Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Tag Archives: kelabu

Selamat Tinggal Masa Lalu – #NulisRandom2017

– Hari ke 4 –Β 

Selamat tinggal masa lalu
Selamat datang lembar baru
Selamat datang cinta lalu
Selamat datang cinta baru

Patah hati nggak mengenakkan kan ya? Sakit, tapi nggak tau apa yang sakit. Cuma, kadang kalau menarik nafas, suka sesak. Anehnya, meski rasa sakit itu nyata, tapi susah dideskripsikan. Yang bisa diingat cuma rasa perih, setiap kali hal-hal yang menyebabkan patahnya hati itu, melintas dengan kurang ajarnya, bahkan tanpa sengaja.

Setiap mahluk yang pernah merasakan patah hati, entah karena putus cinta, entah karena apa yang diidamkan harus dilepas begitu saja, atau bisa juga karena kehilangan. Dan saya pernah merasakan ketiga hal tersebut. Terlihat sebagai master of patah hati, ya saya πŸ˜€

Anyway, kalau dulu, setiap kali merasakan patah hati, pelarian saya adalah dengan menulis. Menumpahkan segala hal yang membuat sesak. Medianya bisa apa saja. Agenda saya, kertas kosong, buku cataran kuliah, apa saja. Yang jelas, kalau saya nggak mau berlama-lama merasakan sesak nafas, saya harus menuliskan sesuatu. Dan terapi semacam itu memang berhasil buat saya. Susah bagi saya untuk bisa cerita ke orang lain, bahkan ke teman dekat saya sendiri, tentang hal-hal yang menyebabkan saya menjadi begitu berbeda pada suatu waktu. Lebih pendiam, menyendiri, membiarkan pikiran dan hati saya berdebat dan berkata-kata.

Patah hati itu manusiawi. Saya bisa bilang begini, karena saya sudah khatam tentang hal ini. Saya paham alurnya bagaimana. Endingnya bagaimana. Sehingga saya tau, bagaimana harus melewatinya tanpa menggantung leher saya di pohon asam dekat parkiran Gedung C πŸ˜€

Waktu memang obat paling mujarab yang menyembuhkan luka. Dan rasa tidak ingin menyerah kepada luka. Saya cenderung menikmati luka, karena terkadang luka membuat saya lebih produktif. Menjauh dari hal-hal yang membuat hati saya patah memang bukan solusi. Yang terpenting adalah, bagaimana saya justru harus menghadapi hal-hal yang membuat hati saya hancur. Sehingga, ketika masanya tiba, ketika semesta mempertemukan saya dengan seseorang yang membuat saya membekukan hati bertahun, saya akhirnya bisa menyapanya dengan baik, menampilkan wajah bahagia dan gestur baik-baik saja. Seolah ingin berteriak ditelinga kirinya, “See?? After all that stupid mistakes that I’ve done, I’m fine. All is well!!”

Jadi, tak ada salahnya ketika seseorang menggores hatimu begitu rupa, kau memakinya dalam hati. Bahkan meneriakkan sumpah serapah dihadapan satu-satunya foto yang tersisa, karena foto-fotonya yang lain sudah kau hapus dari memory hp dan kameramu. Tak ada salahnya menghindarinya, menolak menemuinya, mengabaikan telfon dan pesan singkatnya, meng-unfollow seluruh akun media sosialnya, mengembalikan seluruh barang pemberiannya, menagih hutangnya, mengembalikan seluruh uang yang dipakainya untuk mentraktirmu, atau memberikan satu bonus tamparan yang bisa diingatnya seumur hidupnya. Tak ada yang salah dengan itu. Tapi, setelah semua hal itu, kau harus tetap melanjutkan hidupmu. Jangan berhenti pada rasa sakitmu. Rasa sakit, luka, patah hati, hanya sebuah fase yang memang harus kau lewati, karena itu tertakdir padamu, hingga akhirnya kau akan melewati semua jalan yang pernah kau lewati dengannya, dengan senyum. Menandakan bahwa kau baik-baik saja, meski segala topan badai pernah menaungi hari-harimu.

Ah iya, satu lagi. Pesanku padamu. Kau boleh mendengarkan lagu-lagu patah hati yang semakin membuat lukamu seolah diiris, ditaburi garam dan disiram perasan jeruk lemon. Tapi batasi hanya satu minggu saja. Kau boleh berduka dengan segala lagu patah hati yang mewakili perihmu. Kau boleh berulang memutar lagu Love Me Like There’s No Tomorrow-nya Queen. Tak ada salahnya dengan menangisi patah hati, berduka cita. Tapi tetap kau harus memberikan tenggat waktu. Tak boleh berlama-lama. Berikutnya, kau harus memaksa hatimu untuk terbiasa menerima telinga yang mendengarkan lagu Maju Tak Gentar, untuk membuatmu meninggalkan segala perih dibelakang. Sebagai kenangan.

So Close

Sekedar ingin menyendiri. Mempertanyakan lagi semua hal yang sudah diputuskan pada malam. Disela-sela lagu The Carpenters – Close To You, masih tetap tak bisa menjernihkan pikir. Bukankah ini yang pernah aku begitu ingin? Bukankan seperti ini yang pernah begitu dituntut? Ketika semua akan menuju ke sana, kenapa justru meragu? Akankah ini akan menjadi baik pada saatnya?

Entahlah, seandainya aku bisa mengintip sedikit saja takdirku, pasti resah akan segera berlalu pergi. Tapi tak fair mengintip takdir. Tidak dengan cara apapun. Aku hanya diperbolehkan menjalaninya, mengubah alurnya jika aku sanggup. Tapi mengintip takdir, aku tak akan diijinkan. Tapi, jika sekarang semua jadi serba membingungkan, aku tak bisa berpikir jernih.

Cuma bisa menunggu sekarang. Akankah kata akan sejalan dengan perbuatan, atau semua kisah akan selesai hingga disini. Ending.

Pedih

Meski masih bisa tertawa ketika dikeramaian, aku tau bahwa hatiku yang perih menangis didalamnya. Setiap kali mengingat dia, selalu saja melelehkan airmata. Aku tak suka ini. Betapa cinta menjadikan aku cengeng. Setiap kali aku melihat ke belakang, bayang masa lalu mentertawakanku. Betapa jauhnya perubahan yang telah dilakukan seorang dia padaku. Menangis karena cinta? Dulu akulah orang yang akan tertawa paling keras ketika ada teman yang mengadu tentang perjalanan cintanya yang tersandung dan membuatnya jatuh. Tapi kali ini, aku yang menggelepar menahan sakit dan akhirnya aku mengerti mengapa mereka tersedu ketika itu. Maka, tertawakanlah aku, karena aku tak peduli. karena aku hanya ingin dia….

Dan pengakuan itu meluncur juga padanya. Bahwa aku merindukannya. Tapi kami sudah tau, bahwa lebih baik memang seperti ini dulu. Jika memang Tuhan menuliskan takdir kami bersama, berada dijalan yang sama, bersisian, bergandeng tangan menuju tujuan yang sama, maka kami akan bersama. Tapi saat ini, kita nikmati saja dulu, setiap perih yang mendera dan menyiksa hati kita. Klise jika ada yang bilang cinta tak harus memiliki, tapi inilah yang terjadi sekarang.

Aku menangis lagi hari ini. Memukul tembok lagi. Tersayat perih lagi. Ingin berhenti sebenarnya. Tapi tetap, ingatan yang sering kali melayang padanya membuatku luruh. Begitu pedih kali ini sakit yang terasa. Mengalirkan darah dan airmata lebih banyak. Begitu membekas, tertoreh diatas luka lama. Aku tau tuan muda, bahwa kau juga merasakan perih yang sama. Tapi tak ada yang bisa kita lakukan. Jika kita kembali bersama, kita tetap akan stuck, tak akan kemana-mana dan itu akan membuat sakit yang jauh lebih terasa dari sekarang.

Kau, aku, kita pasti akan bertemu, suatu saat nanti, entah dimanapun. Itu yang kau bilang. Aku mengaminkannya dalam hati. Semoga kali ini Tuhan mendengar pinta hati yang sedang meradang perih.

Pilihan Yang (tak tau apakah) Tepat…

Do her choose the right one?
Itu yang muncul dibenakku ketika seorang kawan menghubungi dari jauh disela curhatnya tentang pacarnya yang akan menikah dengan laki-laki lain yang baru dikenalnya 2 bulan. What the..?? Dan aku tertawa ketika dia mengabarkan berita itu. Satu kata aja yang terucap dari mulutku, “ISDL!” Hah?? Apa itu? “Itu Sih Derita Lo!!” hehehehehe…..

Kenapa justru aku bilang seperti itu, bukannya menghibur? Lah, hiburan macam apa yang harus aku berikan pada laki-laki yang udah mengkhianati calon istrinya 2 kali dengan perempuan yang berbeda. Dan perempuan yang terakhir malah berakhir dengan tidur siang bareng. Waktu itu (menurut cerita pacarnya, yang juga adalah kawanku), pembicaraan sudah tentang kemungkinan mereka akan menikah, tapi dia bisa aja gitu, ketemu dengan mantan pacar yang berkunjung ke kotanya, melepas kangen dengan makan siang bareng dan berakhir di kamar hotel. Aku masih ingat mata bengkak Ayu yang datang padaku suatu sore dan cerita tentang kelakuan pacarnya.

Beberapa minggu yang lalu, aku sempat ketemu lagi dengan Ayu. Dan pada saat itu dia sempat bilang, “Wir, kalau kau nanti dengar kabar kalau aku akan menikah dan bukan dengan dia, aku tau kau pasti akan anggap aku jahat.” Aku terdiam waktu dia bilang gitu. Tapi langsung aku jawab, “Setiap orang melakukan sesuatu, itu pasti punya alasan tertentu. Begitu juga denganmu. Apapun yang akan kau lakukan, pasti punya alasan yang tepat untuk itu.” Aku bilang seperti ini bukan karena mau menghibur. Jujur, aku bukan orang yang bisa menghibur kesusahan orang lain, tak bisa berbasa basi, lebih suka to the point (mungkin itu sebabnya bisa dibilang kawan perempuanku tak terlalu banyak, karena mungkin sering sakit hati dengan kata-kataku yang pedas πŸ˜€ ).

Dan memang, alasan dia memutuskan untuk meninggalkan pacarnya dan menikah dengan orang lain, adalah karena walaupun dia memaafkan tapi sama sekali tak bisa melupakan apa yang sudah dilakukan pacarnya. Dua kali dikhianati, siapa yang bisa lupa hal semenyakitkan itu?

Tapi, apakah dengan memilih orang lain, itu artinya dia juga sudah melakukan keputusan yang tepat. Apakah pilihannya sudah benar. Apakah dia benar-benar bertemu dengan the right one? Entahlah. Cuma Tuhan yang tau. Yang jelas dia sudah memilih. Dan Insya Allah, setelah Lebaran nanti mereka akan menikah. Aku cuma mengharapkan yang terbaik untuk kawanku. Semoga dia berbahagia, apapun dan siapapun pilihannya.

Dan untuk mantan pacarnya yang juga kawanku, waktu dulu aku maki-maki karena udah bikin pacarnya sebegitu terluka dan berdarah, dia sempat bilang (membela diri tepatnya), “Ya maklum to yo bu, orang buaya di kasi bangkai mana ada yang nolak!” dan jawaban itu akhirnya sekarang aku kembalikan lagi padanya, “Jadi, kau makanlah bangkai itu!!”

Berapa kali aku bilang, “pada akhirnya takdirlah yang menentukan segalanya”. Semua perbuatan kita, semua hal yang pernah kita lakukan, cepat atau lambat akan berbalik lagi pada kita. Dan seperti inilah dunia ini, ada yang mendapatkan sesuatu, tapi pada saat yang sama juga ada yang kehilangan sesuatu. Karena, memang hal inilah yang membuat hidup selalu pantas untuk dirayakan.

Sebuah Pertemuan Oleh Waktu

Waktu merupakan sesuatu yang nyata didunia. Abstrak, tetapi nyata. tak ada penjelasan lebih jauh soal ini. Hanya saja, tak ada suatu benda yang bisa mendeskripsikan bentuk nyata waktu. Tapi, tak ada juga yang bisa mengatakan bahwa waktu adalah sesuatu yang abstrak. tapi kita melewatinya selalu. Ah, saya juga tak bisa menjelaskan lebih soal ini.

Yang saya tahu, bahwa terkadang waktu merupakan sahabat bagi seseorang, tapi tak jarang waktu juga seolah menjelma momok yang tak ingin dilewati. Tapi, banyak yang mengakui bahwa waktu adalah penyembuh yang paling ampuh diantara segala obat yang bisa ditawarkan para dokter di Indonesia yang hanya sedikit menularkan pengabdiannya.

Dua anak manusia yang juga terpisah oleh waktu, akhirnya bertemu kembali pada suatu kesempatan yang diberikan Tuhan pada makhluknya. Tak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua sesuai dengan kehendak Tuhan. bahkan, seorang Don Clericuzio – tokoh rekaan Mario Puzo – juga mengakui itu. Dan memang, mereka tak hendak mempermasalahkan ini. Hanya saja, setelah sepuluh tahun, sesuatu yang berhenti diharapkan perempuan itu akhirnya terjadi juga. Banyak syukur dan puji yang terlontar ketika dia melihat sosok tinggi laki-laki itu, yang pernah dengan amat penuh mengisi hatinya. Ketika pertama kali dia merasakan sebuah cinta menyelusup di hati kanak-kanaknya. ketika seragam putih biru masih membalut tubuh kecil mereka. Sebuah kenangan manis, yang juga menoreh sebuah luka yang akhirnya berkarat hingga saat ini.

Mereka bukan lagi kanak-kanak. Tak lagi ribut didalam kelas yang berhadapan dengan lapangan upacara. Tak lagi berlari riang mengelilingi tiga kolam ikan kecil yang berisi puluhan ikan mas yang sesekali menyembulkan kepala mereka.Tak lagi berlari mengelilingi lapangan basket ketika jam pelajaran tiba. Tak lagi merasa takut ketika sebuah bola voli yang mereka mainkan memecahkan kaca jendela perpustakaan. Ah, kenangan yang manis. Sangat manis. Jika ada mesin waktu, jika memang ada, ingin dia kembali pada masa itu. Masa ketika tak ada beban yang menggayuti pundak, seperti sekarang. Masa ketika bersama merajut mimpi dan harapan akan masa depan.

Pertemuan yang sebenarnya tak pernah diduga perempuan itu. tapi, jauh dilubuk hatinya yang paling dalam, sebuah pengharapan sempat meletup akan pertemuan ini. Dengan laki-laki yang entah kenapa, bahkan setelah tiga belas tahun berlalu masih tetap bercokol manja disalah satu ruang rindunya. Masih menyimpan sebuah rasa manis sekaligus perih ketika ingatan itu melayang diakhir waktunya mengenakan seragam putih biru itu. Ah cinta, memang tak mengenal batas usia. Dan laki-laki tinggi berkulit coklat itu, ternyata jauh dilubuk hatinya juga merasakan sebuah penyesalan yang teramat akan luka yang sempat ditorehkannya tiga belas tahun yang lalu. Sebuah penyesalan yang tak sempat terucap, bahkan ketika mereka sempat bertemu sepuluh tahun yang lalu. Betapa, selama ini, meski waktu memisahkan mereka dengan sangat, rasa bersalah itu tak jua hilang. Malah mengubahnya menjadi sebuah cinta, yang takut untuk diikrarkan.

Memandang perempuan itu, diantara teman-teman mereka ketika masih berjibaku di sebuah sekolah tingkat pertama swasta itu, menghadirkan sebuah getar yang tiba-tiba hadir dan menghajar jantungnya, merusak sistem kerja jantung yang biasanya hanya berdetak ringan. Tapi tidak kali ini. Melihat senyum perempuan itu, membuatnya terpaku. Ada sesuatu yang ingin keluar dan melompat dari hatinya. Arrgghhh…jerit hatinya tak kuasa menghalau rasa itu.

Perempuan itu seolah menangkap sinyal. Kepalanya menoleh ke arah pemberi sinyal. Dan, ada percakapan yang hanya dimengerti oleh hati mereka. Kendati hanya senyum yang tercipta dari kedua bibir mereka. Kinerja jantung mereka tak lagi normal. Ketidakteraturan itu memberikan sebuah kenikmatan yang hanya bisa dirasakan oleh mereka sedang ditemani cupid dengan sepasang sayap sambil menggenggam anak panah yang kini terarah pada mereka. Riuh suara tawa seolah berada dikejauhan ketika laki-laki itu perlahan mendekat. Tergantikan oleh debar jantung mereka yang saling berlomba berdetak. Masih tak ada kata terucap, hanya rasa yang kemudian menyala dari mata mereka sudah cukup untuk mewakili perasaan mereka.
“apa kabar kamu?”
“baik. senang bisa ketemu lagi”
lalu senyum menghias ketika tangan berjabat.

Kemudian, pertemuan ini menjadi sebuah awal. Mestinya, ini terjadi tiga belas tahun yang lalu. Tapi, Tuhan memang menjadikan segalanya begitu indah tepat pada waktunya. Ini adalah rahasiaNYA yang tak dibagi pada mahluknya. Jadi, ini bukan sebuah keterlambatan. Tak ada yang terlambat pada soalan mereka. Justru, kini mereka beruntung dipertemukan pada saat yang tepat. Meski memang, sebuah pengakuan belum muncul. tapi, itu cukup untuk mengkomunikasikan hati mereka, bahwa kali ini mereka sedang berada disebuah jalan yang sama.

Seorang teman sempat bertanya pada perempuan.
“kalian pacaran?” dia menggeleng sebagai jawabannya. tersenyum
“lalu? kalian begitu dekat?” sebuah gedikkan bahu menjawab.
“aneh! bingung jadinya”
“aku juga. tapi, aku yakin bahwa Tuhan sayang pada orang yang sabar.” lalu tersenyum, menutup percakapan itu.

Pada sebuah senja yang luruh memasuki malam mereka kembali bertemu.
“sudah dua minggu tak bertemu” mata laki-laki itu seolah ingin menumpahkan rindunya.
“iya. kamu baik-baik kan?”
“yup, hari minggu kemarin kemana? aku telfon kok gak aktif?” sebuah cappucino menggantung diudara dalam genggaman tangan kokohnya.
“Ooh… itu. minggu lalu pergi nonton ke bioskop.” suara riang terdengar. ada desir halus yang meninggalkan perih begitu terasa di hati laki-laki itu.
“oh ya, sama siapa?” perlahan dia bertanya, berusaha menyembunyikan perihnya.
“Sama Nirwan.” perempuan masih tersenyum, lalu menceritakan film yang ditontonnya.
“berdua aja?” kali ini dia mengharapkan jawaban yang berbeda, tapi yang terlihat adalah anggukan lembut dari perempuan yang masih tersenyum riang.tapi senyum langsung menguap dari wajah laki-laki itu. tanpa sepatah kata dia meninggalkan perempuan itu dengan cappucino dan lemon tea.
Perempuan menatap nanar dengan otak yang dipenuhi kebingungan. Ada apa ini??? Apa saya salah ucap, pikirnya galau. Apa ini???

Sebuah kesalahan yang tak diketahuinya kembali memporakporandakan hatinya. lagi. oleh orang yang sama. Tapi kali ini, dia yakin. bahwa jika memang laki-laki itu adalah pemilik tulang rusuknya, Tuhan akan mengembalikannya lagi padanya, dengan cara yang sangat istimewa. Tapi sementara itu, perempuan merasakan bahwa dunianya berputar dengan sangat lambat. Amat sangat lambat. Ada yang hilang dalam hari-harinya. Tapi tak bisa ditemukannya dimanapun. Laki-laki itu seolah hilang. Jikapun bertemu, dia memalingkan wajahnya. tak ingin menemuinya lagi. hatinya sakit. Dia perempuan, yang meskipun wajahnya menunjukkan ketegaran, hati tak bisa menipu. Sakit yang dirasanya jauh lebih perih dari yang pertama. Atau dari patah hatinya yang lalu. Hatinya seolah tercecah, terburai, dan dia tak ingin menyatukannya lagi. Hanya laki-laki itu, atau dia akan membiarkan hatinya hancur.

Lagi, seorang teman bertanya.
“kalian kenapa?” perempuan hanya menggeleng lemah. tapi sebuah soalan yang menjadi percikan api itu terucap juga. disertai kebingungan yang sangat. Apa yang sedang dialami hatinya lagi?
“sepertinya dia cemburu.” perempuan menggeleng.
“aku nggak tau. dia tak pernah bilang tentang perasaannya.” sebuah tikaman tak yang kasat mata kembali menghujam jantungnya.

Dunia masih berputar sangat lambat. dia ingin keluar dari ini semua. Dia ingin kembali menemukan hari-harinya ketika sebelum mereka bertemu. Tapi cinta, telah menghajar hatinya sedemikian rupa. Perempuan tak ingin menyalahkan cinta, apalagi Tuhan. Buatnya ini hanya sebuah episode panjang dalam perjalanan cintanya. Dia toh sudah pernah mengalami ini. Tak akan begitu sulit jika dia mau melipatgandakan usahanya. Waktu. Sebuah penyembuh yang sangat ampuh. Dan dia percaya itu.

Seorang teman menariknya keluar dari kubangan patah hatinya.
“hari ini ada acara di kafe anu. kamu harus ikut.” dia hanya mengangguk pasrah. dia memang harus tetap bersosialisasi. tak boleh mengisolasi dirinya. jadi, disinilah mereka. disebuah kafe yang mengalunkan suara merdu James Blunt.
“kamu pesan apa?”, temannya bertanya.
“cappucino”, disekelilingnya temannya terperangah heran. bukannya dia tak suka kopi? bukannya seharusnya dia memesan lemon tea? tapi pertanyaan itu hanya berupa bisikan diantara mereka. dan dia tak peduli. dia hanya berharap, inilah minuman yang akhirnya bisa membuatnya rela untuk melepas laki-laki itu dan menyerahkan takdir cintanya pada Tuhan.
“aku ke toilet sebentar” kemudian dia beranjak.
tak lama kemudian dia kembali. tapi, tak melihat sebuah cangkir cappucino seperti pesanannya, tapi segelas lemon tea, lengkap dengan irisan jeruk lemon dibibir gelas.
“hey, aku tadi pesan cappucino, kenapa malah diambil!” protesnya pada teman disebelah kursinya. dan spontan, temannya menoleh. tapi, itu adalah DIA. LAKI-LAKI ITU. membuka topi temannya dan tersenyum manis.
“duduk sini”, pintanya sambil menepuk kursi disebelahnya. kursi yang tadi dia duduki. seperti dihipnotis dia menghampiri kursi itu. masih dengan menatap laki-laki itu dengan perasaan yang bercampur aduk.
“Cappucino-nya buatku aja, ya. kamu udah aku pesankan lemon tea. tak apa kan?”, dia hanya bisa menggeleng.
“aku, ah…”, laki-laki itu dilanda kebingungan ingin memulainya dari mana. perempuan masih menunggu. diantara teman-temannya yang berpura-pura menyibukkan diri.
“aku…minta maaf. aku udah berbuat paling bodoh yang pernah dilakukan manusia. aku benar-benar minta maaf”, keluar juga penyesalan itu. dan perempuan hanya memandangnya dengan hati yang berkecamuk. bahagia, lega, perih yang berangsur hilang, semuanya…
“kamu akan memaafkan aku kan?”, tanya laki-laki itu lagi. dia mengangguk. tak terasa sebutir air dari matanya mengalir perlahan tanpa sempat ditahannya. dan membuat temannya berucap heran.
“heran, sepertinya kamu jadi cengeng sekarang”, dan tawa terdengar melihat pemandangan bahagia itu. dia menatap temannya bingung.
“cengeng? aku?”, dia meraba pipinya. dan sebuah isakan meluncur pelan dari bibirnya.Β  dia menyadari bahwa dia menangis sekarang. lalu cepat mengaduk-aduk isi tasnya.
“aah…mana sih sapu tanganku…”, serunya sambil mengaduk-aduk isi tasnya mencari sapu tangannya, dan menutup rasa malunya dihadapan teman-temannya. Tapi, satu tangan kokoh berkulit coklat merengkuh bahunya.
“sini”, dan sebuah pelukan hangat menaungi pundaknya, tubuhnya. sebuah usapan lembut menyentuh kepalanya. dan isakannya berubah menjadi tangis.
“maaf…maaf…maaf…maaf”, hanya itu yang bisa diucapkannya. sebuah anggukan terasa pada dadanya yang bidang. dan perasaan sayang yang sempat tersimpan lama itu membuncah.
“aku…”, kembali keraguan menyergap laki-laki.
“sayang kamu!”, akhirnya keraguan itu lenyap seiring dengan rengkuhan pada pundak itu menguat. memberikan ketenangan pada hatinya yang sempat terombang ambing selama bertahun-tahun. karena satu nama itu terpatri begitu kuat pada hatinya. pada jantungnya. pada aliran darahnya. pada detak nadinya.
“kamu akan ikut aku kan?”, tanyanya. menatap perempuan yang dari matanya terpancar kebahagiaan yang tak terlukiskan.
“aku akan ikut kamu, kalau kita memang searah”, dan perempuan menangis lagi. bahagia kini. kembali rengkuhan lembut tangan kokoh menaungi pundaknya. kali ini dalam kebahagiaan.

Tuhan selalu punya cara untuk mempertemukan sepasang kekasih. Mempertemukan pemilik tulang rusuk dengan perempuan yang menyangga tubuhnya dengan rusuknya. Dan waktu, selalu punya andil dalam hal ini. Waktu, sesuatu yang abstrak, tetapi begitu nyata.

untukmu,
yang pernah mengenalkan cinta (sekaligus patah hati pada saat yang sama) untuk pertama kali,
– dimanapun kamu berada