Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Category Archives: #NulisRandom2017

– #NulisRandom2017

– Hari ke 7 –

Inkonsistensi masih berlanjut. Maafkan.

Puasa hari ke 13. Cuaca kota Medan masih panas. 2 minggu sudah berlalu dari 1 Ramadhan. Jalanan masih lengang tiap sore, sepulang kantor. Saya suka. Macet nggak terlalu. Mungkin juga karena anak sekolah libur. Biasanya jarak kantor-rumah adalah 45 menit. Kalau ditambah hujan dan banjir, bisa sejam lebih. Tapi, dengan suasana puasa begini, jalanan ikut lengang. Jarak kantor-rumah setiap saya pulang lebih singkat. Bisa 20 sampai 25 menit. Luar biasa ternyata kemacetan di kota Medan ini.

 

Iklan

Inkonsistensi – #NulisRandom2017

– Hari ke 6 – 

Seperti yang sudah saya tebak, akhirnya saya memang telat 1 hari untuk menyetor tulisan di #nulisrandom2017. Alasan sih bisa saja dibuat. Mentok idelah, nggak ada waktulah, mati lampu lah, apa saja. Intinya sih sebenarnya cuma satu. Malas. Hih!!! Memang kalau malas sudah datang, apapun tak bisa dilakukan. Dan ini tentu saja bukan sebuah pembenaran. Tak ada yang benar dari sebuah kemalasan.

Dan satu lagi, saya pelupa. Terkadang, menjelang berakhirnya hari, saya baru sadar bahwa saya sedang mengikuti tantangan ini :”)

Semoga hanya hari kemarin saja saya gagal setoran. Dan hari-hari selanjutnya saya harus bisa menyelesaikannya dengan baik, benar, konsisten dan semangat.

Tentang Buku – #NulisRandom2017

– Hari ke 5 –

Book is my first love. Dari kecil, dari mulai bisa baca, saya sudah suka buku. Dulu, setiap hari Kamis sore, Ayah saya selalu membawa pulang Bobo edisi terbaru. Dari situlah saya kenalan dengan Paman Gembul dan Husin, Paman Kikuk, Keluarga Bobo, Ratu Bidadari dan keluarga kerajaan. Dan yang paling saya sukai dan sampai sekarang masih nempel di kepala adalah adalah Kisah Pak Janggut dan Buntelan Ajaib. Dulu, sebelum saya kenal Doraemon, saya pengen punya buntelan ajaib kayak punya Pak Janggut, yang bisa mengeluarkan apa saja, ketika kita membutuhkan sesuatu.

Sekarang, hobi baca saya menular ke Wawa, ponakan saya. Kalau saya lihat buku dengan judul yang bagus, langsung beli, buat Wawa. Belakangan, Wawa sering saya aja ke Gramedia, untuk milih sendiri judul yang dia mau baca. Dan mentoknya ke KKPK (Kecil-Kecil Punya Karya). Sekarang, Wawa udah SMP kelas 1, jadi KKPK sepertinya akan saya stop. Tapi saya bingung, bacaan yang bagus buat anak SMP itu apa? Masak teenlit. Belum waktunya dia baca. Saya kasih bukunya Stephen Hawking, udah bolak balik dibaca. Kisah orang-orang hebat juga udah. Negeri 5 Menara juga sudah selesai dibacanya. Akhirnya, saya menseleksi beberapa buku yang saya punya untuk dia bisa baca. Salah satunya adalah The Lord Of The Ring.

Bulan lalu, ketika libur UN, saya ajak Wawa ke Gramedia yang baru buka di Plaza Millenium. Banyak obral buku murah dengan judul bagus disana. Saya suruh dia hunting sendiri. Setelah keliling-keliling, akhirnya dia nemu satu buku klasik luar biasa. Terjemahan The Wizard of Oz. Saya lihat buku itu, serasa lihat harta karun. Tanpa basa-basi langsung saya suruh Wawa ambil buku untuk dibayar ke kasir.

The Wizard of Oz

Benar saja, sampai rumah, bungkus plastik langsung dibuka, dan dia sudah asik berkenalan dengan Dorothy, penyihir dan para munchkin.

Jujur, diusianya yang nanggung itu, mencari buku bacaan untuk Wawa memang nggak gampang. Mentok-mentoknya ya di KKPK. Atau serial petualangan. Atau buku-bukunya Enyd Blyton. Selebihnya teenlit, yang didalamnya selalu membahas tentang cinta-cintaan.

Pengen juga sesekali beli buku yang memang konsumsi untuk anak SMP tanpa cerita cinta-cintaan antara laki-laki dan perempuan. Tapi, mungkin menulis dengan tema itu agak sulit kali ya. Itu sebabnya, saya juga belum bisa nulis dengan tema tersebut. Pengennya sih, saya bisa punya ide untuk nulis cerita yang bisa dikonsumsi anak SMP, tanpa cerita cinta-cintaan, dan sebagus KKPK. Semoga.

 

Selamat Tinggal Masa Lalu – #NulisRandom2017

– Hari ke 4 – 

Selamat tinggal masa lalu
Selamat datang lembar baru
Selamat datang cinta lalu
Selamat datang cinta baru

Patah hati nggak mengenakkan kan ya? Sakit, tapi nggak tau apa yang sakit. Cuma, kadang kalau menarik nafas, suka sesak. Anehnya, meski rasa sakit itu nyata, tapi susah dideskripsikan. Yang bisa diingat cuma rasa perih, setiap kali hal-hal yang menyebabkan patahnya hati itu, melintas dengan kurang ajarnya, bahkan tanpa sengaja.

Setiap mahluk yang pernah merasakan patah hati, entah karena putus cinta, entah karena apa yang diidamkan harus dilepas begitu saja, atau bisa juga karena kehilangan. Dan saya pernah merasakan ketiga hal tersebut. Terlihat sebagai master of patah hati, ya saya 😀

Anyway, kalau dulu, setiap kali merasakan patah hati, pelarian saya adalah dengan menulis. Menumpahkan segala hal yang membuat sesak. Medianya bisa apa saja. Agenda saya, kertas kosong, buku cataran kuliah, apa saja. Yang jelas, kalau saya nggak mau berlama-lama merasakan sesak nafas, saya harus menuliskan sesuatu. Dan terapi semacam itu memang berhasil buat saya. Susah bagi saya untuk bisa cerita ke orang lain, bahkan ke teman dekat saya sendiri, tentang hal-hal yang menyebabkan saya menjadi begitu berbeda pada suatu waktu. Lebih pendiam, menyendiri, membiarkan pikiran dan hati saya berdebat dan berkata-kata.

Patah hati itu manusiawi. Saya bisa bilang begini, karena saya sudah khatam tentang hal ini. Saya paham alurnya bagaimana. Endingnya bagaimana. Sehingga saya tau, bagaimana harus melewatinya tanpa menggantung leher saya di pohon asam dekat parkiran Gedung C 😀

Waktu memang obat paling mujarab yang menyembuhkan luka. Dan rasa tidak ingin menyerah kepada luka. Saya cenderung menikmati luka, karena terkadang luka membuat saya lebih produktif. Menjauh dari hal-hal yang membuat hati saya patah memang bukan solusi. Yang terpenting adalah, bagaimana saya justru harus menghadapi hal-hal yang membuat hati saya hancur. Sehingga, ketika masanya tiba, ketika semesta mempertemukan saya dengan seseorang yang membuat saya membekukan hati bertahun, saya akhirnya bisa menyapanya dengan baik, menampilkan wajah bahagia dan gestur baik-baik saja. Seolah ingin berteriak ditelinga kirinya, “See?? After all that stupid mistakes that I’ve done, I’m fine. All is well!!”

Jadi, tak ada salahnya ketika seseorang menggores hatimu begitu rupa, kau memakinya dalam hati. Bahkan meneriakkan sumpah serapah dihadapan satu-satunya foto yang tersisa, karena foto-fotonya yang lain sudah kau hapus dari memory hp dan kameramu. Tak ada salahnya menghindarinya, menolak menemuinya, mengabaikan telfon dan pesan singkatnya, meng-unfollow seluruh akun media sosialnya, mengembalikan seluruh barang pemberiannya, menagih hutangnya, mengembalikan seluruh uang yang dipakainya untuk mentraktirmu, atau memberikan satu bonus tamparan yang bisa diingatnya seumur hidupnya. Tak ada yang salah dengan itu. Tapi, setelah semua hal itu, kau harus tetap melanjutkan hidupmu. Jangan berhenti pada rasa sakitmu. Rasa sakit, luka, patah hati, hanya sebuah fase yang memang harus kau lewati, karena itu tertakdir padamu, hingga akhirnya kau akan melewati semua jalan yang pernah kau lewati dengannya, dengan senyum. Menandakan bahwa kau baik-baik saja, meski segala topan badai pernah menaungi hari-harimu.

Ah iya, satu lagi. Pesanku padamu. Kau boleh mendengarkan lagu-lagu patah hati yang semakin membuat lukamu seolah diiris, ditaburi garam dan disiram perasan jeruk lemon. Tapi batasi hanya satu minggu saja. Kau boleh berduka dengan segala lagu patah hati yang mewakili perihmu. Kau boleh berulang memutar lagu Love Me Like There’s No Tomorrow-nya Queen. Tak ada salahnya dengan menangisi patah hati, berduka cita. Tapi tetap kau harus memberikan tenggat waktu. Tak boleh berlama-lama. Berikutnya, kau harus memaksa hatimu untuk terbiasa menerima telinga yang mendengarkan lagu Maju Tak Gentar, untuk membuatmu meninggalkan segala perih dibelakang. Sebagai kenangan.

Penyimpan Kenangan – #NulisRandom2017

– Hari ke 3 – 

Sifat jelek manusia, termasuk saya, adalah penyimpan kenangan. Don’t blame me. I learned it from the master. Ayah saya. He is the master. Penyimpan kenangan paling jago.

Kita terbiasa menyimpan kenangan, yang baik atau buruk, pada bagian belakang otak. Menggalinya sesekali, ketika pada suta moment, mengingatkannya pada kenangan tersebut. Entah pada suatu tempat, lagu, gambar, bisa juga pada barang, atau bahkan makanan. Dan pada saya, aroma lebih sering membangkitkan kenangan yang lebih suka saya simpang jauh di belakang.

Almarhumah emak sudah 14 tahun pergi. Meninggalkan kami dengan segala kenangan yang ada. Sedih, tapi kami sudah melewatinya. Saya pikir, kami sudah melewatinya dengan baik. Sehingga saya lupa, bahwa ada seorang laki-laki yang bahkan hingga hari ini, tak pernah bisa berhenti melupakan emak begitu saja. Ayah saya. 14 tahun, bukan waktu yang singkat yang harus dihabiskan ayah seorang diri. Segala sesuatu dipikulnya sendiri. Tak pernah berbagi kepada kami, anak-anaknya.

Yang paling nyata terasa kami benar-benar kehilangan emak adalah ketika ayah sakit. 7 bulan lalu, ayah didiagnosis perinatal abses. Ada benjolan dibokongnya, yang tadinya kami sangka adalah bisul. Ternyata itu semacam daging tumbuh. Harus segera dibuang, karena setiap hari denyutnya makin terasa. Saya yang masih cuti melahirkan, mengantar ayah ke RS Swasta bersama Abang. Di IGD, dokter jaga langsung menyarankan rawat inap. Dan ketika dokter konsul datang visite, diputuskan bahwa ayah harus dioperasi keesokan harinya. Di ruang rawat, beberapa pasien lain yang juga menempati ruang rawat yang sama, beberapa kali bertanya, “Ibu mana, pak?” Rasanya, semacam ingin melompat dari lantai 11 RS. Dan kami harus menjelaskan dengan menyembunyikan rasa sakit. Itu kami. Bagaimana dengan ayah? Saya tau. He needs Emak that time. More than me. Tapi Ayah selalu berhasil menyembunyikannya.

Kenapa saya bilang, ayah adalah penyimpan kenangan yang paling jago ? Karena sampai hari ini, setiap kali ada temannya yang mengusulkan untuk menikah lagi dan mengenalkannya dengan perempuan lain, Ayah pasti menolak. Katanya, tak ada yang akan bisa menggantikan Almarhumah. Dan satu lagi, semua barang-barang yang pernah dibeli Emak, walaupun kondisinya sudah nggak layak pakai, nggak boleh dibuang. Tetap harus disimpan. Meskipun itu panci dan dandang yang sudah bocor. Kursi tamu yang sebagian lengannya sudah patah. Lemari yang rodanya sudah oleng. Koper. Segala barang peninggalan emak tak boleh dibuang. Apapun kondisinya. Pernah sekali waktu, kami diam-diam menurunkan beberapa panci dan dandang yang bocor. Untuk menghemat tempat penyimpanan, dengan membuang beberapa. Mendadak Ayah tau, lalu nanya, kenapa barang-barang itu dikeluarkan? Begitu tau rencananya akan dibuang, Ayah murka. “Biarkan aja panci-panci itu disitu. Kan nggak ganggu kalian. Jangan ada yang dibuang!” 😀

Jadi, sampai hari ini, rumah ini, rumah yang dibangun Ayah dari pondasi awal bersama Emak, masih menyimpan barang-barang Emak. Dan kenangan? Mereka berdua pasti punya begitu banyak kenangan yang disimpan Ayah hingga saat ini. Kenangan yang mungkin bisa terwakili dengan menatap barang-barang yang pernah disentuh Emak dulu.

Dan saya, saya juga penyimpan kenangan. Menyembunyikannya dengan baik dibelakang. Sesekali, ketika hidung saya mengendus beberapa aroma yang mengingatkan saya pada suatu waktu yang lampau, maka dengan kurang ajarnya, kenangan yang tadinya tersimpan, akan keluar begitu rupa. Tanpa ampun.

Hey, don’t blame me. I learned it from the master. Ayah saya.