Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Tag Archives: memory

Penyimpan Kenangan – #NulisRandom2017

– Hari ke 3 – 

Sifat jelek manusia, termasuk saya, adalah penyimpan kenangan. Don’t blame me. I learned it from the master. Ayah saya. He is the master. Penyimpan kenangan paling jago.

Kita terbiasa menyimpan kenangan, yang baik atau buruk, pada bagian belakang otak. Menggalinya sesekali, ketika pada suta moment, mengingatkannya pada kenangan tersebut. Entah pada suatu tempat, lagu, gambar, bisa juga pada barang, atau bahkan makanan. Dan pada saya, aroma lebih sering membangkitkan kenangan yang lebih suka saya simpang jauh di belakang.

Almarhumah emak sudah 14 tahun pergi. Meninggalkan kami dengan segala kenangan yang ada. Sedih, tapi kami sudah melewatinya. Saya pikir, kami sudah melewatinya dengan baik. Sehingga saya lupa, bahwa ada seorang laki-laki yang bahkan hingga hari ini, tak pernah bisa berhenti melupakan emak begitu saja. Ayah saya. 14 tahun, bukan waktu yang singkat yang harus dihabiskan ayah seorang diri. Segala sesuatu dipikulnya sendiri. Tak pernah berbagi kepada kami, anak-anaknya.

Yang paling nyata terasa kami benar-benar kehilangan emak adalah ketika ayah sakit. 7 bulan lalu, ayah didiagnosis perinatal abses. Ada benjolan dibokongnya, yang tadinya kami sangka adalah bisul. Ternyata itu semacam daging tumbuh. Harus segera dibuang, karena setiap hari denyutnya makin terasa. Saya yang masih cuti melahirkan, mengantar ayah ke RS Swasta bersama Abang. Di IGD, dokter jaga langsung menyarankan rawat inap. Dan ketika dokter konsul datang visite, diputuskan bahwa ayah harus dioperasi keesokan harinya. Di ruang rawat, beberapa pasien lain yang juga menempati ruang rawat yang sama, beberapa kali bertanya, “Ibu mana, pak?” Rasanya, semacam ingin melompat dari lantai 11 RS. Dan kami harus menjelaskan dengan menyembunyikan rasa sakit. Itu kami. Bagaimana dengan ayah? Saya tau. He needs Emak that time. More than me. Tapi Ayah selalu berhasil menyembunyikannya.

Kenapa saya bilang, ayah adalah penyimpan kenangan yang paling jago ? Karena sampai hari ini, setiap kali ada temannya yang mengusulkan untuk menikah lagi dan mengenalkannya dengan perempuan lain, Ayah pasti menolak. Katanya, tak ada yang akan bisa menggantikan Almarhumah. Dan satu lagi, semua barang-barang yang pernah dibeli Emak, walaupun kondisinya sudah nggak layak pakai, nggak boleh dibuang. Tetap harus disimpan. Meskipun itu panci dan dandang yang sudah bocor. Kursi tamu yang sebagian lengannya sudah patah. Lemari yang rodanya sudah oleng. Koper. Segala barang peninggalan emak tak boleh dibuang. Apapun kondisinya. Pernah sekali waktu, kami diam-diam menurunkan beberapa panci dan dandang yang bocor. Untuk menghemat tempat penyimpanan, dengan membuang beberapa. Mendadak Ayah tau, lalu nanya, kenapa barang-barang itu dikeluarkan? Begitu tau rencananya akan dibuang, Ayah murka. “Biarkan aja panci-panci itu disitu. Kan nggak ganggu kalian. Jangan ada yang dibuang!” 😀

Jadi, sampai hari ini, rumah ini, rumah yang dibangun Ayah dari pondasi awal bersama Emak, masih menyimpan barang-barang Emak. Dan kenangan? Mereka berdua pasti punya begitu banyak kenangan yang disimpan Ayah hingga saat ini. Kenangan yang mungkin bisa terwakili dengan menatap barang-barang yang pernah disentuh Emak dulu.

Dan saya, saya juga penyimpan kenangan. Menyembunyikannya dengan baik dibelakang. Sesekali, ketika hidung saya mengendus beberapa aroma yang mengingatkan saya pada suatu waktu yang lampau, maka dengan kurang ajarnya, kenangan yang tadinya tersimpan, akan keluar begitu rupa. Tanpa ampun.

Hey, don’t blame me. I learned it from the master. Ayah saya.

 

Iklan

Menjual Kenangan

Kemarin, notifikasi Line saya menyampaikan pesan mengejutkan. Ada Apa Dengan Cinta 2014. Hah??!? Itu film udah 12 taun yang lalu kan? Itu film rilis tahun 2002, waktu saya masih semester 3. Artinya sekarang saya udah tua hehehehe… Film AADC waktu itu jadi booming karena awal taun 2000-an waktu itu adalah awal kebangkitan lagi film Indonesia yang sebelumnya cuma diisi film-film nggak mutu yang cuma ngandalin paha sama dada aktrisnya. Lalu kemudian muncullah film-film lain, sampai sekarang. Mendapatkan tiket film AADC waktu itu penuh perjuangan. Bioskop-bioskop dulu juga nggak kayak sekarang. Kalo dulu, kita mesti saingan sama calo tiket, yang dulu mestinya harga selembar tiket cuma 10000, bisa jadi 25000 kalo belinya dari calo. Sekarang sih, nggak perlu ada calo, karena beli tiket juga udah bisa online kan. Nah, balik lagi ke 12 tahun yang lalu. Ketika saya dan kawan-kawan sekelas di kampus sepakat untuk nonton film yang pertama kali diputar di Medan. Bukan gampang, mesti desak-desakan, eh udah gitu sampe depan loket ternyata tiket udah abis, bahkan sampai 2 jam pemutaran film berikutnya. Gila kan calo-calo itu. Dan calo-calo itu juga nggak berhenti di hari pertama, tapi juga hari-hari berikutnya. Akhirnya, berhasil juga nonton film itu setelah beberapa hari film akan habis masa putarnya. Dan sekarang, setelah 12  tahun berlalu, sebuah notifikasi dari sebuah media sosial mengantarkan segala kenangan pada saat itu. Ketika masa muda masih tersandang angkuh dibahu saya. Mini Drama Ada Apa Dengan Cinta 2014. Lengkap dengan pemain utamanya, Cinta (Dian Sastro), Rangga (Nicholas Saputra), Carmen (Adinia Wirasti), Milly (Sissy Priscilia), Alya (Ladya Cherryl) dan Maura (Titi Kamal). Pastinya, semua sudah tumbuh menjadi lelaki dan perempuan dewasa dengan kehidupan yang jauh berbeda dari ketika mereka masih SMA. Marketing LINE ini memang pinter. Kenapa saya bilang menjual kenangan ? Berapa banyak orang yang begitu ingin kembali pada kenangan? Pada cinta pertama? Banyak kan? Tapi, selain mesin waktu memang belum terbukti ada, apa lagi yang bisa mengembalikan kita pada masa lalu, kecuali kenangan? Dan sepertinya itu yang memang ingin dijual Line. Perpisahan Cinta dan Rangga di bandara, yang walaupun ada lanjutannya dengan dibuatnya sebuah sinetron tetap nggak bisa menjawab rasa penasaran penggemar film AADC. Setelah 12 tahun berlalu, berkat sebuah aplikasi pada LINE, akhirnya Rangga menemukan Cinta. Dan berkat Line pula, segala kenangan tentang Cinta dan Rangga berkelebat di benak masing-masing. Tentang perpisahan yang sudah 12 tahun berlalu. Kalo saya bilang, selama 2 hari ini demam AADC berhasil melanda hampir seluruh media sosial yang saya punya akunnya. Semua angkatan tua kayak saya :D, yang waktu itu masih esempe, esema dan yang kuliah (kayak saya, iya iya, saya emang udah tua!!) yang pernah begitu menikmati film ini dan penasaran dengan cerita Rangga-Cinta, pasti akan merasakan nostalgia, kenangan dan reuni yang sama dengan AADC 2014 ini. Ide penjualan seperti ini seharusnya pun ditiru oleh perusahaan lain. Supaya iklan nggak melulu tentang menjual produk. Tapi, iklan tentang menjual kenangan seperti ini, pasti akan berhasil. Line sudah membuktikannya. Salute!!