Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Tag Archives: weird

Selamat Tinggal Masa Lalu – #NulisRandom2017

– Hari ke 4 – 

Selamat tinggal masa lalu
Selamat datang lembar baru
Selamat datang cinta lalu
Selamat datang cinta baru

Patah hati nggak mengenakkan kan ya? Sakit, tapi nggak tau apa yang sakit. Cuma, kadang kalau menarik nafas, suka sesak. Anehnya, meski rasa sakit itu nyata, tapi susah dideskripsikan. Yang bisa diingat cuma rasa perih, setiap kali hal-hal yang menyebabkan patahnya hati itu, melintas dengan kurang ajarnya, bahkan tanpa sengaja.

Setiap mahluk yang pernah merasakan patah hati, entah karena putus cinta, entah karena apa yang diidamkan harus dilepas begitu saja, atau bisa juga karena kehilangan. Dan saya pernah merasakan ketiga hal tersebut. Terlihat sebagai master of patah hati, ya saya 😀

Anyway, kalau dulu, setiap kali merasakan patah hati, pelarian saya adalah dengan menulis. Menumpahkan segala hal yang membuat sesak. Medianya bisa apa saja. Agenda saya, kertas kosong, buku cataran kuliah, apa saja. Yang jelas, kalau saya nggak mau berlama-lama merasakan sesak nafas, saya harus menuliskan sesuatu. Dan terapi semacam itu memang berhasil buat saya. Susah bagi saya untuk bisa cerita ke orang lain, bahkan ke teman dekat saya sendiri, tentang hal-hal yang menyebabkan saya menjadi begitu berbeda pada suatu waktu. Lebih pendiam, menyendiri, membiarkan pikiran dan hati saya berdebat dan berkata-kata.

Patah hati itu manusiawi. Saya bisa bilang begini, karena saya sudah khatam tentang hal ini. Saya paham alurnya bagaimana. Endingnya bagaimana. Sehingga saya tau, bagaimana harus melewatinya tanpa menggantung leher saya di pohon asam dekat parkiran Gedung C 😀

Waktu memang obat paling mujarab yang menyembuhkan luka. Dan rasa tidak ingin menyerah kepada luka. Saya cenderung menikmati luka, karena terkadang luka membuat saya lebih produktif. Menjauh dari hal-hal yang membuat hati saya patah memang bukan solusi. Yang terpenting adalah, bagaimana saya justru harus menghadapi hal-hal yang membuat hati saya hancur. Sehingga, ketika masanya tiba, ketika semesta mempertemukan saya dengan seseorang yang membuat saya membekukan hati bertahun, saya akhirnya bisa menyapanya dengan baik, menampilkan wajah bahagia dan gestur baik-baik saja. Seolah ingin berteriak ditelinga kirinya, “See?? After all that stupid mistakes that I’ve done, I’m fine. All is well!!”

Jadi, tak ada salahnya ketika seseorang menggores hatimu begitu rupa, kau memakinya dalam hati. Bahkan meneriakkan sumpah serapah dihadapan satu-satunya foto yang tersisa, karena foto-fotonya yang lain sudah kau hapus dari memory hp dan kameramu. Tak ada salahnya menghindarinya, menolak menemuinya, mengabaikan telfon dan pesan singkatnya, meng-unfollow seluruh akun media sosialnya, mengembalikan seluruh barang pemberiannya, menagih hutangnya, mengembalikan seluruh uang yang dipakainya untuk mentraktirmu, atau memberikan satu bonus tamparan yang bisa diingatnya seumur hidupnya. Tak ada yang salah dengan itu. Tapi, setelah semua hal itu, kau harus tetap melanjutkan hidupmu. Jangan berhenti pada rasa sakitmu. Rasa sakit, luka, patah hati, hanya sebuah fase yang memang harus kau lewati, karena itu tertakdir padamu, hingga akhirnya kau akan melewati semua jalan yang pernah kau lewati dengannya, dengan senyum. Menandakan bahwa kau baik-baik saja, meski segala topan badai pernah menaungi hari-harimu.

Ah iya, satu lagi. Pesanku padamu. Kau boleh mendengarkan lagu-lagu patah hati yang semakin membuat lukamu seolah diiris, ditaburi garam dan disiram perasan jeruk lemon. Tapi batasi hanya satu minggu saja. Kau boleh berduka dengan segala lagu patah hati yang mewakili perihmu. Kau boleh berulang memutar lagu Love Me Like There’s No Tomorrow-nya Queen. Tak ada salahnya dengan menangisi patah hati, berduka cita. Tapi tetap kau harus memberikan tenggat waktu. Tak boleh berlama-lama. Berikutnya, kau harus memaksa hatimu untuk terbiasa menerima telinga yang mendengarkan lagu Maju Tak Gentar, untuk membuatmu meninggalkan segala perih dibelakang. Sebagai kenangan.

Tentang Jembatan

Years ago,
Seminggu sekali kampus selalu membentangkan spanduk yang berisi quotes yang menyemangati. Spanduk itu membentang disebelah kanan pintu masuk. Setiap kali, siapapun yang masuk kampus, terlebih dahulu akan melihat spanduk tersebut.
Suatu waktu, sekitar 2004 atau 2005 atau 2006, sebuah spanduk quote menampar jidat saya dengan keras. Isinya, “Manusia kesepian karena membangun dinding, ketimbang jembatan“.  Bertahun berikutnya, saya baru tau, bahwa quote tersebut berasal dari Joseph Fort Newton. Saat itu saya, manusia individualis, introvert yang aneh, hanya mempunyai beberapa teman dekat. Itupun, tak seluruh cerita hidup saya tumpahkan ke mereka. Hanya sebagian kecil. Sebagian besar lainnya, saya simpan dihati, hingga membatu. Dan, saya pengikut setia Don Clericuzio pada waktu itu. Semakin membangun tembok di sekeliling saya. Begitu tinggi, sampai saya sendiri pun susah untuk sekedar melongok keluar.
Waktu itu, saya pun bukan kurang pergaulan. Saya termasuk giat beraktifitas di kampus. Jadi panitia acara ini itu. Jadi pengurus organisasi ini itu. Dan pernah demo juga. Jadi, bukan menutup diri sama sekali. Hanya, susah menempatkan cerita hidup saya pada orang lain. Itu saja.
Tapi mereka, memahami bahwa saya memang bukan jenis orang yang gampang membuka diri begitu saja. Selalu ada beberapa tahapan yang membuat saya akhirnya berhasil menumpahkan isi  hati (meski tak seluruhnya) kepada mereka. Hingga saat ini. Proses tersebut pun masih tetap berlaku. Ada yang menghilang sama sekali, ada yang tetap tinggal. Mereka yang tinggal berjauhan dari saya, tetap bisa saya titipkan cerita-cerita hidup saya ketika kami bertemu kemudian. Mereka yang sedang bersisian waktu saat ini, meski memiliki begitu banyak alasan untuk beranjak, tetap memilih untuk tinggal.
Perihal membangun jembatan ini memang tak mudah. Melewati beberapa proses meruntuhkan dinding, membangun dinding, meruntuhkan jembatan, membangun jembatan. Saya harus belajar lebih keras lagi untuk meneguhkan hati, bahwa apapun yang terjadi, saya tak akan meruntuhkan jembatan yang terakhir saya bangun. Bahwa proses untuk belajar percaya memang tak mudah, tapi juga tak terlalu sulit. Yang dibutuhkan hanya, mempersiapkan hati, untuk menerima kekecewaan dengan ikhlas.
Terima kasih, kalian.
Yang masih tinggal disini.
Dalam lingkar waktuku. Bersisian.
Mengingatkan ketika aku salah. Mendukung, apapun pilihan itu.
Bertahan menghadapi segala keanehanku.
Berjalan bolak balik melintasi jembatan rapuh yang kubangun dengan sekuat hati.
Terima kasih,
Kawan.

Tentang Penampilan

Ada yang masih ingat tentang cerita Alm Bob Sadino yang disangka tukang sampah oleh calon pegawainya sendiri? Dan itu terjadi hanya karena Alm. Bob Sadino sedang memunguti sampah dengan pakaian yang sederhana. Kalau masih belum tau, bisa baca ceritanya disini.

Tapi, mungkin memang, sampai menjelang berakhirnya tahun 2015 ini, penampilan masih menjadi faktor utama ketika kita menilai seseorang.

Bukan begitu?

 

Terima Kasih, Pemilik Semesta!

 Alhamdulillah.

Hanya itu yang bisa terucapkan ketika hari ini saya melewati 1 angka lagi. Segala syukur terucap lagi, untuk segala nikmat tak terhingga yang telah Allah curahkan disepanjang kehidupan. Betapa beruntungnya saya, diciptakan sebagai seorang Wirda. Yang telah melewati begitu banyak hal, jatuh, bangkit, jatuh lagi, dan kemudian bangkit lagi, segala kesakitan dan kebahagiaan telah terlewati. Tak ada yang sempurna, tapi saya berbahagia dengan apa yang telah terlewati.

Menyentuh angka yang sekarang ini, 32, tak begitu menakutkan. Toh sebelumnya saya sudah melewati angka keramat itu dengan baik dan benar. Maka, angka-angka selanjutnya hanyalah sekedar angka. Age doesn’t matter. Yang penting adalah, apa yang seharusnya saya lakukan untuk mengisi segala angka yang akan terlewati insya Allah.

Saya mungkin bukan ahli dalam mengatasi rasa sakit, perih, sedih, tapi Allah telah mendampingi saya untuk melewati hal-hal yang sempat membuat saya begitu terpuruk. Begitu banyak pandangan sebelah mata yang tertuju pada saya, dari sejak saya mulai berani bermimpi, hingga sekarang. Tapi toh, saya hanya perlu membuktikannya. Maka, itu yang sekarang harus saya lakukan. Menggambar mimpi dengan baik, dan mewujudkannya. Insya Allah.

Langkah saya tak ingin terhenti sampai disini. Saya masih ingin melangkah lebih jauh lagi. Mengitari dunia, membuktikan bahwa bumi memang bulat, menjejakkan kaki diberbagai tempat. Begitu banyak ingin yang saya raih. Begitu banyak mimpi yang saya tulis. Berusaha dan berdoa, semoga Allah mengabulkan segala pinta. Semoga Allah meridhoi segala langkah.

 

He who has a why to live can bear almost any how ~ Friedrich Nietzsche

I’m ( not just ) what I wear

 Saya bukan orang yang punya style bagus dalam berpakaian. Style saya sangat standard. Begitu juga untuk pakaian kerja. Celana bahan atau jeans dan kemeja atau kaos. Sesekali pakai blazer kalau akan menemui klien atau batik ketika Jum’at tiba. Selalu seperti itu. Maka, manakala ketika saya iseng ingin tampil beda, dengan celana bahan dan kemeja panjang hampir selutut, lalu kemudian ada komentar miring, mau tak mau itu membuat saya down.

Oh, come on. Ini kantor yang tak mengharuskan karyawannya menggunakan seragam. Tidak seperti karyawan yang memang seruangan dengan kami tapi berbeda instansi. Sebagai pihak ketiga di instansi tersebut, mau tak mau kami harus menerima bergabung di satu ruangan dengan mereka. Selama 2 tahun ini toh tak pernah ada masalah, karena kami menjaga batas wilayah masing-masing.

Lalu, ketika komentar dan candaan itu akhirnya semakin berkembang sehingga membuat mereka seperti pengamat mode jempolan, mau tak mau saya jengah juga. Mereka toh tau, kalau dalam hal style saya memang ketinggalan jauh. Saya tak pandai bergaya seperti mereka yang pede dengan gamis, atau baju dengan warna cerah dan berbagai mode. Dengan celak tebal dan wajah warna warni. Saya punya style sendiri yang membuat saya merasa nyaman mengenakan pakaian dan style yang sama setiap hari. Jika sesekali saya ingin tampil beda, masih dengan cara saya sendiri, seharusnya cukup berkomentar, tak lantas menjadi pengamat mode. Mengkoreksi apa yang harus saya pakai, apa yang harus saya lakukan dengan jilbab saya, atau apa yang harus saya lakukan dengan kemeja atau kets saya. This is me. I wear what I want to wear and I feel comfort in it. Seharusnya dia menghormati apa yang saya kenakan, bukan mencela seperti itu.

Mahluk nyinyir memang ada di mana saja. Orang-orang yang selalu merasa lebih tau dan lebih baik dari orang lain. Tapi, itu tak membuat saya berhenti mengenakan apa yang saya sukai. Terserah orang menilai tampilan saya seperti apa. Itu hak mereka. Karena saya juga punya hak untuk mengabaikannya.