Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Tag Archives: perempuan

Tentang Buku – #NulisRandom2017

– Hari ke 5 –

Book is my first love. Dari kecil, dari mulai bisa baca, saya sudah suka buku. Dulu, setiap hari Kamis sore, Ayah saya selalu membawa pulang Bobo edisi terbaru. Dari situlah saya kenalan dengan Paman Gembul dan Husin, Paman Kikuk, Keluarga Bobo, Ratu Bidadari dan keluarga kerajaan. Dan yang paling saya sukai dan sampai sekarang masih nempel di kepala adalah adalah Kisah Pak Janggut dan Buntelan Ajaib. Dulu, sebelum saya kenal Doraemon, saya pengen punya buntelan ajaib kayak punya Pak Janggut, yang bisa mengeluarkan apa saja, ketika kita membutuhkan sesuatu.

Sekarang, hobi baca saya menular ke Wawa, ponakan saya. Kalau saya lihat buku dengan judul yang bagus, langsung beli, buat Wawa. Belakangan, Wawa sering saya aja ke Gramedia, untuk milih sendiri judul yang dia mau baca. Dan mentoknya ke KKPK (Kecil-Kecil Punya Karya). Sekarang, Wawa udah SMP kelas 1, jadi KKPK sepertinya akan saya stop. Tapi saya bingung, bacaan yang bagus buat anak SMP itu apa? Masak teenlit. Belum waktunya dia baca. Saya kasih bukunya Stephen Hawking, udah bolak balik dibaca. Kisah orang-orang hebat juga udah. Negeri 5 Menara juga sudah selesai dibacanya. Akhirnya, saya menseleksi beberapa buku yang saya punya untuk dia bisa baca. Salah satunya adalah The Lord Of The Ring.

Bulan lalu, ketika libur UN, saya ajak Wawa ke Gramedia yang baru buka di Plaza Millenium. Banyak obral buku murah dengan judul bagus disana. Saya suruh dia hunting sendiri. Setelah keliling-keliling, akhirnya dia nemu satu buku klasik luar biasa. Terjemahan The Wizard of Oz. Saya lihat buku itu, serasa lihat harta karun. Tanpa basa-basi langsung saya suruh Wawa ambil buku untuk dibayar ke kasir.

The Wizard of Oz

Benar saja, sampai rumah, bungkus plastik langsung dibuka, dan dia sudah asik berkenalan dengan Dorothy, penyihir dan para munchkin.

Jujur, diusianya yang nanggung itu, mencari buku bacaan untuk Wawa memang nggak gampang. Mentok-mentoknya ya di KKPK. Atau serial petualangan. Atau buku-bukunya Enyd Blyton. Selebihnya teenlit, yang didalamnya selalu membahas tentang cinta-cintaan.

Pengen juga sesekali beli buku yang memang konsumsi untuk anak SMP tanpa cerita cinta-cintaan antara laki-laki dan perempuan. Tapi, mungkin menulis dengan tema itu agak sulit kali ya. Itu sebabnya, saya juga belum bisa nulis dengan tema tersebut. Pengennya sih, saya bisa punya ide untuk nulis cerita yang bisa dikonsumsi anak SMP, tanpa cerita cinta-cintaan, dan sebagus KKPK. Semoga.

 

Selamat Tinggal Masa Lalu – #NulisRandom2017

– Hari ke 4 – 

Selamat tinggal masa lalu
Selamat datang lembar baru
Selamat datang cinta lalu
Selamat datang cinta baru

Patah hati nggak mengenakkan kan ya? Sakit, tapi nggak tau apa yang sakit. Cuma, kadang kalau menarik nafas, suka sesak. Anehnya, meski rasa sakit itu nyata, tapi susah dideskripsikan. Yang bisa diingat cuma rasa perih, setiap kali hal-hal yang menyebabkan patahnya hati itu, melintas dengan kurang ajarnya, bahkan tanpa sengaja.

Setiap mahluk yang pernah merasakan patah hati, entah karena putus cinta, entah karena apa yang diidamkan harus dilepas begitu saja, atau bisa juga karena kehilangan. Dan saya pernah merasakan ketiga hal tersebut. Terlihat sebagai master of patah hati, ya saya 😀

Anyway, kalau dulu, setiap kali merasakan patah hati, pelarian saya adalah dengan menulis. Menumpahkan segala hal yang membuat sesak. Medianya bisa apa saja. Agenda saya, kertas kosong, buku cataran kuliah, apa saja. Yang jelas, kalau saya nggak mau berlama-lama merasakan sesak nafas, saya harus menuliskan sesuatu. Dan terapi semacam itu memang berhasil buat saya. Susah bagi saya untuk bisa cerita ke orang lain, bahkan ke teman dekat saya sendiri, tentang hal-hal yang menyebabkan saya menjadi begitu berbeda pada suatu waktu. Lebih pendiam, menyendiri, membiarkan pikiran dan hati saya berdebat dan berkata-kata.

Patah hati itu manusiawi. Saya bisa bilang begini, karena saya sudah khatam tentang hal ini. Saya paham alurnya bagaimana. Endingnya bagaimana. Sehingga saya tau, bagaimana harus melewatinya tanpa menggantung leher saya di pohon asam dekat parkiran Gedung C 😀

Waktu memang obat paling mujarab yang menyembuhkan luka. Dan rasa tidak ingin menyerah kepada luka. Saya cenderung menikmati luka, karena terkadang luka membuat saya lebih produktif. Menjauh dari hal-hal yang membuat hati saya patah memang bukan solusi. Yang terpenting adalah, bagaimana saya justru harus menghadapi hal-hal yang membuat hati saya hancur. Sehingga, ketika masanya tiba, ketika semesta mempertemukan saya dengan seseorang yang membuat saya membekukan hati bertahun, saya akhirnya bisa menyapanya dengan baik, menampilkan wajah bahagia dan gestur baik-baik saja. Seolah ingin berteriak ditelinga kirinya, “See?? After all that stupid mistakes that I’ve done, I’m fine. All is well!!”

Jadi, tak ada salahnya ketika seseorang menggores hatimu begitu rupa, kau memakinya dalam hati. Bahkan meneriakkan sumpah serapah dihadapan satu-satunya foto yang tersisa, karena foto-fotonya yang lain sudah kau hapus dari memory hp dan kameramu. Tak ada salahnya menghindarinya, menolak menemuinya, mengabaikan telfon dan pesan singkatnya, meng-unfollow seluruh akun media sosialnya, mengembalikan seluruh barang pemberiannya, menagih hutangnya, mengembalikan seluruh uang yang dipakainya untuk mentraktirmu, atau memberikan satu bonus tamparan yang bisa diingatnya seumur hidupnya. Tak ada yang salah dengan itu. Tapi, setelah semua hal itu, kau harus tetap melanjutkan hidupmu. Jangan berhenti pada rasa sakitmu. Rasa sakit, luka, patah hati, hanya sebuah fase yang memang harus kau lewati, karena itu tertakdir padamu, hingga akhirnya kau akan melewati semua jalan yang pernah kau lewati dengannya, dengan senyum. Menandakan bahwa kau baik-baik saja, meski segala topan badai pernah menaungi hari-harimu.

Ah iya, satu lagi. Pesanku padamu. Kau boleh mendengarkan lagu-lagu patah hati yang semakin membuat lukamu seolah diiris, ditaburi garam dan disiram perasan jeruk lemon. Tapi batasi hanya satu minggu saja. Kau boleh berduka dengan segala lagu patah hati yang mewakili perihmu. Kau boleh berulang memutar lagu Love Me Like There’s No Tomorrow-nya Queen. Tak ada salahnya dengan menangisi patah hati, berduka cita. Tapi tetap kau harus memberikan tenggat waktu. Tak boleh berlama-lama. Berikutnya, kau harus memaksa hatimu untuk terbiasa menerima telinga yang mendengarkan lagu Maju Tak Gentar, untuk membuatmu meninggalkan segala perih dibelakang. Sebagai kenangan.

Tantangan #NulisRandom2017

– Hari ke 1 – 

#NulisRandom2017

Dua hari yang lalu, saya melihat pengumuman dari akun @nulisbuku mengenai tantangan untuk #nulisrandom2017 di bulan Juni ini. Setiap hari. Tak ada tema khusus. Setiap orang yang ingin ikut tantangan ini, hanya diwajibkan menulis setiap hari. Mengenai apa saja. Yang dibutuhkan hanya membaca. Itu saja. Untuk apa? Supaya kita bisa menuliskan hasil pengamatan dari apa yang dibaca. Anggap saja semacam riset sebelum dilakukan penulisan 😀

Tantangan menulis dulu juga pernah saya lakoni. Bersama kawan-kawan dari nulis buku club dan ngerumpi dot com. Mereka membuat tema berbeda setiap hari. Dan yang ikut tantangan tinggal menulis sesuai dengan tema yang sudah ditentukan. Tak hanya itu, sesekali juga dibuat tantangan mengenai menulis duet, bahkan estafet. Yang ini jelas lebih seru. Karena, yang menentukan tema dan alur cerita yang akan ditulis lebih dari satu kepala. Saya yang biasanya menulis tunggal, jadi lebih tertantang ketika ikut dalam menulis duet atau estafette. Yang jelas, alur cerita akan lebih kata, karena setiap orang punya imajinasi yang berbeda-beda. Meski terkadang, tak seluruh tantangan bisa saya selesaikan dengan baik. Lagi-lagi waktu yang harus saya salahkan, padahal lebih sering karena kemalasan sendiri dan kehabisan ide.

Tapi kali ini, saya memantapkan diri untuk bisa menyelesaikan tantangan ini, apapun yang terjadi. Memang benar, menulis itu tak mudah. Karena dibutuhkan selain ide untuk bisa merangkai kata menjadi satu tulisan yang monarki. Bagaimana membuat tulisan yang dibaca orang lain dengan utuh, sampai selesai. Bukannya tulisan yang hanya dibaca satu dua paragraf, kemudian di skip. Satu-satunya cara avalan dengan berlatih setiap hari. Belakangan, waktu saya memang tersita antara anak-anak, kerjaan rumah, kerjaan kantor, mengajar dan menyiapkan bahan ajar. Sehingga ketika sampai rumah, yang dibutuhkan adalah istirahat sebentar untuk kemudian menghabiskan waktu dengan anak-anak. Menjelang tengah malam, jelas sudah tepar. Tubuh saya sudah nggak bisa diajak begadang seperti waktu masih lajang dulu. Umur memang nggak bisa bohong 😀

Bismillah. Semoga saya bisa istiqomah. Menyelesaikan tantangan dari hari pertama, sampai hari ketigapuluh nanti. Sehingga blog yang sudah lama kosong ini, bisa diisi lagi dengan tulisan sebagai bahan latihan untuk saya.

Yuk, yang mau ikutan, mari kita mulai lagi!!!

Semangat!!!

Tentang Jembatan

Years ago,
Seminggu sekali kampus selalu membentangkan spanduk yang berisi quotes yang menyemangati. Spanduk itu membentang disebelah kanan pintu masuk. Setiap kali, siapapun yang masuk kampus, terlebih dahulu akan melihat spanduk tersebut.
Suatu waktu, sekitar 2004 atau 2005 atau 2006, sebuah spanduk quote menampar jidat saya dengan keras. Isinya, “Manusia kesepian karena membangun dinding, ketimbang jembatan“.  Bertahun berikutnya, saya baru tau, bahwa quote tersebut berasal dari Joseph Fort Newton. Saat itu saya, manusia individualis, introvert yang aneh, hanya mempunyai beberapa teman dekat. Itupun, tak seluruh cerita hidup saya tumpahkan ke mereka. Hanya sebagian kecil. Sebagian besar lainnya, saya simpan dihati, hingga membatu. Dan, saya pengikut setia Don Clericuzio pada waktu itu. Semakin membangun tembok di sekeliling saya. Begitu tinggi, sampai saya sendiri pun susah untuk sekedar melongok keluar.
Waktu itu, saya pun bukan kurang pergaulan. Saya termasuk giat beraktifitas di kampus. Jadi panitia acara ini itu. Jadi pengurus organisasi ini itu. Dan pernah demo juga. Jadi, bukan menutup diri sama sekali. Hanya, susah menempatkan cerita hidup saya pada orang lain. Itu saja.
Tapi mereka, memahami bahwa saya memang bukan jenis orang yang gampang membuka diri begitu saja. Selalu ada beberapa tahapan yang membuat saya akhirnya berhasil menumpahkan isi  hati (meski tak seluruhnya) kepada mereka. Hingga saat ini. Proses tersebut pun masih tetap berlaku. Ada yang menghilang sama sekali, ada yang tetap tinggal. Mereka yang tinggal berjauhan dari saya, tetap bisa saya titipkan cerita-cerita hidup saya ketika kami bertemu kemudian. Mereka yang sedang bersisian waktu saat ini, meski memiliki begitu banyak alasan untuk beranjak, tetap memilih untuk tinggal.
Perihal membangun jembatan ini memang tak mudah. Melewati beberapa proses meruntuhkan dinding, membangun dinding, meruntuhkan jembatan, membangun jembatan. Saya harus belajar lebih keras lagi untuk meneguhkan hati, bahwa apapun yang terjadi, saya tak akan meruntuhkan jembatan yang terakhir saya bangun. Bahwa proses untuk belajar percaya memang tak mudah, tapi juga tak terlalu sulit. Yang dibutuhkan hanya, mempersiapkan hati, untuk menerima kekecewaan dengan ikhlas.
Terima kasih, kalian.
Yang masih tinggal disini.
Dalam lingkar waktuku. Bersisian.
Mengingatkan ketika aku salah. Mendukung, apapun pilihan itu.
Bertahan menghadapi segala keanehanku.
Berjalan bolak balik melintasi jembatan rapuh yang kubangun dengan sekuat hati.
Terima kasih,
Kawan.

Tentang Hari Ulang Lahir

Postingan ini tentu saja telat. Postingan yang terlambat. Karena hari ulang tahun saya terlewat beberapa hari. Tapi, lebih baik telat dari pada tidak sama sekali, bukan ? Bukaannnn!!!

Akhirnya saya menyentuh angka itu juga. 30 something, yang akhirnya dipertegas juga dengan rambut perak yang mulai menunjukkan eksistensinya helai demi helai. Rambut perak yang nggak saya cabut kalau nggak mengganggu sama sekali (baca : gatal).

Bersyukur atas limpahan rahmat dan berkah umur yang Allah berikan kepada saya. Berharap segala langkah yang akan saya jalani akan membawa kepada kebaikan dan kebahagiaan, bersama Yash dan ayahnya, Insya Allah.

Beberapa hari sebelum hari lahir saya datang, ayahnya Yash bertanya, “Mau dibeliin apa buat ulang tahun nanti?” Saya cuma jawab dengan senyum. Boro boro dibeliin kado, dari pacaran sampe ulang tahun kemaren, kelewatan terus. Malah pernah salah tanggal 😀 Makanya saya nggak berharap banyak dari ayahnya Yash.

Tapi, beberapa hari kemudian, tepat jam 00:00, waktu saya masih download materi kuliah, si ayah masuk, mengucapkan selamat ulang tahun, sambil cium ubun-ubun saya. Untungnya kemaren itu saya abis keramas. What a big surprise ini sih 😀 Pertama kalinya ini dalam sejarah kami, tepat waktu; tanggal dan jamnya.

Ah, nikmat apalagi yang hendak saya dustakan ? Apa yang harus saya keluhkan dari hidup saya yang luar biasa ini? Dikarunia begitu banyak kebaikan dan kebaikan. Maka, seharusnya saya meluangkan waktu lebih banyak untuk mensyukuri hidup, bukan mengeluhkannya.

Mengutip kalimat yang saya post di salah satu media sosial saya, “tentang 30 sekian ini, yang bikin saya menerima dengan iklas rambut putih yang mulai menampakkan diri. Sadar bahwa dalam bilangan angka, jarak saya dengan masa muda selangkah lebih jauh sekarang. Tapi, buat saya, kemudaan tak hanya terletak pada angka, tetapi juga pada jiwa dan pikiran. Tua itu pasti, sedangkan dewasa adalah pilihan. Maka, saya memilih untuk belajar menjadi dewasa menghadapi segala yang ada didepan. Belajar dewasa menghadapi Yash yang juga bertumbuh besar. Belajar dewasa untuk selalu mendampingi suami tercinta”.