu sedikit, menjadi berpatokan pada simbol dan ritual-ritual tertentu. Dan PeeKay menggambarkannya dengan sangat jelas sekali.Β Dan tokoh-tokoh yang dianggap sebagai yang paling dekat dengan Tuhan, tak jarang akan kita anggap sebagai Tuhan. Bukan dengan menyembahnya, tapi justru kita lebih takut terhadap amarah tokoh-tokoh agama tersebut dibanding Tuhan sendiri. Lebih mengikuti kata-kata tokoh agama tersebut, dibandingkan firman-firman yang telah Tuhan sabdakan di kitab suci.

Maka, Pee Kay mengajak saya untuk introspeksi jauh ke dalam diri saya. Sudah baikkah saya memahami agama saya. Sudah paham kah saya dengan ayat-ayat suci yang Allah kirimkan melalui Al Qur’an ? Dan Pee Kay seharusnya bukanlah sebuah film yang menghina agama, tapi mari kita lihat, Pee Kay sebagai sindiran bagi kita, yang mungkin memahami agama dengan sudut pandang yang mungkin sedikit keliru.

 

PS : tulisan diatas cuma sekedar sok tau saya tentang pesan dibalik sebuah film. Peace.

 

The Edge Of Tomorrow

Ini adalah late post yang seharusnya tak diijinkan terjadi di blog ini. Tapi berhubung minggu-minggu ini agak sok sibuk dengan kerjaan di kantor, kuliah pengganti karena hari Kamis bulan Mei lalu banyak libur, bikin soal UAS dan rekap absen, maka baru sekarang ini saya bisa nulis lagi disini. Kamis lalu, saya diijinkan abang suamih untuk mendapatkan me time. Dan dengan semangat ’45 saya mengiyakan ajakan Kiki dan Vera untuk menikmati The Edge Of Tomorrow, film terbaru Tom Cruise, idola saya sepanjang masa πŸ˜€

Jadilah, sepulang kantor kami langsung ke 21 Thamrin Plaza. Karena jam main filmnya jam 5, sedang keluar kantor adalah setengah 5, maka agak buru-buru juga berangkatnya. Tapi jarak kantor-21 ini dekat, sekitar 5 sampai 10 menit dengan angkot, jadinya nggak telat.

Sesuai dengan tagline-nya, film ini tentang live and die repeat. Tentang hari yang terus menerus berulang, ketika tokoh utamanya mati dan hidup kembali di hari yang sama, yang hanya dirasakan oleh tokoh utamanya. Adalah William Cage, seorang perwira berpangkat Mayor yang tak pernah terjun perang dan terlalu pengecut untuk ikut perang. Perang tak biasa yang terjadi, yang lawannya adalah alien yang menguasai bumi. Setiap kali mati, Cage akan kembali hidup dan mengulangi hari yang sama, berperang dengan pasukan alien, bertemu dengan pahlawan bernama Rita Vitraski (Emily Blunt) yang juga pernah mengalami hal yang sama. Mati dan hidup lagi membuat Cage belajar bagaimana menaklukkan Alfa dan Omega, alien utama yang mengendalikan ribuan alien yang menyerang manusia.

Tentang Alfa dan Omega ini, sangat menarik untuk dibahas sekemampuan saya, mengingat bahwa Tom Cruise adalah penganut agama Scientology yang kontroversi tapi diikuti juga oleh beberapa artis hollywood lainnya. Alfa – Omega adalah sebutan lain untuk Tuhan. Pada Edge Of Tomorrow, Alfa – Omega mengacu pada 2 alien utama dimana Alfa adalah alien penjaga Omega yang bernaung dibawah museum Louvre, Perancis. Omega-lah yang mengatur bagaimana pasukan alien menyerang bumi. Omega juga yang memberikan kekuatan untuk bisa hidup kembali dan mengulangi hari yang sama pada Cage. Dan diakhir cerita, ketika akhirnya Cage dan Vitraski berhasil menemukan sarang Omega dan meledakkan Omega, Cage yang sudah kehilangan kekuatannya karena transfusi darah, akhirnya mati. Tapi sebelum mati, darah Omega mengalir ke tubuh Cage. Dan ketika akhirnya Cage terbangun lagi, segala sesuatu sudah selesai. Alien musnah dan hari kembali berulang.

Tapi, apakah memang The Edge Of Tomorrow ini merupakan bagian dari ajaran dari Saintologi? Banyak sumber yang saya baca melalui hasil googling tentang keterikatan penganut Saintologi dengan luar angkasa, terutama alien. Tetapi, para penganut Saintologi selalu menyangkal jika mereka ditanya tentang alien Xenu yang katanya dipercayai oleh penganut agama baru tersebut. Hanya, ketika akhirnya saya mengerti konsep Alfa – Omega pada film ini, akhirnya saya berani menyimpulkan tentang hal ini. Benar atau nggak, silakan kawan-kawan tonton film yang menurut saya punya animasi yang luar biasa.

Perahu Kertas

Akhirnya, setelah launching 16 Agustus kemarin, saya baru hari ini menonton film yang diadaptasi dari novel Dewi Lestari yang berjudul perahu kertas. Tak usahlah kita bandingkan antara keduanya. Jelas, medianya juga sudah berbeda. Dari beberapa film adaptasi novel yang pernah saya tonton, sudah jelas tak bisa disamakan dengan filmya. Jika dibukunya kita bisa berimajinasi dengan sebebasnya menggambarkan kedua tokoh sentral Kugy dan Keenan, maka di filmnya kita disuguhkan pemandangan visual yang bisa jadi berbeda dengan apa yang ada didalam imajinasi kita. Maka, kita nikmati sajalah film yang skenarionya ditulis sendiri oleh Dee.

Saya suka dengan pembuka dan penutup film. Laut dan sebuah perahu. Satu lagi, ketika Remy (bos-nya Kugy) nembak dia di pinggir pantai pas malam tahun baru. Siluet Kugy dan Remy, bulan yang besar dan siluet perahu. Itu angle yang luar biasa. Hanung memang jago untuk urusan yang begini.

Saya bukan kritikus film yang baik, tapi saya sangat menikmati film ini. Jika kalian menikmati buku ini, mungkin kalian juga bisa menikmati filmnya.

Ah iya, selesai film ini dan saya keluar bioskop. Kepala saya pusing. Bukan karena AC-nya yang dingin, tetapi karena setiap kali adegan Kugy dan Keenan, mata saya basah. Entah, yang saya rasa chemistry mereka kuat sekali. Saya seperti bisa merasakan apa yang dirasakan Kugy dan Keenan. Saya seperti bisa merasakan, bagaimana sulitnya mereka menyimpan perasaan yang sepertinya tak mungkin diungkapkan.

Maka dengan mengesampingkan novel Perahu Kertas yang keren itu, saya bisa bilang bahwa film ini yang diisi dengan beberapa cameo orang-orang yang cukup di kenal di negeri ini, juga keren. Sebagai penulis dan penulis skenario, Dee Lestari berhasil menyampaikan adaptasi novelnya di layar lebar. Dan saya tak sabar menunggu film selanjutnya yang katanya juga diadaptasi dari novel Dewi Lestari, Madre dan Rectoverso.

PS : Tak perlu anggap serius, ini bukan review film resmi. Hanya saya ingin menyampaikan bahwa saya suka film ini πŸ˜‰

About Bernard Bear

Belakangan, setelah pulang kerja hiburan saya sebelum dan sesudah Upin dan Ipin adalah Bernard Bear. Beruang lucu yang punya tampang tolol banget. Pemarah, usil, periang dan kadang punya segudang ide yang jarang berhasil. Setiap kali melihat animasi pendek ini, selalu bisa membuat saya tertawa. Tampang tololnya yang jail dan ide-idenya yang selalu mengejutkan yang kadang nggak akan terpikir oleh siapapun selalu bisa membuat saya tertawa. Dan tuan muda juga. It’s one of our favourites.

Tapi, biarpun Bernard pemarah, gampang marah banget (kayak saya, persis πŸ˜› ), dia tetap saja beruang lucu yang terkadang bisa seenaknya mengusili banteng yang jauh lebih pemarah dari dia. Atau, dengan pintarnya menjebak si Zack the lizard yang mencoba mencuri lukisan monalisa dari museum tempatnya bekerja sebagai petugas keamanan, atau dengan begitu baiknya menyelamatkan seekor anak burung yang baru belajar terbang.

Bernard Bear diciptakan oleh perusahaan animasi dari RG Animation Studios dan EBS Productions dari Korea, BRB Internacional S. A dari Spanyol dan M6 Metropole Television dari Prancis.

Bernard sudah memasuki season ke 3 dengan 156 episode. Dan seperti animasi pendek lainnya, Bernard hanya bisa dilihat setiap 3 menit. Tapi itu sudah cukup buat saya untuk menenangkan otak yang jenuh akibat pekerjaan dari pagi hingga sore.

Dan itu membuat saya berpikir, kapan ya animator di Indonesia punya ide secemerlang seperti animator Upin-Ipin dan Bernard Show. Membuat tontonan yang lebih membumi, mendidik dan jauh dari kesan berfantasi dan bermimpi.

Kami merindukan tayangan yang bermutu di televisi Indonesia. Bukan sekedar sinetron sampah dan pemberitaan video porno yang di blow up sehingga semakin mengundang penasaran abg dan anak-anak dibawah umur untuk mencari tahu dan akhirnya melihatnya.

Garuda Di Dadaku

garuda1Ini adalah tentang bagaimana bermimpi danΒ  mewujudkan mimpi menjadi kenyataan. Segala hal didunia ini terjadi diawali oleh mimpi. Dan mimpi seorang Bayu, bocah kecil kelas 6 SD adalah bermain bola dengan lambang Garuda tersemat di dadanya.

Untuk mewujudkan mimpinya itu ternyata tak gampang. Pak Usman, kakek Bayu sudah memvonis bahwa sepakbola bukanlah pilihan tepat untuk masa depan cucunya. Tak peduli bahwa darah dan bakat sepakbola Bayu diwariskan langsung oleh ayahnya yang juga mantan pemain sepakbola. Untuk membuat Bayu melupakan cita-citanya, Pak Usman mengikutkan Bayu ke sejumlah les pelajaran dan bakat. Tapi darah dan bakat tak bisa menipu. Buat Bayu, sepakbola tak lagi sekedar cita-cita, tak hanya sekedar mimpi, tapi tujuan hidupnya. Bersama Heri sahabatnya dan Bang Dulloh, supir Herry dibantu Zahra, anak perempuan yang mereka kenal melalui situasi yang tak biasa, Bayu berlatih disebuah kuburan tua untuk membuatnya mendapat beasiswa di sebuah SSB melalui jalur beasiswa dan itu akan semakin dekat menuju impiannya untuk bermain di Tim Nasional Indonesia, dan mengenakan seragam dengan lambang Garuda di dadanya.

Film ini premiere hari ini, serentak di seluruh kota. Sejak film nasional mulai bangkit, sangat jarang kita jumpai film-film yang berkualitas seperti ini. Film Indonesia terakhir yang aku tonton adalah Laskar Pelangi. Wajah Emir Mahira yang badung, Aldo Tansani yang cerdas, Maudy Kusnaedi yang mantan Zaenab πŸ˜€ , Ikranegara dan Ramzi membuat film ini begitu segar ditonton. Dan Ramzi, two thumbs up for him.

Scene yang mengharukan buatku adalah ketika Bayu harus mengemas satu demi satu barang-barangnya yang berhubungan dengan sepakbola ketika kakeknya harus terbaring di rumah sakit, anfal, karena melihat cucu satu-satunya ternyata mewarisi bakat ayahnya. Itu membuatku teringat, ketika harus mengubur impian dan cita-citaku untuk menjadi dokter karena ketiadaan biaya. Dan, satu hal yang sama sekali tak boleh dilupakan. Bahwa anak-anak seperti anak panah. Ketika dilepaskan dari busurnya, itulah saatnya mereka menentukan jalan hidup dan keinginannya sendiri. Karena itu adalah hak anak-anak untuk menentukan apa yang mereka inginkan.

Sepertinya para capres dan cawapres, para anggota legislatif harus menonton film ini dan mengambil maknanya. Bahwa, nasionalisme dan idealisme harus dikedepankan ketika mengelola negeri ini. Dan seperti tamparan keras kepada kita semua, ketika Pak Johan menolak untuk memalsukan umur meski diiming-imingi uang. Lebih baik menjadi naif daripada berlaku munafik. Seperti inilah yang diharapkan bangsa ini tentang manusia-manusia yang akan memegang tampuk pemerintahan di Indonesia. Dengan bekerja keras tanpa pamrih, penuh rasa nasionlisme dan idealisme yang tinggi untuk membuat Indonesia lebih maju dan menuju cita-cita bangsa.

Senang rasanya melihat film Indonesia bermutu yang memberikan kesan puas ketika selesai menontonnya, dan menyisipkan banyak sekali pesan untuk penontonnya. Satu lagi, bikin merinding ketika melihat semangat di Gelora Bung Karno.

Jadi, film ini adalah salah satu film wajib tonton untuk seluruh keluarga Indonesia. Karena semangat nasionalisme mestinya tak pernah luntur, dan sematkan selalu Garuda dalam setiap dada kita.

Salute!!

lihat seluruhnya di sini