Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Category Archives: Uncategorized

Fried Pete

Minggu malam, setelah menyelesaikan shift kerja, setelah belanja-belanja ala cewek bareng Dina, Kiki dan Fitri ketemu tuan muda saya. Nonton tv dan becandaan sampai lapar. Setengah 8 lebih kita keluar, cari makan. Perut udah mulai protes minta diisi.

Keliling-keliling cari tempat makan, akhirnya berhenti di satu warung yang memang tempat kita biasa makan.  Saya lagi pengen makan yang segar-segar. Akhirnya pilihan jatuh pada Sop iga dan lemon tea squash yang aseeemmm banget. Dan tuan muda dengan ayam bakar, lemon tea squash dan … pete goreng. What?? yup. Pete goreng.

pete goreng itu

Tak sampai setengah jam pesanan datang. Dan kita sempat ngakak lihat sepiring pete goreng. 7 potong yang tiap potongnya berisi 5 sampai 6 biji. Asli. Ini pete kebanyakan buat kita berdua. Dan pelayannya yang mengantar pesanan kita ketawa aja melihat pesanan aneh dari pasangan aneh ini. Mungkin baru kali ini ada orang pacaran yang makan pete berdua. 😀

Mencium aroma pete yang aduhai itu, membangkitkan selera makan kita. Dan tanpa gengsi, malu-malu atau jaim, berdua kita santap pete dengan aroma yang menggoda itu. Saya menghabiskan 1 potong dan tuan muda sisanya. Hahahaha… Akhirnya saya percaya, kenapa pelayan itu setiap melewati meja kita selalu senyum-senyum. Karena kita memang pasangan aneh 😀 Makan malam bareng pacar sambil menyantap sepiring pete goreng.

Menyantap dengan semangat

Dan memang, setelah makan semakin terasa aroma pete yang benar-benar aduhai itu. 😀

Orang-orang pintar yang tersingkirkan

Saya tak berminat dengan politik. Bukan pengamat politik. Tak peduli dengan politik. Bahkan (mungkin) sudah 5 kali pemilihan saya memilih GOLPUT. Buat saya, (meski dibantah oleh sebagian besar politikus) politik itu kotor. Politik hanya tentang kepentingan. Cuma kepentingan yang abadi di politik. Itu sebabnya, setelah selesai dari jabatan politik di kampus, saya lebih memilih bergabung di organisasi olahraga dan himpunan mahasiswa. Jauh dari hingar bingar perpolitikan kampus.

Tapi, belakangan ini saya mulai terusik dengan pemberitaan tentang Sri Mulyani. Menteri Keuangan Kabinet Indonesia Bersatu I – II yang prestasinya bisa dibandingkan dengan para wakil rakyat yang cuma rapat di gedung yang minta diganti dengan anggaran 1,8 T. Perempuan pintar, tangguh dan punya segudang prestasi itu, bukan cuma tersandung. Tapi juga didorong jatuh. Satu kesalahan fatal membuat seluruh prestasinya tak berarti dimata anggota DPR. Saya tak ingin membahas secara politis disini. Karena saya memang tak pernah mengerti politik dengan segala pernak perniknya. Yang saya tau, kalau lembaga internasional sebesar Bank Dunia memanggilnya, apalagi yang bisa kita ragukan tentang kompetensinya?

Sri Mulyani “dipaksa” untuk mundur sebelum masa jabatannya habis. Dan bukan hanya sekali ini “prestasi” DPR, menjatuhkan orang-orang yang masih layak untuk berbakti pada negeri ini. Masih ingat orang pintar yang lain, BJ Habibie yang lebih memilih menetap di Muenchen daripada terhina dan tersudut dinegerinya sendiri. Yang lain, banyak yang memilih menetap di negara lain seperti Prof. Nelson Tansu yang lebih memilih menjadi Professor di Lehigh, Amerika Serikat, dari pada pulang ke Indonesia. Siapapun juga tau, bagaimana jadi dosen di sini (dan saya seorang dosen di perguruan tinggi swasta). Kemudian, Ken Kawan Soetanto, yang berhasil meraih empat gelar doktor dalam disiplin ilmu yang berbeda dari empat universitas berbeda adalah kelahiran Surabaya yang memilih untuk menjadi kepala divisi di Universitas Waseda, Jepang. Mereka pasti punya alasan untuk menetap di luar negeri daripada kembali ke Indonesia.

Mestinya kita lebih menyadari hal itu. Bahwa, jika orang-orang pintar yang ada diluar negeri difasilitasi untuk kembali ke Indonesia, membangun Indonesia seperti Professor Yohanes Surya, yang memilih untuk memperbaiki pendidikan di Indonesia. Dan apakah beliau diikutsertakan dalam pemerintahan? Sepertinya tidak. Diberi penghargaan iya, tapi diajak untuk bertukar pikiran dan ide tentang bagaimana pendidikan Indonesia ke depan, sepertinya tidak.

Saya tak mengenal Sri Mulyani, dan siapalah saya yang berharap untuk dikenal Sri Mulyani. Bagaimanapun, beliau hanya manusia yang bisa berbuat salah. Tapi, sebandingkah kesalahannya untuk dihujat habis-habisan dengan prestasi yang sudah dia ukir, dan apa yang dilakukannya untuk Indonesia? Memang, sudah saatnya pemerintah, wakil rakyat, benar-benar mewakili rakyat. Bekerja hanya untuk kepentingan rakyat, bukan sekedar kepentingan golongan. Dan harus ingat, bahwa gedung yang mereka tempati, fasilitas yang mereka dan keluarga mereka nikmati, gaji yang mereka terima setiap bulannya adalah HASIL KERINGAT RAKYAT. Jadi, sudah sepantasnya mereka benar-benar bekerja untuk yang membayarnya. Yaitu rakyat.

Dan mulai sekarang, kita, seluruh aspek kehidupan bangsa benar-benar harus belajar menghargai hasil kerja orang lain. Bukan hanya sekedar bisa berkomentar, tapi juga membuktikan dengan kinerja yang paling tidak sama.  Sudah cukup mereka menyingkirkan orang-orang pintar yang masih berkompeten. Mau berapa orang pintar lagi yang “disingkirkan” dari negeri ini? Dan buatlah orang-orang pintar Indonesia yang berada diluar negeri untuk mau kembali lagi ke Indonesia.

Aarrgghhh….kalau orang-orang luar lebih menghargai prestasi orang-orang pintar kita, kenapa disini, di Indonesia tercintaku, menjatuhkan orang yang berada dipuncak adalah sebuah prestasi?? Mohon, rekan-rekan mahasiswa. Hentikan euforia kalian, sebelum segalanya menjadi lebih buruk.

1,8 Triliun untuk Gedung DPR yang katanya miring? TAK PERLU. Perbaiki kinerja kalian, wahai wakil rakyat yang tak pernah kupilih, baru kalian minta reward.

Nobody’s perfect

Saya bukan perempuan sempurna. Dan pastinya nggak akan pernah jadi sempurna. Buat sebagian dan mungkin kebanyakan orang, ada yang aneh dengan kami. Kenapa laki-laki seperti dia mau dengan perempuan seperti saya. Saya, bukan siapa-siapa. Dan mungkin tak akan bisa dibandingkan dengan mantan-mantannya yang pastinya secara fisik jauh lebih cantik dari saya.

Berkali saya pertanyakan ini. Apa yang saya punya, sehingga perjalanannya bisa sampai sejauh ini.  2 tahun lebih. Dan itu bukan perjalanan yang mulus, hingga hari ini. Saya dengan kelabilan yang saya punya, dengan logika yang terkadang bersembunyi entah kemana ketika saya harus berhadapan dengan kecemburuan yang tak bisa saya abaikan. Dan dia cuma akan tersenyum ketika ini lagi-lagi saya tanyakan. Cukup dengan senyum, satu remasan lembut ditangan dan akhirnya dia meyakinkan saya bahwa kami akan terus ada dijalan yang sama, insya Allah.

Buat saya, setelah segala yang terlewati. Kesalahan di pihak saya dan dia, bukan hal yang mudah untuk meneruskan kembali jalan yang membuat saya tertatih berkali-kali. Membuat hati saya patah berkali-kali. Tapi ya, saya jatuh cinta. Jatuh cinta memang tak selamanya membuat saya tersenyum, tapi saya ingin kami menjalaninya dengan senyum. Meski terkadang tak semua hal bisa kami sepakati dengan baik.

Ini mungkin hanya soal waktu. Dan semoga kali ini waktu juga membantu.

If You Give Me A Chance

Kemarin malam,saya baru saja download sebuah lagu bagus dari seorang pemusik indie, sepertinya calon musisi beken juga hehehe…. . Lagunya Elia Bintang – Give Me A Chance itu bikin saya melting, dan ketika membaca status seseorang di Facebook, saya langsung membuat satu status yang memang saya tujukan buat dia. ‘ if “you” give me a second chance, I will tell you that I love “you”, but we know that all my time has gone‘.

 

Dan surprise me, paginya ketika saya mengaktifkan akun FB saya di kantor, saya menemukan satu komentar dari “dia” yang memang saya tujukan status itu untuknya. ‘who’s that, can u spell it. Hi.hi..‘ Hahahahaa….pesan saya ternyata sampai ke dia dengan utuh, langsung tanpa perantara. Dia bisa membaca maksud saya dibalik status itu. Hehehehe… dan selanjutnya adalah berbalas-balasan komentar.

 

Errrr….jujur, saya hanya terbawa suasana mendengar lagu itu. Karena memang, jikapun kesempatan itu datang, jikapun saya bisa mengatakan itu kepada dia, tetap tak akan ada yang terjadi. Dia sudah menikah. Sudah punya keluarga dengan 2 anak. Dan saya, sudah punya tuan muda. Jadi, ini memang hanya terbawa suasana.

 

Mungkin akan berbeda halnya jika dia masih sendiri. Saya mungkin masih akan mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan hal itu. Tapi, waktu saya sudah habis. Saya pernah mengenalnya dulu, ketika saya beranjak remaja. Ketika cinta pertama malah menghadirkan patah hati.

 

The second chance itu tak pernah akan saya dapati. Saya menemukan dia kembali setelah semuanya begitu terlambat. Jadi, jika kalian punya kesempatan untuk mengatakan itu sekarang, please, let the one you love know it. Tell what you want to say, sebelum semuanya menjadi begitu terlambat seperti saya.

 

Tapi saya tak menyesali semuanya. Tidak sedikitpun. Tidak juga kalimat yang saya ketik di status FB saya ketika saya mendengarkan Give Me A Chance-nya Elia Bintang yang memang melelehkan hati saya itu.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!